Aksi pengeboman teroris di Surabaya tidak hanya membawa luka kemanusiaan. Kampanye Pilgub Jatim pun menjadi berantakan. Tidak percaya, silakan tanya saja kepada para tim kampanye.

Yang pertama adalah para calon gubernur dan calon wakil gubernur. Mereka sangat awkward dalam merespons isu terorisme. Itu sebenarnya bukan salah mereka. Mau menyatakan simpati, dianggap menumpangi isu untuk kampanye. Mau diam saja, dianggap tidak responsif dan tidak punya simpati.

’’Terus yang benar kita harus gimana, gaes?’’ kira-kira demikian pikiran Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, Puti Guntur Soekarno Putri, dan Emil Dardak.

Meski bukan berarti tidak bisa memanfaatkan, salah satu di antara empat nama di atas secara cerdas pernah mendatangi salah satu rumah korban saat malam, tanpa pengawal, tanpa ajudan. Tentu saja warga sekitar kaget. Calon itu buru-buru berkata, ”jangan ada media’’.  Dengan begitu, kunjungan terasa tulus.

Warga sekitar pun jatuh hati. Namun, belakangan upaya itu tidak diteruskan karena kurang menambah potensi suara secara signifikan.

Padahal, waktu pemilihan tinggal 40 hari-an lagi. Kabarnya, margin yang ada juga masih tipis. Hal itu tentu membuat satu calon harus berlari kencang untuk bisa menang. Tapi, bagaimana mau lari kencang jika isu pilgub sendiri jauh tenggelam terkena isu bom. ’’Mau lari bagaimana gaes kalau isunya sudah sangat tenggelam?’’. Sekali lagi, itu kira-kira keluhan para calon.

Yang kedua, yang paling repot adalah tim media pasangan calon. Mereka benar-benar mati kutu sekarang. ’’Pernah kami coba upload tentang berita simpati pasangan jago kami. Ehhh…malah di-bully. Disebut tidak punya hati karena menumpangi,’’ kata seorang anggota tim pasangan calon.

’’Padahal, ya meski kami memang mencari tambahan suara, jago kami ini simpati beneran. Orang normal mana coba yang tidak simpati dengan korban bom,’’ imbuhnya. Tapi, dasar apes. Kunjungan tersebut tetap saja dirudung warganet. Pasangan calon akhirnya bingung bagimana meyatakan simpatinya.

Namun, ketika diam lama, banyak konstituen yang mempertanyakan kenapa pasangan calon terkesan tidak punya empati kepada korban. ’’Jujur saja, berkaca dari pengalaman kami, saat menyatakan simpati kepada korban, respons media malah buruk,’’ lanjut anggota tersebut. Tapi, ketika diam, konstituen justru mempertanyakan sifat diamnya.

Ini yang membuat kepala para anggota tim media pecah. Mereka dituntut menyuguhkan kepada khalayak bagaimana jago mereka menyatakan sikap kepada terorisme tanpa disebut menumpangi? Atau malah tidak empati? Dua sikap yang diambil sentimennya sama-sama negatif. ’’Rasanya simalakama betulan,’’ katanya.

Itu sama seperti kegalauan pimred DNK terhadap cewek yang dibribiknya. Kesannya hanya memanfaatkan. Kalau diajak jalan, diiyain itu makan hati karena ujung-ujungnya hanya PHP. Tapi kalau ditolak, menyesal setengah mati kehilangan kesempatan berduaan. Dua-duanya tidak enak.

Sementara itu, waktu sudah mepet. Tim media kampanye pasangan calon seharusnya semakin mengintensifkan program-programnya. Dengan begitu, para calon pemilih paham dan mengenal pasangan yang dijagokan. Tapi, sekali lagi, selain dianggap menumpangi, isu pilgub dibanding isu teror terasa seperti aku tanpamu. Lemah.

Sebenarnya, ada cara untuk mengatasi hal tersebut. Memunculkan berita soal pasangan calon yang bisa sinergis dengan isu bom. Cuma ya gitu, agak rumit. Yang jelas, detailnya tidak akan saya beber di sini. Kenapa? Ya enak sekali dong tim kampanyenya. Kan KZL!