SIAPAKAH yang jadi pemenang Pilpres 2019 masih terlalu jauh untuk bisa diprediksi. Semua sigi  menunjukkan bahwa pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin memang masih jadi front runner. Namun, dinamika belakangan ini menunjukkan bahwa pasangan petahana harus bekerja keras jika tidak ingin disalip lawannya, Prabowo-Sandiaga Uno. 

Perlahan tapi pasti telah terjadi perubahan strategi. Memanfaatkan kelebihan yang memang bisa ofensif (dalam konteks pemilukada, hukumnya memang seperti itu. Petahana biasanya defensif dan lebih santun untuk mempertahankan keunggulan, sementara penantang bersifat ofensif untuk menggenjot elektabilitas), kubu Prabowo-Sandi melakukan sejumlah perubahan strategi. 

Tak Lagi Menggunakan Isu Agama sebagai Senjata Utama

Isu agama memang masih digunakan, tapi kadarnya sudah sangat berbeda. Isu tersebut senantiasa dipelihara, tapi hanya dilakukan dalam kadar secukupnya. Yakni, menjaga suara. Salah satu yang menjadi korban dari perubahan itu adalah Habib Rizieq. 

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut kini menjadi tak punya nilai tawar apa-apa ke Prabowo-Sandi. Gejala itu sudah terlihat ketika Prabowo dan Gerindra, pemimpin koalisi oposisi Jokowi, tak menjadikan fatwa yang dikeluarkan Habib Rizieq dan Ijtima’ Ulama. Yakni, menjadikan Salim Segaf al Jufri dari PKS atau Ustad Abdul Somad Batubara sebagai cawapres.

Semua tahu bahwa Ustad Abdul Somad menolak. Sementara itu, Salim Segaf al Jufri terpental digantikan oleh Sandiaga Uno, lengkap dengan rona-rona mahar Rp 1 triliun yang dibagi rata untuk PKS dan PAN demi memuluskan hal tersebut.

Gerindra memang masih butuh suara PAN dan PKS untuk bisa mengusung calon. Juga, terkesan mengabaikan Partai Demokrat yang langkahnya justru terkunci manuver SBY sendiri. Meski akhirnya mengusung Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres, Demokrat secara resmi justru berjalan dua kaki dengan mempersilakan kader-kadernya untuk mendukung Jokowi juga. 

Semua manuver Prabowo tersebut didasari keyakinannya: dia adalah capres pilihan umat Islam. Tak peduli meski tak pernah terlihat kiprahnya dalam Islam dan banyak keluarganya yang justru non-muslim.

Bahkan, Sandiaga Uno cukup dipoles dengan pernyataan “santri post-Islami”. Sebuah istilah yang agak membingungkan sebenarnya. 

Dengan hanya seperti itu, Prabowo-Sandi tetap yakin bahwa kalangan umat Islam alumni 212 masih akan mendukungnya. Mereka yakin sekali stigma politik “Prabowo itu pembela Islam, dan Jokowi itu anti-Islam” masih sangat kuat. Dengan begitu, meski tak lagi menafikan suara Habib Rizieq ataupun Ijtima Ulama, para alumni 212 tak akan menyeberang menjadi pendukung Jokowi. 

Pemilihan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi pun tak akan membuat alumni 212 berpaling. Mereka sudah benci politik ke Jokowi. Bahkan, KH Ma’ruf Amin mulai menjadi bahan bully

Di sini lah, Habib Rizieq menjadi korban. Di mata Prabowo, dia tak lagi menjadi variabel penting. Kontrak politik yang berusaha didesakkan Habib Rizieq kepada Prabowo mungkin kini pada hal-hal yang normatif. Misalnya, hentikan kriminalisasi ulama. Isu yang sebenarnya sangat sumir. Tapi, itu tetap penting dilakukan agar sang Habib tidak kehilangan muka. 

Sementara itu, kubu Jokowi juga berhitung jika menjadikan Habib Rizieq sebagai mitra koalisi. Sebab, penambahan suara untuk kubu mereka dari bergabungnya imam FPI itu dirasa kurang signifikan. Apakah sesuai dengan konsesi yang diberikan, misalnya. 

Isu Ekonomi Mulai Digelindingkan

Situasi global dunia, masih defisitnya neraca perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan mendatangkan berkah tiba-tiba bagi pasangan Prabowo-Sandi. Mereka mendapatkan senjata baru untuk menggangsir elektabilitas Jokowi. Ya, isu ekonomi. 

Semua orang yang waras paham bahwa fundamen ekonomi antara krisis 1998 dengan sekarang jauh berbeda. Ekonomi memang memburuk, tapi fundamen yang ada tidak lantas akan membuat krisis hebat seperti 20 tahun lalu.

Banyak pengamat ekonomi yang memprediksi bahwa Indonesia akan lepas dari krisis ekonomi, pertanyaannya hanya seberapa cepat. 

Tapi, dari kacamata politik, kesempatan tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja. Strategi yang dilakukan pun cukup tepat. Prabowo memilih tidak tampil ke depan untuk mengungkapkan isu tersebut. Sebab, bagaimanapun juga, dia adalah salah satu konglomerat yang lahir dan besar berkat Orde Baru. Yang bisa menimbulkan sentimen negatif. 

Yang banyak menampilkan diri adalah Sandiaga Uno. Sosoknya yang good looking, representasi pengusaha muda sukses, punya background ekonomi yang kuat, membuatnya cukup untuk menjadi antitesa memburuknya ekonomi yang ditimpakan ke Jokowi. 

Dua pertanyaan termutakhirnya terkait kondisi ekonomi memang mengundang kontroversi. Tapi, secara politik, itu mengena. Seperti pernyataan-pernyataan Donald Trump yang menjadi bahan tertawa, tapi justru efektif untuk segmen pemilih yang disasarnya. 

Dua pernyataan itu terkait keluhan seorang emak-emak yang mengeluh uang Rp 100 ribu hanya dapat bawang dan cabai. Dan yang kedua adalah pernyataan tempe setipis ATM.

Dua pernyataan itu, jika dilontarkan pada kesempatan netral (maksudnya bukan suasana pilpres), tentu akan menuai kritik. Tak perlu emak-emak, bapak-bapak pun tahu uang Rp 100 ribu tentu bisa digunakan beli daging ayam berikut bumbu-bumbunya plus belanjaan lain.

Sedangkan soal tempe, Anda tinggal datang ke warkop atau warteg untuk membuktikan pernyataan itu kurang tepat. 

Tapi, dalam politik, soal tepat atau bukan adalah urusan kedua. Yang penting menancapkan image dulu. Hal ini terbukti. Di media sosial, banyak yang membela pernyataan Sandiaga Uno. Banyak pula yang menyalahkan rezim Jokowi sebagai penyebab tunggal memburuknya ekonomi.

Perhitungan politik berbeda dengan perhitungan nalar. Pernyataan yang ngawur sekalipun bisa menjadi pengungkit citra politik. 

Strategi lainnya adalah menggunakan mahasiswa. Dimulai dengan demo yang dilakukan mahasiswa UIR Riau. Kemudian di Kalimantan Selatan. Tuntutannya sama. Yakni, turunkan Jokowi karena dia menjadi penyebab memburuknya ekonomi. 

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan aktivis mahasiswa, dan tak banyak diketahui masyarakat umum, bahwa hampir semua BEM di universitas dikuasai KAMMI, organisasi sayap mahasiswa PKS.

Dengan kaderisasi yang baik dan berjenjang, serta memanfaatkan keengganan elemen lain untuk bertarung di politik internal kampus, kader KAMMI sukses menguasai kampus-kampus dalam sepuluh tahun terakhir.

Cerita soal bagaimana politik internal kampus mungkin saya sampaikan lain kali. Tapi, singkat cerita, hampir semua organisasi resmi mahasiswa kampus (atau BEM) sepenuhnya dikuasai mereka.

Kader KAMMI sangat solid dan militan. Mereka bisa berkoordinasi dengan baik dengan rekan-rekan di universitas lain dan melakukan demo atas nama mahasiswa. Hal itu bisa dilihat dari tuntutan mereka yang seragam. 

Meski kebanyakan demo mahasiswa di sejumlah kampus tak lebih dari demo PKS yang berbaju mahasiswa, klaim “aksi mahasiswa” secara psikologis bisa sangat mempengaruhi persepsi masyarakat. Seolah-olah, seluruh mahasiswa sepakat dengan isu tersebut.

Ditambah lagi, tidak ada counter wacana dari organisasi sayap mahasiswa parpol pendukung Jokowi. Maka, makin kuat pula narasi mereka untuk mengulang apa yang terjadi pada 1998: Menggulingkan rezim dengan alasan ekonomi. 

Dengan strategi seperti itu, kubu Prabowo-Sandi akan menjadi lawan yang cukup berat bagi Jokowi-Ma’ruf Amin.