PERTARUNGAN politik yang sengit bakal terjadi di Surabaya. Tepatnya pada 2020 mendatang. Yak betul, pertarungan untuk memperebutkan siapa yang menduduki kursi Wali Kota Surabaya.

Kenapa sengit? Karena ada beberapa penyebabnya, gaes. Ini dia sebab-sebabnya.

Lapangan Rata

Yang pertama adalah lapangan yang relatif rata. Lapangan pertarungan di Pilwali Surabaya 2020 dipastikan akan rata. Wali Kota Surabaya yang sekarang Tri Rismaharini tak bisa lagi maju. Di satu sisi, belum muncul satu nama moncer yang digadang-gadang sebagai penggantinya.

Maka, pertarungan pemanasan akan terjadi di pada pemilu legislatif 2019. Sejauh ini, tampaknya, PDIP mengulangi kesuksesan lima tahun sebelumnya. Menjadi pemenang Pileg. Mesin partai ini masih cukup solid di Surabaya dan partai lainnya belum mempunyai figur yang diandalkan untuk menggaet suara dalam Pileg mendatang.

Risma memang wali kota yang cakap. Tapi dia juga sangat emosional. Dia tak segan mempermalukan anak buahnya di depan umum.

Risma Bukan Lagi Penentu

Ratanya lapangan pertarungan politik juga disumbang faktor kedua: Tri Rismaharini. Politikus ini memang masih menjadi faktor penting, tapi bukan lagi faktor terpenting. Salah satu indikatornya adalah kekalahan Gus Ipul-Puti di Surabaya oleh pasangan Khofifah-Emil.

Didukung mesin partai paling solid, dukungan Risma yang habis-habisan kepada pasangan Gus Ipul-Puti ternyata tak mampu menyelamatkannya dari kekalahan.

Ini menunjukkan bahwa elektabilitas Risma tak lagi seperti lima tahun sebelumnya. Orang Surabaya masih percaya padanya, tapi untuk mendengarkan endorsement-nya, nanti dulu.

Sebab, sebagai pejabat dan politikus, Risma masih punya banyak kelemahan. Risma memang wali kota yang cakap. Banyak taman yang dibangun dan punya konsep. Infrastruktur jalan juga dikebut. Surabaya secara umum juga berkembang ke arah yang lebih baik.

Tapi, Risma juga emosional. Sejumlah video yang viral menunjukkan hal tersebut. Dia tak segan mempermalukan anak buahnya di depan umum. Selain itu, banyak yang menganggap dia lebih mementingkan pencitraan.

Salah satu yang paling sulit dipahami adalah hingga kini Surabaya belum pernah punya pusat rehabilitasi narkoba. Sebagai kota besar di Indonesia dan salah satu yang paling parah terpapar narkoba, mengherankan jika pemkot belum punya strategi jangka panjang mengatasi hal ini.

Kabarnya, Badan Nasional Narkotika Kota (BNNK) Surabaya pernah menjajaki kerjasama membangun pusat rehabilitasi, tapi hingga kemarin, tak pernah bersambut. Konon pemkot menolak dan lebih suka para pecandu narkoba direhab di kota lain saja.

Atau sebut saja soal Persebaya. Risma jarang terlihat mendukung bonek bahkan Persebaya sempat dipersulit ketika menggunakan Gelora Bung Tomo sebagai home base.

Juga, kecenderungan untuk menjadi drama queen. Yang paling terkenal tentu saja ketika Bambang DH mundur dari wakil wali Kota Surabaya enam tahun lalu. Secara aturan, itu adalah hak PDI Perjuangan (PDIP) untuk mengganti siapa yang akan menjadi wawali. Sebab, PDIP lah satu-satunya partai yang mengusung pasangan Risma-Bambang DH.

Namun, mendadak Risma melakukan safari ke Jakarta, menangis-nangis bilang dia dijegal, dizhalimi. Padahal, saat itu PDIP tidak melakukan apa-apa dan tidak melakukan upaya untuk menyingkirkannya (toh, akhirnya Risma tetap wali kota Surabaya dua periode).

Lalu, untuk apa menangis bilang dizhalimi?

Kabarnya sih, Risma sudah punya calon sendiri untuk menjadi wakilnya pengganti Bambang DH. Tapi, itu tak mungkin dilakukan, karena secara konstitusional, PDIP lah yang berhak mengusulkan nama pengganti Bambang DH.

Jadi, Risma memang salah satu figur yang bakal didengarkan di Surabaya, tapi kemudian memilih yang diendorse olehnya, mohon maaf nanti dulu, bos.

Nama-Nama yang Terus Bermunculan

Jika lapangan rata, siapa yang akan maju? Nama pertama tentu saja Whisnu Sakti Buana. Dia adalah wakil wali kota Surabaya dan ketua DPC PDIP Surabaya. Partai pemenang pemilu. Whisnu juga sabar melakoni karir dari bawah. Dia juga berhasil menyolidkan mesin partainya di Surabaya.

Hubungannya dengan DPP juga bagus. Dia memegang trah sebagai putra almarhum Ir Sutjipto. Nama terakhir ini adalah loyalis Mega paling keras dan pernah menjadi Sekjen DPP PDIP.

Di atas kertas, Whisnu akan menjadi salah satu nama yang paling berpeluang menjadi cawali Surabaya.
Namun, politik tetaplah politik. Dengan segala perhitungan di atas kertas, bukan berarti langkah Whisnu akan mulus-mulus saja. Bahkan untuk sekedar bisa mendapatkan rekomendasi partainya sendiri pun tidak akan mudah.

Banyak nama yang kabarnya mengincar rekomendasi partainya. Di antaranya, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, kemudian wakil Bupati Trenggalek Muh. Nur Arifin alias Gus Ipin.

Informasi yang saya dapatkan, tim bawah tanah mereka sudah bergerilya ke PDIP untuk mencari rekomendasi. Juga, melakukan test the water di Surabaya. Dengan segala sumber daya yang dimiliki, mereka bisa menjadi ancaman. Jika Whisnu tidak hati-hati, mereka bisa menyalip di tikungan terakhir.

Selain itu, dari jajaran birokrat muncul nama Kepala Bappeko Eri Cahyadi. Dia adalah rising star di jajaran birokrasi Surabaya dan kabarnya merupakan anak emas Tri Rismaharini. Seperti nama-nama lainnya, di bawah tanah sudah muncul tim yang meng-endorse Eri. Bahkan, call-nya pun sudah sangat tinggi.

Plot semula yang hendak meniti menjadi wawali dulu, kabarnya pun tidak segan-segan maju sebagai cawali. Terutama jika proses “endorsement” yang dilakukan berhasil mengerek elektabilitasnya. Timnya sangat percaya diri dan Whisnu pun harus berhati-hati pula.

Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri kabarnya kini tak hanya mempertimbangkan kader atau tidak saja untuk menjatuhkan pilihan terkait pemilukada. Tetapi juga elektabilitas dan kompetensi.

Di luar nama-nama ini, masih ada juga nama Arif Afandi. Mantan pemred Jawa Pos itu tetap mempunyai nama besar yang harus diwaspadai. Pernah maju menjadi cawali dan meraih lebih dari 30 persen suara jelas sudah ada modal yang lumayan. Hanya, masih belum tahu dari partai apa Arif Afandi akan maju.

Selain mereka semua, tak menutup kemungkinan muncul nama drop-dropan dari Jakarta, terutama dari partai lain.

Itu saja pendahuluan untuk pilwali Surabaya. Selanjutnya, kapan-kapan akan saya tulis mengenai faktor-faktor penting bagaimana dan seperti apa memenangkan pilwali Surabaya.