Pak Jokowi iki aneh-aneh ae. Di tengah kontestasi Pilpres yang kian hari makin ugal-ugalan, beliau seolah melakukan tindakan ceroboh. Jokowi memberi remisi pelaku pembunuhan jurnalis—yang bahkan sempat mengungkap kasus korupsi.

Tindakan ini jelas mencederai, menyakiti, dan membuat perih segenap insan pers. Bayangin, terdakwa yang semestinya dihukum seumur hidup, hukumannya didiskon jadi hanya 20 tahun. Ckckck!

Hal ini jelas mendapat respon peda segenap insan pers di seluruh Indonesia. Seperti aksi serentak pada Jumat (25/1) lalu. Memprotes remisi pada otak kasus pembunuhan AA Gede Bagus Narendra, jurnalis Radar Bali, yang dianggap kurang pantas.

Jokowi yang saat ini masih ditunggu untuk menanggapi kecemasan publik, malah belum merespons—“tanya menkumham saja,” ujarnya. Padahal, remisi ini jelas tertuang pada Keputusan Presiden no. 29/2018 yang diteken sendiri oleh Jokowi.

Keppres itu sih sejatinya berisi pemberian remisi, dari pidana penjara seumur hidup jadi pidana penjara sementara. Susrama, sebagai otak dibalik pembunuh jurnalis ini, seharusnya nggak dapat potongan remisi seabrek gitu, dong!

Yoyok Raharyo, wartawan Radar Bali yang pernah dipimpin oleh AA Gede Bagus Narendra Prabangsa, sempat berbincang pada saya soal kasus ini. Kasus ini, kata Yoyok, dipicu berita yang ditulis Prabangsa pada 2009 lalu, berjudul ‘Kejaksaan Bidik Nyoman Susrama dalam Kasus DAK’.

Pembunuhannya terencana dan dilakukan dengan cara yang sangat kejam. Hanya karena mengungkap berita korupsi saja, saya tidak percaya redaktur saya bisa meninggal dengan cara seperti itu.

“Pada kasus itu, memang tidak ada media lain yang mengusutnya. Bukannya merendahkan wartawan lain, tapi karena memang Bangli (tempat terjadinya kasus, red.) merupakan kabupaten kecil dan wartawannya sedikit.”

“Almarhum yang jadi redaktur saya, langsung turun ke Bangli karena memang belum ada wartawan Radar Bali di sana. Selain itu, ini karena almarhum adalah putra asli Bangli,” ujar Yoyok yang sekarang ini jadi sekretaris AJI Denpasar ini.

Tapi setelah menulis berita korupsi itu, Prabangsa menghilang selama dua hari tanpa kabar.

“Istrinya yang pertama kali memberi kabar. Beliau datang ke kantor karena suaminya tidak pulang dan tidak bisa ditelpon,” ujar Yoyok.

Waktu itu, Radar Bali langsung meminta semua elemen masyarakat terkait, untuk memeriksa semua informasi.

“Kami juga berkoordinasi dengan kepolisian dan jejaring media lain untuk mencarinya. Wartawan lapangan se-Bali kami suruh mencari berita orang meninggal pada hari-hari itu. Bahkan juga sampai ke paranormal,”

“Tapi tepat enam hari berikutnya, wartawan kami di Karangasem melaporkan penemuan mayat, yang diduga Prabangsa. Prabangsa akhirnya memang pulang, tapi dalam keadaan meninggal dengan amat tragis,” tambah Yoyok.

Selanjutnya kata Yoyok, kasus kematian itu langsung dilimpahkan pada Kejaksaan Tinggi Bali. Penyelidikannya pun sangat lama. Dibutuhkan waktu tiga bulan bagi Kejaksaan Tinggi Bali, untuk mengusut tuntas kasus ini.

Saat visum, hasil yang didapat sangat mengejutkan. Ditemukan banyak bekas penganiayaan benda keras, yang dilakukan sebelum Prabangsa bertemu ajal. Pada paru-parunya, bahkan ditemukan pasir.

“Pembunuhan itu bukanlah pembunuhan biasa. Pembunuhannya terencana dan dilakukan dengan cara yang sangat kejam. Hanya karena mengungkap berita korupsi saja, saya tidak percaya redaktur saya bisa meninggal dengan cara seperti itu,” pungkas Yoyok.

***

Memberikan remisi kepada pembunuh jurnalis sejatinya memang menyakiti hati insan pers. Jurnalis yang seringkali bersusah payah mengungkap kebenaran, malah seringkali mendapat ancaman kekerasan.

Pemberian remisi ini, bisa jadi merupakan rangkaian perpanjangan barisan budaya kekerasan di negeri ini. Dan ini tidak bisa dibenarkan. Selain Yoyok, saya juga menemui Miftah Faridl, Ketua AJI Surabaya, meminta pendapatnya soal kasus ini.

Miftah menjelaskan, pemberian remisi kepada Susrama ini memunculkan stigma bahwasannya tidak ada efek jera bagi pelaku tindak kekerasan kepada wartawan.

Menurutnya, wartawan akan selalu menjadi korban dalam menjalankan tugasnya untuk mengungkap kebenaran.

“Pemberian remisi kepada pembunuh Prabangsa, bukan sekadar persoalan administratif, tapi harus dilihat siapa yang membunuh, siapa yang dibunuh, dan apa penyebab pembunuhan itu,” tambahnya.

Catatan AJI menyebutkan, hingga saat ini, masih ada delapan kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia. Yang berhasil diusut tuntas, hanya kasus Prabangsa.

Kamu tentunya tahu, dari kasus Udin sampai Ridwan Salamun—jurnalis yang diduga dibunuh—sampai saat ini belum menemu titik terang.

“Kasus pembunuhan Prabangsa ini seharusnya jadi momentum penanganan kekerasan terhadap jurnalis. Sebab banyaknya penanganan kasus kekerasan terhadap jurnalis, tidak tuntas di pengadilan.”

“Eh, ini baru ada yang tuntas malah diampuni,” ungkap Faridl dengan mimik menyesal.