Pada awalnya, jalan Saifullah Yusuf untuk menjadi gubernur Jatim terlihat lapang. Bersabar menjadi wagub selama sepuluh tahun (yang mempunyai keuntungan hampir seperti incumbent), dia didukung dua partai pemenang pemilu sekaligus menjadi rumus kombinasi kemenangan: PDIP yang mewakili merah/nasionalis dan PKB yang mewakili hijau/agama serta mempunyai calon sekondan salah satu kepala daerah paling cemerlang di Indonesia. Yakni, Abdullah Azwar Anas.

Saat itu, semua pengamat politik paling amatir dan paling bodoh sekalipun tahu bahwa hampir pasti politikus yang akrab dipanggil Gus Ipul tersebut tinggal menunggu pelantikan saja. Meskipun yang turun sebagai lawan adalah rival lama yang sangat mengenal medan Jatim: Khofifah Indar Parawansa.

Tapi, semua itu berubah setelah negara api menyerang.

Secara kontroversial, dengan diancam secara kasar oleh pengancam tak kasat mata, Abdullah Azwar Anas dipaksa mundur pada detik-detik menjelang pendaftaran. Kubu Gus Ipul kelabakan. Kemudian, Puti Guntur Soekarno Putra dipilih sebagai cawagub. Sebuah pilihan yang relatif bagus saat itu. Diharapkan, embel-embel nama Soekarno bisa mengangkat dan membuat kaum merah menjadi solid.

Kalang kabut di pihak Gus Ipul membuat Khofifah mencoba peruntungan dengan memilih Bupati Trenggalek Emil Dardak sebagai cawagub. Tujuannya jelas, dengan modal ganteng, muda, pintar, dan beristri Arumi Bachsin, Khofifah menyasar segmen pemilih yang sebelumnya dikuasai Azwar Anas.

Namun, seperti pilkada lainnya, kedua belah pihak gagal mengartikulasikan program dan visinya kepada masyarakat. Saya telah secara acak menanyai sepuluh orang dan tak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan seperti ini: ”Gus Ipul itu program yang paling menonjol apa? Khofifah itu program yang paling menonjol apa?”.

Artinya, masyarakat tak ada yang mengenal platform masing-masing calon. Bahkan, mungkin juga tim suksesnya sendiri tidak tahu.

Informasi yang saya dapat, dua pasangan yang berlaga tersebut kabarnya tak cocok dengan wakilnya sendiri. Keduanya kerap jalan sendiri. Untuk pasangan nomor satu, kabarnya Emil sering jalan sendiri dan tak sreg dengan model kampanye Khofifah.

Praktis, tidak ada produk kampanye mereka yang benar-benar dikenal masyarakat.

Untung saja, hal yang sama kabarnya terjadi pada pihak rival. Membawa tim sendiri dari Jakarta, Puti kabarnya juga susah berjalan seiring. Banyak yang mengeluhkan. Kerap ketika sudah dijadwalkan, tiba-tiba Puti tidak hadir dengan alasan yang tidak signifikan. Akibatnya, pasangan tersebut gagal mengkapitalisasi potensi.

Yang pertama, potensi kaum milenial dan swing voters. Kubu itu mempunyai serangkaian kampanye kreatif di dunia maya. Melalui seri video kampanye Dilan, Wiro Sableng, dan duo pedangdut paling popular, Nella Kharisma dan Via Vallen, mereka sangat viral.

Tapi, masalahnya, tidak ada langkah lanjutan sehingga modal di internet bisa berbuah elektoral. Mereka sangat memuji kampanye kreatif itu. Tapi, ketika disuruh memilih, mereka memilih tunggu dulu. Iklan tersebut hanya berhenti di internet.

Yang kedua, potensi kaum merah tidak berhasil kunjung terdongkrak. Lihat saja kawasan Mataraman. Kawasan yang dikenal sebagai markas abangan tersebut gagal dikuasai pasangan Gus Ipul-Puti. Sejumlah survei menunjukkan bahwa pasangan tersebut tertinggal ataupun menang tipis. Padahal, di kawasan tersebut, mereka seharusnya unggul.

Ada beberapa penyebab. Banyak orang-orang Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistyo yang kecewa karena jagonya gagal menjadi cawagub, lalu menyeberang ke kubu sebelah. Kemudian, faktor Pakde Karwo yang partainya memilih Khofifah juga berpengaruh.

Pakde sangat kuat di kawasan Madiun. Apalagi, faktor SBY di Pacitan membuat Khofifah-Emil tampaknya akan menjadi pemenang di kawasan itu.

Dengan gagalnya dua kubu untuk menguasai kaum milenial dan swing voters, pertarungan yang terjadi tampaknya adalah kuat-kuatan “perang darat”. Door-to-door, pasukan infanteri yang menggerilya kawasan-kawasan yang disasar, kemudian berbagai skenario pemenangan bawah tanah lainnya yang menjadi pilihan kedua kubu.

Namanya saja bawah tanah, tentu hasilnya sulit diprediksi.

Semua skenario bawah tanah, termasuk kecurangan yang tak mudah dideteksi, sebenarnya tak banyak berpengaruh. Money politics, pengerahan aparat, persekusi massa, paling banter menambah 10 persen saja.

Hanya, dalam skenario dua pasangan yang bertanding dengan selisih survei hanya 3–7 persen, tentu saja hal itu bisa berpengaruh.

Sejauh ini, dari yang tampaknya menang mudah, Gus Ipul sepertinya harus bekerja keras dan melecut pasukan infanterinya dalam dua hari tersisa. Sejumlah survei menyebutkan bahwa kubu mereka tertinggal. Jika tidak, Khofifah-Emil bisa unggul dan merebut kursi L1 (Gubernur Jatim).