Kalau debat kusir di media sosial ada cabang olahraganya di Asian Games, saya yakin Indonesia juara umumnya. Karena siapapun berlatih setiap waktu, setiap menit, setiap bangun tidur, sampai nggak bisa tidur lagi.

Apalagi kalau penilaiannya siapa yang paling ngotot dialah yang menang. Ga peduli urusan argumen. Benar atau salah urusan ke-11.

Semestinya, pemerintah mengendus potensi besar ini. Kalau dilatih dengan baik, di setiap provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, sampai RT, suatu saat kita bisa menyelenggarakan Olimpiade nyelatu terbesar sejagad raya.

Sayangnya, adu celatu itu biasanya hanya sangar di sosmed. Di dunia nyata belum keruan. Mulut sama jempol kadang tidak sinkron. Karena itu pula bagi orang-orang yang waktu nganggurnya terbatas, seperti saya, sebisa mungkin akan mengindari adu celatu seperti itu.

Tapi ya kadang-kadang gatel juga kalau baca debat otot-ototan yang seringkali nggak berujung. Sesekali kalau sedang punya tenaga ekstra, dan mulai keinget mantan, boleh juga meladeni debat-debatan. Biar ada penyaluran emosi.

Yang paling terakhir saya ikuti adalah perdebatan soal Islam Nusantara. Pertahanan diri saya benar-benar jebol kalau untuk urusan ini. Agak ganjil juga sih kalau dipikir-pikir. Istilah Islam Nusantara itu sudah muncul dan menjadi tema Muktamar NU yang ke-33 di Jombang 3 tahun lalu.

Bahkan sebelum tema tersebut ditetapkan, sudah sempat muncul pro dan kontra. Tetapi anehnya istilah itu kembali booming di tahun 2018 setelah redup pasca Muktamar.

Lapo ae koen selama rong taun kepungkur, kok sek tas debat saiki? Hadehh…

NU punya tradisi elegan untuk me-manage semua persoalan yang ada. Yakni, menyelesaikan gegeran dengan ger-geran.

Tidakkah ini adalah suatu keanehan bahwa isu itu kembali menyeruak sekarang. Setahun menjelang pemilu.

Bagi yang melek pulitik sih, gak masalah. Tapi masalahe, kelompok tukang nyelatu ini agresivitasnya dalam menyerang berbanding terbalik dengan tingkat literasinya. Padahal, hanya saat mandi saja kita boleh polosan. Kalau lagi melihat agenda pulitik jangan. 

Saya nggak akan menjelaskan panjang lebar, kali tinggi, tentang apa itu Islam Nusantara. Sudah terlampau banyak tokoh-tokoh yang jauh lebih kompeten menguraikannya dengan detail dan lugas. Bahwa tidak ada yang salah dalam istilah tersebut.

Lagipula, kalau ulama sekaliber KH. Ahmad Musthofa Bisri, KH. Said Aqil Siroj, KH. Ma’ruf Amin, dan Prof. KH. Nadirsyah Hosain saja tidak digubris. Apalah hamba ini yang cuma remah-remah croissant yang ditepikan dan dibuang dari peradaban cake and pastry

Setiap ngadepi tukang celatu saya selalu sampaikan kalau alasan saya menerima istilah Islam Nusantara itu karena tidak menemukan kecacatan dalam definisi dan maksudnya.

Tapi yang lebih penting dari itu adalah saya belum menemukan pendapat tandingan yang lebih kredibel dan dapat diterima oleh akal sehat bahwa ada kesalahan dalam Islam Nusantara.

Setidaknya mereka yang menolak istilah tersebut berangkat dari satu dalil: Islam itu rahmatan Lil ‘alamin. Jadi, Islam Nusantara tidak lain, kata mereka, adalah mengotak-kotakan, menyempitkan, atau mengurangi makna Islam yang sesungguhnya.

Ya, pendapat ini masih lumayan lah karena berangkat dari pendapat naqli maupun aqli. Jadi masih ada ruang untuk dialog lebih lanjut.

Tapi sebagian lainnya jatuhnya malah mbuh gimana gitu. Lah, bagaimana tidak. Alasan mereka menolak Islam Nusantara hanya karena syak wasangka. Katanya, Islam Nusantara itu liberalisasi atau bentuk lain dari JIL. Iyaa, JIL. Jaringan Islam Liberal. Bukan Jaringan Insan Lali omah karena nebeng wifi gak mari-mari akibat overdosis Mobile Legends.

Islam Nusantara katanya juga membenci Arab. Islam Nusantara bikin Agama baru atau aliran baru. Atau yang lebih mentok lagi Islam Nusantara adalah aliran kopi sachet sesat.

Masih ada lagi lho. Islam Nusantara adalah bentuk halus dari de-Islamisasi. Islam Nusantara pendukung Syiah, dan Islam Nusantara adalah pendukung rezim penista agama. Nah, alasan yang disebut terakhir ini mungkin yang paripurna.

Padahal kalau konsisten bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin semestinya ga peduli kamu Islam apa, Islam nganu, atau bahkan penyembah sawo kecik pun semestinya dirangkul.

Itulah mengapa saya merasa gerah, panas dalam, sampai panas luar, sampai tak kuasa menahan diri untuk ikut bersuara. Meskipun pada akhirnya saya menyetujui dawuh Gus Mus (KH. Ahmad Musthofa Bisri). Beliau bilang bahwa urusan debat-mendebat itu bukan soal setuju atau tidak, tapi sekubu apa tidak sekubu. Golonganku atau bukan.

Sungguh. Yang mesti kita khawatirkan bukan diskursus Islam Nusantara itu sendiri. Melainkan ditariknya isu ini ke ranah politik demi keuntungan pribadi atau segelintir orang. Cukuplah sejarah menjadi pembelajaran. Bahwa politisasi agama melahirkan peperangan dan chaos yang berkepanjangan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kekuasaanya direbut oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Lalu, Dinasti Umayyah yang didirikan oleh Muawiyah dicongkel oleh Abul Abbas As-Saffah, pendiri Dinasti Abbasiyah. Begitu seterusnya.

Agama dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan atau merampasnya. Sebab inilah kita sekarang mesti waspada dengan pertarungan politik di negeri ini.

Sejatinya, polemik soal Islam Nusantara itu tidak hanya terjadi di luar NU.Tapi juga di internal. Tidak sedikit kyai-kyai NU yang menolak Islam Nusantara.

Bedanya, NU punya tradisi elegan untuk me-manage semua persoalan yang ada. Yakni, menyelesaikan gegeran dengan ger-geran.