Siapa yang tahu Zara Zettira? Kami tidak kenal. Bahkan meskipun doi konon katanya adalah penulis, tapi ya emboh. Nama Zara ini mencuat setelah—konon kabarnya—dianggap menghina pesantren. Nggak menghina yang gimana-gimana seng nantang gelut gitu, tapi simpel: tweetnya membuat banyak orang meradang.

Jadi, Zara ini sejak semalam suntuk jadi bahan bully-an warganet, tapi mendadak di siang cerah ini, mulai rame pula yang membelanya. Sementara Zara sendiri nggak tahu kemana, nggak ada klarifikasi apapun. Rame, terus ninggal gitu aja. Sementara awakdewe ae sek sempet ae nulis naskah iki cik.

Tweetnya sendiri sudah menghilang. Di dalamnya, Zara mengunggah berita media online yang berjudul Skandal Bertubi-tubi di Kemenag, Kasir Pun Bisa Korupsi 3,3 Miliar. Lalu dengan agak sembrono Neng Zara langsung berkomentar:  Tradisi pesantren jangan dibawa ke kementrian, camkan!”

Nah, ini kemudian langsung direspon salah satu pentolan PSI, Guntur Romli. Zara dianggap kurang ajar karena seolah berkata bahwa korupsi adalah tradisi pesantren. Bahkan, Generasi Muda NU juga ikut berkomentar, menilai apa yang diucapkan Zara sebagai fitnah.

Sebenarnya, bukan sekali dua kali kejadian salah ucap atau salah pemaknaan atau gampangnya, miskomunikasi ini terjadi. Nggak cuman Zara, beberapa tokoh malah sudah kesandung batunya. Seperti Sukmawati Sukarnoputri, Ahok, sampai Coki Muslim. Membawa-bawa agama dan unsur-unsurnya dalam hal yang agak negatif memang sensitif get di zaman sekarang. Pepatah cocotmu harimaumu kayaknya harus diingat-ingat terus pas mainan medsos.

Kami sebenarnya nggak tahu siapa yang salah—atau apakah ini cuman kesalahpahaman belaka. Yang jelas, Neng Zara kudu menjelaskan apa maksud perkataannya. Apakah hanya sepotong-sepotong, sengaja, ataukah ada makna atau majas lain—mengingat doi konon katanya adalah penulis.

Tapi sejauh ini, kami percaya kok bahwa pesantren itu hakikatnya memang tempat menimba ilmu santri muslim dan berkontribusi melahirkan banyak tokoh bangsa. Jadi, berkomentar sengit macam begitu tanpa disertai penjelasan detil memang rodok nggateli. Kalau memang ada kritikan atas budaya pesantren, yo disampaikan dengan bahasa yang woles, nggak ngegas sengak koyok suara knalpot RX King!

Rame-rame semacam gini memang timbul-tenggelam. Nge-tweet rodok bosok, dikomentari wong sak taek ndayak, dadi kontroversi, trending beberapa jam, dan berkembang jadi isu nasional. Beberapa memang segitu cepatnya terlupakan, meski ada juga yang terus diungkit-ungkit.

Jadi kalau kamu pengen melampiaskan emosi dan kemarahan dengan rodok nggak nalar, yo mending catet di buku harian atau blog pribadi yang diprivate. Jejak digital itu lebih kejam dari mantamu seng rabi ndisiki. Ini karena komentar serampangan ngawur di dunia maya, berpotensi berujung sampai dunia nyata.