RAMADAN tinggal menghitung hari. Segenap umat Islam akan merayakan Idul Fitri sebentar lagi. Ada umat Islam yang merasa sedih saat Ramadan segera berakhir. Sebab, berkah dan pahala pada bulan ini dipercaya umat Islam seperti memasuki babak bonus. Penuh ampunan dan rahmat.

Namun, kesedihan juga dialami kedua kubu yang akan berlaga di pilgub Jatim. Sebab, ada tambahan ongkos yang harus dibayar. Yakni, THR. Hal itu sebenarnya sudah disadari kubu Khofifah-Emil maupun Saifullah Yusuf-Puti.

Siapa pun yang pernah berkecimpung di tim pemenangan tahu bahwa hampir separo pengeluaran pemenangan pemilukada ada pada hari-H.

Sementara itu, coblosan tinggal 12 hari lagi. Sebuah selisih hari yang sangat nanggung. Siapa pun yang pernah berkecimpung di tim pemenangan tahu bahwa hampir separo pengeluaran pemenangan pemilukada ada pada hari-H.

Misalnya, pengeluaran untuk membayar saksi, membayar serangan fajar jika diperlukan, dan operasional tak terduga lainnya.

Yang bikin celaka, rata-rata tim yang di bawah menganggap bahwa THR berbeda dengan ongkos pemenangan. Sebab, selisih harinya lumayan jauh jika dibarengkan dan terlalu pendek untuk salvo pengeluaran pemenangan.

Jika tidak diberi THR, konsekuensinya berat: bisa mengubah pilihan dan dukungan.

Artinya, kedua kubu harus membayar dua kali. Bagaimana jika tidak diberi? No, no, no! Jangan pernah punya pikiran seperti itu. Sebab, jika tidak diberi THR, konsekuensinya berat: bisa mengubah pilihan dan dukungan.

Saya sudah mendengar banyak selentingan di daerah-daerah. Beberapa tim di daerah mengeluhkan tidak adanya THR dan bersiap menyeberang ke kubu lawan. Itu terjadi merata hampir di semua daerah dan menimpa kedua kubu.

Padahal, dari informasi yang masuk, banyak hal yang membuat urusan THR tersebut runyam. Logistik yang masuk ke kedua kubu sekarang tidak begitu banyak. Ada sejumlah variabel yang membuat hal itu terjadi.

Yang pertama, pilgub Jatim dipandang para bandar uang sebagai All Jokowi Final. Artinya, siapa pun yang menang di pilgub Jatim, peta dukungan untuk Jokowi di Jatim tak akan berubah.

Pasangan nomor satu Khofifah-Emil Dardak jelas merupakan restu Jokowi. Bisa disimak bagaimana dulu Khofifah berangkat dari Mensos dan perlu menghadap Jokowi untuk meminta restu maju.

Para bandar uang mungkin hanya memberikan sumbangan sekadarnya.

Sedangkan pasangan nomor dua: Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno Putra adalah pasangan yang saham terbesarnya dimiliki dua parpol: PDIP-PKB. PDIP jelas partainya Jokowi dan PKB adalah partai koalisi Jokowi sejak pilpres lalu.

Dengan komposisi tersebut, para bandar uang mungkin hanya memberikan sumbangan sekadarnya. Dan, itu juga yang menjadikan faktor kedua. Yakni, adanya pemilukada serentak di sejumlah daerah. Di antaranya yang besar-besar adalah Jabar, Jateng, dan Sumatera Utara.

Jateng mungkin sudah relatif “aman”. Diperkirakan, Ganjar Pranowo akan mengalahkan Sudirman Said. Namun, pertarungan di Jabar dan Sumatera Utara relatif masih sengit. Para bandar lebih memilih mengalokasikan sebagian besar uang ke pertarungan yang lebih sengit. Bukan memilih mengalokasikan sebenarnya, tapi “dipaksa” untuk mengalokasikan dana.

Sebesar-besarnya pengusaha, dia tetap punya keterbatasan uang. Tak mungkin membagi rata anggaran bantuan ke semua daerah. Tentu pengusaha tersebut lebih memilih daerah-daerah yang “ditunjuk” para elite politik yang biasa dibantunya.

Celakanya, pilgub Jatim bukan palagan yang dianggap perlu mendapat sumbangan dana besar. Padahal, item sumbangan pengusaha boleh dibilang menjadi yang utama dalam melumasi mesin pemenangan.

Mengandalkan mesin partai juga sulit. Lagi-lagi karena pemilukada serentak. Konstelasi parpol pilbup, pilwali, dan pilgub tidak berjalan searah. Yang sering terjadi, di daerah-daerah jago PDIP harus bertarung dengan PKB. Atau jago Partai Demokrat bertempur dengan calon dari Partai Golkar.

Tentu saja, para mesin politik daerah tersebut tidak bisa diharapkan untuk membantu sepenuhnya pemenangan pilgub Jatim. Sebab, bisa saja antar parpol koalisi di pilgub menjadi lawan di pilbup/pilwali.

Apa pun solusi tim pemenangan kedua paslon di pilgub Jatim, benang merahnya tetap satu: kehadiran logistik yang kuat. Hal itu kini menjadi masalah bagi kedua pasangan calon di pilgub Jatim.

Maka, bagi Khofifah Indar Parawansa, Emil Dardak, Saifullah Yusuf, dan Puti Guntur Soekarno Putra, hari raya tahun ini tidak bisa dilupakan. Sebab, selain harus memenangkan peperangan dengan ego dan hasrat diri dalam Ramadan, mereka harus mampu memenangkan pertarungan melawan ujian minimnya logistik.