Pilpres masih sembilan bulan lagi. Dua pasangan calon bakal bertarung. Joko Widodo bergandengan dengan Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin sedangkan Prabowo Subianto, tokoh yang sudah tiga kali gagal dalam pilpres, kembali masuk gelanggang bersama Sandiaga Uno. 

Meski masih sembilan bulan lagi, tapi hawa panas persaingan dua kubu sudah mulai memanas. Yang terbaru, massa #2019GantiPresiden yang berencana deklarasi di Surabaya pada Minggu (26/8) terlibat bentrok dengan massa anti #2019GantiPresiden. 

Situasi semakin runyam karena musisi cum politikus Ahmad Dhani menyebut aksi yang berusaha menggagalkan deklarasi adalah idiot. Bahkan, dalam video yang tersebar luas di social messenger, anak buah Dhani yang berseragam Front Pembela Islam (FPI) menyebut Banser (Barisan Serba Guna Ansor) idiot. 

Massa yang tak terima dengan olok-olok itu menghadang Dhani di luar tempatnya menginap di Hotel Majapahit. Sempat terjadi keributan di Masjid Kemayoran yang terletak di Jalan Indrapura. Tempat para aktivis #2019GantiPresiden bergerak.

Situasi panas di tahun politik ini begitu gaduh. Bagi kami para milenial, tak ada yang menarik dari kontestasi politik hari ini. Justru ini adalah hari-hari yang cukup menyebalkan. Bisa nggak pilpres hari ini dan semua orang kembali seperti biasanya?

Kami para milenial tentu menghabiskan banyak waktu di media sosial. Karena itu, linimasa yang memanas sejak lima tahun belakangan membuat kami yang pertama merasakannya. Awalnya, kami mengira itu cuma gimmick. Dan anak-anak yang larut di dalamnya pasti akan kembali saat semua kondisi sudah normal.

Nyatanya, sejak pilpres 2014, linimasa tak hanya terus memanas. Kini barangkali sudah jadi neraka. Tak ada tempat bagi kami milenial untuk bertumbuh dengan nyaman dalam lingkaran digital yang immune dari polarisasi bangsa ini.

Teman-teman saya yang semula tidak pernah berbicara tentang politik, tiba-tiba menjadi loyalis salah satu paslon. Mereka menjadi ahli politik dadakan. Dia kira dia Eep Saefulloh Fatah atau Burhanuddin Muhtadi. Semakin mereka bicara politik, semakin mereka mirip Roy Kiyoshi atau Ki Joko Bodo. Nggak jelas. 

Seperti cerita Machiavelli dalam buku The Art of War, mereka getol memberikan data-data kebaikan paslon dukungannya dan mengungkap keburukan paslon lainnya.

Tak ada masalah selama mereka menyampaikan pendapatnya dengan argumen yang logis. Masalahnya, para mahasiswa itu lebih tampak seperti Munkar dan Nakir daripada seorang intelektual. Mereka menjadi hakim moral untuk masing-masing calon.

Kepada calon yang didukung mereka menyembah seperti tak ada dosa yang melekat padanya. Begitu juga sebaliknya. Paslon lawan mereka anggap seperti pendosa yang tak ada secuil pun kebaikan padanya.

Sebelum ramai pilpres, Jawa Timur beberapa bulan yang lalu menghadapi pilgub. Aroma panas sempat terasa karena banyak yang berusaha menghubung-hubungkan dengan pilgub DKI Jakarta. Partai yang mendukung “cagub penista” haram dipilih.

Dasar-dasar agama dicari demi memuluskan argumen itu. Seolah kitab suci yang hadir sejak belasan abad lalu itu cuma diturunkan untuk membahas pilgub dan pilpres di Indonesia.  

Saya awalnya berharap mimpi buruk ini berakhir seiring dengan rampungnya pilgub DKI. Setelah musim pilgub semuanya akan kembali seperti semula. Adem ayem dan kita dapat bertukar cerita seperti biasa. Tapi, sayangnya harapan tidak selaras dengan kenyataan. Selesai dengan pilgub, masih ada copras capres. 

Pada pilpres 2019, persentase calon pemilih pemula serta pemilih muda memiliki angka yang cukup besar. Berdasar laporan Kemendagri, tercatat sekitar 7 juta tambahan pemilih pemula yang nanti pada bulan April 2019, tercatat berumur 17 tahun. Tentu bukan jumlah yang sedikit. 

Sebenarnya tidak mengherankan, menurut proyeksi demografi nasional dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia sedang menuju kondisi bonus demografi  di mana persentase jumlah usia produktif akan mencapai sekitar 60 persen dari total populasi pada tahun 2035 mendatang. 

Maka menjadi wajar jika himbauan pemilih pemula agar menggunakan hak suaranya dalam merayakan pesta demokrasi ini cukup santer digaungkan. Sebab, golongan putih (golput) yang dulu sempat disepelekan, kini justru menjadi penentu. Jangan sampai pemilih milenial justru apatis dan jadi golput.

Seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Golput yang melonjak karena kekecewaan terhadap Hillary Clinton membuat AS dalam cengkeraman Donald Trump. Seorang presiden yang lekat dengan predikat anti-keberagaman, anti pluralisme, nan konservatif.

Hillary ditinggalkan pemilihnya yang memilih golput. Partisipasi pemilih di AS pun anjlok hingga hanya 55 persen.

Lantas, pada siapa suara ini akan berlabuh? Kedua paslon memiliki sisi baik dan buruk yang menjadi pertimbangan. Prabowo Subianto, mantan jendral Kopassus, memiliki rekam jejak hitam dengan kasus pelanggaran hak asasi manusia pada 1998. Ia, sebagai komandan tim Mawar, diduga terlibat penculikan dan penghilangan paksa aktivis yang hingga hari ini masih ada 13 nama yang tak diketahui rimbanya. 

Apakah Jokowi lebih baik dibanding Prabowo? Jokowi setidaknya pada era pre-reformasi tidak pernah menorehkan catatan-catatan buruk terhadap kemanusiaan. Dan seolah memberi ruang bagi aktivis dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya. Tetapi, bagaimana kemudian ia merampas tanah-tanah petani di Kulon Progo, untuk kepetingan pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport? 

Bagaimana ia absen dan tidak ambil tindakan saat aktivis yang mempertahankan tanah di Tumpang Pitu, dan tutup mata dengan tindak represif aparat di tanah Papua? Dan kemudian itu menjadi pertanyaan: benarkah ada jaminan keamanan di rezim pemerintahan Jokowi? 

Jika ditimbang dari hal-hal yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), baik kedua pasangan calon memiliki dua sisi yang membuat saya, sebagai pemilih muda, ragu kepada calon pemimpin negara yang mana, suara ini saya berikan?

Kurang cermat dalam analisa menentukan suara hanya akan menghantar negara kita pada jelaga. Masa depan bangsa, memang berada di tangan kita, para pemuda. Maka, pertimbangan untuk menentukan hak pilih suara ini untuk siapa, bukanlah pekara muda.