Dalam pertemuan terbatas dan tertutup dengan sekitar 25 kader Gus Durian yang malam itu mayoritas dari Madura, Presiden Jokowi mengungkapkan alasan kenapa dirinya menggratiskan Jembatan Suramadu.

’’Ketimpangan tingkat kemiskinannya terlalu besar,’’ katanya dalam pertemuan yang difasilitasi putri almarhum Gus Dur, Yenny Wahid, di Hotel Samator, Surabaya, Sabtu (27/10).

Dia lalu menampilkan chart yang berisi data ketimpangan. Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo mempunyai tingkat kemiskinan 4-6 persen. Namun, empat kabupaten di Madura mempunyai tingkat kemiskinan hingga 26 persen.

Padahal, Madura dan Surabaya hanya berjarak 6 kilometer. ’’Kemudian, setelah menggratiskan untuk sepeda motor, ada permintaan dari masyarakat Madura untuk menurunkan tarif tol mobil hingga separo. Ya sudah, kami turunkan,’’ ucapnya.

’’Ehh… Muncul lagi aspirasi untuk menurunkan hingga separuh,’’ tambahnya.

Jokowi kemudian mengkaji bersama kabinetnya. Dari hitung-hitungan, jika diturunkan separo, kontribusi yang ada nyaris tidak ada artinya untuk pendapatan negara.

’’Kenapa tidak sekalian dinolkan saja. Apalagi, setelah kami lihat, biaya pemeliharaannya tidak terlalu besar dan masih bisa ditanggung anggaran,’’ terangnya.

Merugi banyak pemerintah?

Jokowi menjelaskan, pemerintah tidak hanya mengukur untung-rugi sebagai parameternya. Ada juga hal-hal lain. Misalnya, apakah satu kebijakan -meski membuat defisit anggaran- bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Penggratisan Suramadu ini tidak serta-merta membangkitkan ekonomi Madura. Atau dalam waktu dekat bisa menurunkan tingkat kemiskinan, dan pembangunan bisa melaju kencang di sana. 

 

Menggratiskan Jembatan Suramadu diyakini bisa memicu pertumbuhan ekonomi di Madura. Sebuah jawaban yang langsung mendapat aplaus dari para Gus Durian di situ.

Yenny Wahid juga tersenyum lega. Sebab, aspirasi itu adalah amanat masyarakat Madura yang harus diperjuangkannya untuk bisa gol. Bisa jadi, salah satu alasan kenapa Yenny mau secara terbuka mendukung Jokowi adalah jaminan terhadap penggratisan Suramadu.

***

Tentu saja, penggratisan Suramadu ini tidak serta-merta membangkitkan ekonomi Madura. Atau dalam waktu dekat bisa menurunkan tingkat kemiskinan, dan pembangunan bisa melaju kencang di sana.

Banyak faktor yang berkelindan. Mulai struktur sosial, penguasaan ekonomi dan akses, infrastruktur, hingga pola pikir yang tidak kondusif untuk pembangunan di sana.

Sebagai contoh, pemerintah pusat sejak dulu berusaha mengungkit pembangunan di kawasan itu. Ada yang namanya Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Tujuannya, menstimulus pertumbuhan ekonomi.

Namun, badan tersebut tak bisa maksimal. Pembebasan wilayah di kaki Suramadu bagian Bangkalan saja belum sepenuhnya terealisasi. Kabar burung mengungkapkan bahwa seseorang yang berkuasa di sana meminta fee untuk tiap meter persegi pembebasan lahan di sana.

Mau membebaskan paksa, pasti akan bentrok dengan warga yang dikoordinasi penguasa itu. Cerita-cerita serupa juga terjadi di tempat lain.

Sejumlah akademisi meragukan efektivitas penggratisan tersebut dari sisi ekonomi. Dikhawatirkan, dengan semakin mudahnya akses, tenaga ahli dari Madura lebih memilih ke Surabaya ketimbang membangun daerahnya.

Namun, untuk masyarakat Madura kelas bawah, terutama yang tinggal di Surabaya, kebijakan Jokowi itu mendapat sambutan luas. Simak pengakuan seorang penjual soto sukses di Sidoarjo.

’’Jokowi bagus. Sudah terbukti. Dulu sepeda motor gratis, lalu mobil jadi Rp 15 ribu. Sekarang digratiskan,’’ katanya. ’’Itu tandanya perhatian ke Madura. Rp 15 ribu lumayan Bos, untuk ngopi,’’ tambahnya.

Dari sisi elektoral, kebijakan Jokowi jelas membantu penjual soto itu. Bahkan, dia tak ragu memilih Jokowi tahun depan. ’’Dulu Madura Prabowo semua, sekarang sudah separo-separo. Saya saja pasti pilih Jokowi,’’ ucapnya, yang mempunyai lebih dari seratus anak buah dari Madura.

Pada 2014, Jokowi memang kalah telak di Madura. Bahkan, di sejumlah kecamatan, Jokowi memperoleh nol suara.

Menurut penjual tersebut, Jokowi punya kelebihan jika dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya. Yakni, tidak memandang Madura sebelah mata dan punya perhatian lebih. ’’Dia (Jokowi, Red) mau memperhatikan Madura. Itu bagus,’’ ujarnya.

Sebuah pandangan awam, memang. Namun, realitas citra Jokowi itulah yang kini terbentuk di kalangan grassroot Madura. Ditambah sokongan Yenny Wahid (yang memang memiliki kedekatan dengan Madura), Jokowi hampir pasti mendulang suara yang tak sedikit di Madura.

Memang masih agak berat untuk menang di Madura. Tapi, yang jelas, ada tambahan suara signifikan di Pulau Garam.

***

Dalam dua minggu terakhir, tidak banyak perkembangan politik yang terjadi di Indonesia. Selain Suramadu, ada dua hal yang terjadi. Yang pertama adalah pembakaran bendera, dan kedua adalah balasan Twitter Gustika Jusuf Hatta, cucu proklamator RI Bung Hatta.

Secara elektoral, pembakaran bendera sempat membuat goyang dunia politik. Suara-suara anti-Jokowi seperti mendapatkan panggung.

Kini, persepsi pembakaran bendera berujung pada sentimen negatif. Sebab, mayoritas warga memandang bahwa kasus itu tak lebih dari upaya kelompok-kelompok Islam ekstrem untuk menunggangi kuda Troya kasus tersebut.

Yang ada, kasus itu justru membuat solid NU. Nahdliyin makin bulat mendukung Jokowi. Plus dukungan yang semakin kuat dari golongan swing voters. Pembelaan yang berlebihan terhadap kasus bendera oleh kelompok yang diidentifikasi sebagai pendukung Prabowo justru membuat takut swing voters.

’’Apa jadinya jika Prabowo yang berkuasa? Bisa makin semena-mena kelompok itu. Mengerikan,’’ begitu kira-kira pendapat mereka yang berasal dari golongan Islam liberal dan non-Islam.

Sementara itu, hal kedua yang terjadi justru menguntungkan posisi politik Jokowi. Meski tak terlalu signifikan secara elektoral, kasus Gustika Jusuf Hatta vs Dahnil Azhar sangat kuat membentuk perspektif. Terutama di kalangan milenial yang populasinya mencapai lebih dari 60 juta pada 2019.

Respons Dahnil Azhar terhadap keberatan Gustika (terkait menyamakan Sandiaga Uno dengan Bung Hatta) juga kurang tepat. Dia menganggap Gustika baper, yang kemudian memancing balasan lebih telak dari Gustika.

Konflik tersebut menjadi viral di media sosial. Dan, kita semua tahu bagaimana pengaruh medsos terhadap kalangan milenial.

Dengan segala perkembangan politik itu, tugas tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi lebih ringan. Cukup dengan menjaga tren seperti ini, Jokowi akan kembali menjadi presiden untuk periode kedua.