Kurang dari 22 hari lagi menuju
pemilihan RI 1 dan 2 sob! Seperti kebiasaan empat tahunan sebelumnya, Indonesia
memberi waktu pada kedua pasangan calon pemimpin negara, saling beradu program
kerja (progja) mereka.

Seluruh rakyat yang kepo dengan
semua hal yang berkaitan dengan progja mereka, bisa menyaksikan langsung melalui
televisi. Sambil mngkin mindahin channel pas lagi break ke BeIN buat nonton
Liverpool.

Kemarin, (17/3), jadi pertemuan
ketiga antara kedua paslon, tidak bersama dengan pasangan presiden. Hanya KH.
Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno saja yang diadu. Sudah saya perikaraakan, debat tidak
akan berjalan lebih menantang daripada debat sebelumnya.

Alasannya sudah terlihat jelas:
kedua calon orang nomer dua negeri ini sama-sama tak suka membuat masalah
dengan lawannya. Berikut saya sedikit menjelaskan kenapa debat tadi malam
sepatutnya memang garing-garing belaka. Kriuk.

Alhasil, adu program pun jadinya
malah lebih ke saling timpal-menimpali. Ada rasa sungkan, yang jadinya awkward.
Kami nggak bisa berharap apa-apa lagi soal keseruan debatnya. Mending kalau
lucu, bisa jadi rasan-rasan. Ini mah nggak blas.

KH Ma’ruf Amin adalah Tipikal “The Mediator” alias Si Suka
Damai

Salah satu ciri dari Si Suka
Damai adalah tidak suka dengan konflik. Ia amat menjaga kedamaian dirinya serta
orang-orang yang di sekitarnya. Jika harus memilih antara dua pihak yang
berkecamuk, ia akan berusaha mengambil jalan tengah, sehingga tida ada satu pun
yang akan tersinggung.

Orang dengan tipe pendamai ini
memiliki kepribadian yang beragam. Salah satu ciri orang dengan tipikal ini
yaitu memiliki perasaan halus dan lembut. Sebagai seorang partner, tipe
pendamai ini adalah kawan yang amat menyenangkan.

Kehadirannya selalu membawa
kedamaian dan ketenangan. Ia adalah orang yang amat sabar dan diplomatis. Jika
sedang berselisih paham, ia akan selalu berusaha mencari kata-kata yang amat
diplomatis, sehingga lawan bicaranya tidak akan sakit hati.

Semua ciri di atas sudah
ditunjukkan KH. Ma’ruf Amin di debat-debat sebelumnya. Misal saat debat ke dua
bersama dengan Capres Jokowi, ketika Jokowi mulai memanaskan debat dengan
statement-statement pancingan ke Prabowo.

Pancingan berupa “bahwa
Jokowi tahu luas tanah Prabowo” misalnya. Langkah Jokowi membuka hal ini
saat debat secara langsung membuka mata masyarakat akan kepemilikan Prabowo.
Namun, beberapa kali, KH. Ma’ruf Amin memberikan support-nya kepada Jokowi
hanya dengan ucapan

“Saya setuju dengan Pak Jokowi,”
Hell yeah! Sungguh santun sekali memang kyai satu ini.

Dari debat ketiga ini, memang ada
beberapa ucapan beliau yang niatnya ingin menarik perhatian, tapi menurut saya
malah menjadi bom bunuh diri. Seperti, saat beliau matur, “Kami akan
membentuk badan riset nasional dan menyediakan dana abadi riset.”

Optimis boleh tapi terus jangan greedy
gitu dong. Dana abadi? Apa nggak mikir pertanggung- jawabannya nanti gimana?
Itu uang rakyat lho, bukan uang hadiah chiki 500an.

Dan tentang pembentukan badan
riset, sebenarnya kalau mau bikin badan riset baru lagi, mending nggak usah deh.
Kenapa? Ya entar jadi kebanyakan badan, kalo badan dibikin terus tapi kepala nggak
punya kualitas ya percuma.

Apalagi Indonesia nggak pernah kekurangan
badan riset. Contoh yang lebih masuk akal mungkin maksimalkan program baru di
LIPI, dengan kerja sama berbagai lembaga lokal. Nah ini yang bisa dikerjakan lebih
maksimal.

Yang lebih membuat bosan dari
aksi Pak Ma’ruf di debat ini adalah pengulangan kata yang sama berkali-kali.
Mungkin ini lebih di tekankan kepada timses Jokowi. Sing melok ndelok debat
mesti wes ngerti apa kata itu? Tak lain dan tak bukan adalah #10YearsChallenge.

Antara kaget sama bingung, ini
maksud bapak kyai idolaku apa seh? Nggak nyambung lho sama progja kalian yang
targetnya 2045. 2019-2045 itu 26 tahun, bukan 10 tahun! Nanggung banget, kenapa
nggak #100YearsChallenge atau #1000yearsChallenge sekalian?

Tapi ada yang beberapa kata saya
suka sewaktu di sesi-sesi akhir debat. Apa itu? La Tahzan, La Takhaf! Mayan makjleb dan sedikit ngademke ati.

Sementara, Mas Sandiaga Uno Identik “The Achiever”

Mas Sandi Uno yang suka curcol
tentang perjalanan bisnisnya malam ini juga kadang bikin penikmat debat dongkol
sih.  Tapi pada kesempatan debat kali
ini, bisa saya bilang beliau lebih bersinar dibandingkan cawapres 01. Ini
penilaian objektif lho, pek.

Seorang achiever memiliki
kepribadian yang digerakan oleh kebutuhan untuk menjadi terus produktif. Tipe
ini punya ambisi besar untuk meraih kesuksesan. Sebisa mungkin, ia akan
menghindari kegagalan, terutama jika berhubungan dengan pekerjaan.

Si pemburu prestasi ini adalah
orang yang secara natural sangat optimis. Ia sangat yakin bahwa berbagai kerja
yang ia lakukan akan berbuah baik. Orang seperti ini, percaya bahwa tidak ada
rintangan yang tidak bisa dihancurkan. Semua rintangan adalah batu penghalang
yang menjadi ujian bagi setiap orang.

Namun, sisi negatifnya, pemburu
prestasi ini terkadang akan melakukan segala cara untuk meraih kesuksesan. Ia
akan kompetitif dan bisa menjadi sangat manipulatif.

Sama seperti KH. Ma’ruf Amin, Pak
Uno yang niatnya mau menarik perhatian tapi malah jadi bunuh diri. Pada
beberapa kali kesempatan beliau berulang-ulang mengandalkan OK-OCE, padahal  Ya Tuhan, OK-OCE tak semulus yang ia
rencanakan.

Target OK-OCE sebanyak 40 ribu
per tahun, yang mendaftar hanya 1000 atau 2.5% dan hanya 150 orang yang dapat
modal.

Belum lagi, adanya kabar bahwa
beberapa gerai OK-OCE yang gulung tikar karena banyak sebab. Kenapa Pak Uno ini
malah bahas lagi progja-nya yang terbukti tak mulus di Jakarta, tapi mau
diterapkan di Indonesia? Hell no!

Namun, nilai plus dari pak Uno di
malam debat adalah gagasannya yang semua jaminan dan kartu-kartu pendidikan digabung
dalam satu kartu. Ke-efisiensi-an ini mengalahkan progja KH. Ma’ruf Amin yang
begitu ribet dengan Kartu Pra-kerja lah, ini lah, itu lah.

Kebanyakan kartu malah bingung
kayak Yu Gi Oh, jadi bikin satu aja untuk semua. Efisien.

Lebih jauh lagi, beliau selalu
menggunakan kata kami atau Prabowo-Sandi saat menyampaikan programya.
Membuktikan sebuah sifat yang tak tamak, selalu mengedepankan pengakuan terhadap
pasangan-nya. Tipe laki-laki yang tak akan menang sendiri dan mengedepankan
komitmen.

Yah, yang bagus dari debat
semalam sejatinya adalah dari KH Ma’ruf Amin yang merasa harus ngayomi yang
muda dan Pak Sandiaga Uno juga merasa harus ngajeni Kyai yang sudah sepuh juga.
Sempurna, sungguh suri tauladan bagi keduanya.

Tapi yok opo rek, dadi ra mbois blas! Saya nggak
suka kalian damai, ngegas titik poo! He-he, becanda..