Pemilu serentak akan dilaksanakan kurang lebih satu bulan dari sekarang. Bukan hal yang baru, orang-orang yang mengincar kursi jabatan di parlemen saling berebut suara awakdewe, masyarakat yang punya hak pilih. 
Berbagai cara dilakukan si calon wakil rakyat dan pemimpin baik daerah maupun negara untuk menempati tampuk jabatan.
Lepas dari minat mereka akan gaji atau pendapatan tinggi di balik jabatan tersebut, mereka sakjane yo patut dipuji atas usaha mereka merayu masyarakat guna memperolah suara terbanyak.
Usaha yang paling umum ditemui di berbagai tempat yang biasa mereka lakukan agar tujuannya tercapai adalah masang baliho—dengan wajah dengan senyum lebar sebagai sorotan utama. 
Bersamaan dengan itu, di tulis pula quote atau kata manis penuh gula-gula yang menggoda iman. Tak lupa dicantumkan pula gambar tutorial mencoblos nama atau potret mereka. Ya benar, tutorial mencoblos. Mencoblos mereka.
Tahun 2019 bangsa ini jadinya nggak hanya punya tiga musim; musim panas, hujan dan buah-buahan, tapi ketambahan satu musim lagi: musim politik. Musime wong gontok-gontokan.
 
Apa itu musim politik? Menurut etimologi politik artinya, poli artinya banyak, itik, identik dengan wek-wek, banyak bacot. Jadi musim politik adalah musim dimana banyak orang saling bacot sana-sini, hujat kanan-kiri. 
Suarngar yo pengertian cocoklogiku. Njir.
Bila diperhatikan sekali lagi, selain baliho, spanduk, dan lainnya, ada banyak cara lain yang bisa dipakai para politisi untuk memperoleh perhatian dari masyarakat. Apalagi, didukung data dari Kemendagri, pada pemilu 2019 nanti, 40% suaranya dipegang oleh kalangan umur 17-35 tahun. 
Dilansir dari The New York Times, United States Census Bureau menetapkan rentang generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1982 sampai 2000. Bisa dibayangkan, manusia Indonesia yang lahir pada rentang tahun ini adalah generasi yang sudah bisa mengakses informasi dengan mudah. 
Setidaknya, sebagian mereka sudah memiliki akun media sosial yang bersentuhan dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan pemilu.
Jadi, menurut saya, seiring berjalannya waktu, orang Indonesia sudah semakin pintar untuk menentukan siapa yang pantas berada di tampuk kepemimpinan atau yang berhak mewakili suara mereka di parlemen. 
Kembali ke masalah baliho, menurut saya, media ini sebenarnya sudah bukan cara yang ideal lagi untuk menarik suara rakyat. Kalau kita hidup di tahun 2004, mungkin cara itu masih bisa dibilang ampuh, tapi ini sudah 2019 lho. 
Tahun dimana mobil tak lagi berlari dengan roda, namun melayang di awang-awang. Kalau tim sukses masih saja menggunakan cara ini, come on! Kalian kurang ide? Atau memang cara kampanye kalian monoton? Sini aja, sewa saya untuk kampanye kalian, we-he-he. Asu.
Dari segi biaya, merujuk dari aturan KPU, baliho, banner atau spanduk standar ukuran spanduk yang dipakai buat kampanye adalah 1,5 meter x 7 meter atau 10,5 meter persegi. Tiap calon cuma diperbolehkan memasang dua buah buat di setiap kelurahan. 
Nah, kira-kira berapa sih biaya cetak perlengkapan kampanye ini? Buat biaya cetak spanduk aja, harga yang ditawarkan cukup bervariasi. Misalnya, di salah satu vendor percetakan, harga cetak spanduk Rp 17.600 per meter persegi berbahan flexi frontlite.
Kalau merujuk ke harga yang tadi udah disebutkan, maka biaya pembuatan satu spanduk adalah 10,5 meter persegi x Rp. 17.600 = Rp. 184.800. Itu buat satu spanduk aja. Jadi, kalau buat dua spanduk, si caleg berarti mesti siapkan modal Rp. 369.600. 
Itu pun baru buat satu kelurahan aja ya. Bayangkan kalau misalnya saja dalam satu kabupaten ada 50 kelurahan? Bisa-bisa sampai Rp. 18.840.000, dan apa manfaatnya selain cuma ngasih tau tentang tampang mereka dan program kerja mereka—yang entah akan benar-benar dilaksanakan atau tidak?
Mending uangnya digunakan untuk hal lain yang bisa lebih bermanfaat untuk masyarakat yang mereka wakili nanti. Contohnya, buat saluran air atau irigasi sawah gitu? Lebih tepat guna dan positif membantu masyarakat setempat.
Apalagi, belum tentu masyarakat melihat baliho-baliho itu. Malah kebalikannya, mungkin seperti saya, kebanyakan orang-orang sudah muak dengan pemandangan berantakan dengan wajah caleg dimana-mana. 
Saya bukan seorang guru besar tata kota, tapi untuk orang awam seperti saya, semua itu cukup mengganggu pemandangan. Di Sabang Sampai Merauke, terhampar baligo caleg. Kemproh, nggak efektif sisan. Promosi lewat medsos, dong. Jaman saiki, lur!