p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px ‘Times New Roman’}
p.p2 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px ‘Times New Roman’; min-height: 15.0px}
span.s1 {font: 12.0px Times}
span.Apple-tab-span {white-space:pre}

Disclaimer:



Tulisan
berseri ini ditulis berdasarkan kesaksian Sri Wahyuningsih, sarjana Fakultas
Filsafat dan juga aktivis prodemokrasi. Tulisan ini bermaksud menyajikan
gerakan mahasiswa pro demokrasi angkatan 1998 dari sudut pandang yang
bersangkutan. Dimaksudkan sebagai pelengkap untuk memperkaya referensi mengenai
apa yang terjadi di balik reformasi 1998 –yang menumbangkan salah satu diktator
paling lama berkuasa di dunia: Soeharto.



Jogjakarta
menjadi salah satu daerah terpenting dalam masa reformasi tersebut. Berikut
kisahnya. 



Saya lupa
tanggalnya, yang jelas, pagi, saya sudah mendengar kabar bahwa Nezar Patria,
Mugiyanto Sipin, dan Aan Rusdianto baru saja tertangkap di rumah susun Klender,
Jakarta. Mereka menghilang, sekitar pertengahan Maret 1998.

 

Saya pikir
saya harus segera benar-benar membersihkan “barang-barang haram” dari
kamar kos dan pergi dari situ. Tinggal beberapa lembar dokumen baru, selebihnya
adalah buku-buku kuliah dan barang-barang pribadi yang bisa saja ditinggalkan.


 

Pagi itu,
saya masih ke Kampus Filsafat karena masih ada urusan, saya tidak ingat benar
apa itu. Beberapa kawan dan juga pegawai fakultas memberitahu untuk tidak ke
bagian akademik di lantai dua gedung baru karena beberapa aparat berbaju preman
sedang mancari informasi tentang saya di sana. 

 

Beberapa
kawan satu fakultas, di antaranya Arya Kresna Maheswara, mencoba mengacaukan
kerja aparat dalam pencarian informasinya. Dia berusaha memberikan semacam
“tekanan psikologis” agar pegawai yang bertugas tidak benar-benar memberikan informasi
yang benar. 

Saya sempat melihat petugas yang datang ke kampus itu ketika
salah satunya duduk di teras depan ruang dosen yang berhadapan dengan tiga
ruang kemahasiswaan. Saat itu saya sedang berada dalam ruang paling ujung,
ruang Biro Pers Mahasiswa Fak. Filsafat, Pijar. Mereka ada dua orang, bertubuh
tegap dan gagah, memakai polo shirt, tapi tak begitu detail dengan celana dan
sepatunya. 

 

Hari itu,
saya masih harus menemui kawan yang hendak dimintai bantuan mengurus hubungan
internasional Pengurus Pusat. Meski sudah diingatkan, saya tetap nekat balik ke
kos pada sore harinya. Saya diantar oleh Susilo, kawan mahasiswa dari FISIPOL
UGM. Sepanjang mengantar, dia berkali-kali mengingatkan untuk sesingkat mungkin
singgah di kos. Kalau perlu, ambil yang diperlukan, dan segera pergi.
Menurutnya, situasi sudah sangat berbahaya. 

 

Saya
memahami kekhawatirannya, tapi entah kenapa saya merasa masih santai. Saya juga
tak terlalu mengindahkan kekhawatirannya. Sebab, saya harus mengerjakan
sejumlah hal di kos. Pertama, tentu saja memusnahkan beberapa dokumen
berbahaya. Kemudian mengangkat jemuran baju yang pagi tadi baru dicuci, dan
membayar uang kos untuk tiga bulan ke depan. 

 

Sesampainya
di kos, saya langsung membakar sejumlah dokumen. Saya dikejutkan ketika ada
seorang pencari barang bekas menyapa saya. Dia menawar untuk membeli
kertas-kertas dokumen itu. Selain kaget, saya curiga.

 

Dalam
situasi seperti itu, siapa yang tidak curiga? Selain itu, darimana dia tahu
saya sedang membakar kertas, sedang posisi saya nyempil di belakang kamar.
Selain pemilik kos dan ayam-ayam peliharaannya, tidak ada yang akan datang ke
tempat itu. 

 

Menjelang
maghrib, saya sudah mandi dan bisa segera pergi karena semua urusan sudah
beres. Juga lengkap perbekalan saya dalam tas ransel. Beberapa baju, celana,
sikat gigi, sabun, dan sebagainya sudah tertata rapi. 

 

Waktunya
pindah ke tempat alternatif yang sudah saya siapkan sebelumnya. Rencananya
hendak ke Posko Mogok Makan dulu di Fakultas Filsafat. Besoknya, baru akan
berangkat naik angkutan umum. Tapi gerimis membuat saya urung berangkat saat
itu. Badan yang lelah justru membuat saya membuka gulungan kasur kapas di
lantai dan merebahkan diri. Istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda.
Saya terlelap beberapa saat, sampai pintu kamar kos diketuk dari luar.

 

Teman kos
memberitahu bahwa ada polisi mencari saya di depan, dia sedang menemui pemilik
kos. Deg…! Ini dia…! Saya berpesan pada teman kos itu untuk tidak
memberitahu jika petugas atau pemilik kos bertanya tentang keberadaan saya. 



 

Saya
masuk kamar, mematikan lampu, dan berpikir apa yang harus saya lakukan. Saya
langsung mereka-reka bagaimana escape plan-nya. Sedetik kemudian, setengah
mengutuki diri sendiri, saya tak punya rencana pelarian yang matang. Tapi,
menyerah ke polisi bukan opsi saya.  

 

Ada dua
kemungkinan selain lewat gerbang depan yaitu: pertama, melompati tembok kos
yang masih dalam tahap pembangunan. Saya bisa menggunakan tangga yang biasanya
ada di sana. Atau jalan kedua, dengan menerobos lubang di tembok belakang yang
biasanya dipakai untuk jalur sekaligus tempat untuk membakar sampah di belakang
kos. 

 

Ternyata
dua kemungkinan tersebut sudah tertutup karena tembok kos yang sedang dibangun
itu ternyata sudah dicor atasnya. Saya tidak mengetahui kondisi terkini karena
saya lebih banyak berada di luar kost. Lubang di tembok belakang juga sudah
ditutup rapat.

 

Satu-satunya
pilihan hanya bersembunyi di belakang kandang ayam. Secara matematis tidak
mungkin lolos, tapi saya tak akan menyerah begitu saja. Tentu saja, sejumlah
teman kos merasa aneh melihat saya bersembunyi di kandang ayam. Entah apa yang
di benak mereka. Saya tak tahu, dan merasa tak perlu tahu. Saya lebih
disibukkan dengan pikiran apa yang saya lakukan selanjutnya. 

 

Terdengar
suara bapak kos bertanya pada teman kos yang tadi memberitahu bahwa saya dicari
polisi. Dia jawab saya tidak ada di kos. Cukup pemberani juga dia, sedang yang
lain memilih bersembunyi di kamar masing-masing. Bapak kos pergi ke depan lagi.

 

Nampaknya
di depan, terjadi negosiasi yang cukup lama antara pemilik kos dengan petugas,
sehingga petugas tidak langsung menuju kamar kos saya. Sedang tegang-tegangnya,
teman kos memberitahu bahwa ada kawan mencari saya. Dia adalah Gunardi Handoko,
mahasiswa Sastra Inggris.

 

Haduh,
dia juga terhitung buron. Kuminta teman kos agar memberitahu kawan tadi untuk
segera pergi saja dari kos saya.

Masih sangat tegang, saya mendekati pintu
kamar, memasang telinga untuk mendengar apa yang kira-kira terjadi di luar.
Tiba-tiba ada suara berkeresek dari arah belakang kos. “Mati lah, aku”, bisik
hati saya karena korden jendela belum ditutup. 

 

Setelah tadi
sempat menggulung kasur, gulungan kasur itu saya letakkan di atas meja pendek
yang biasa dibeli di pinggir jalan, khas meja anak kos, dari kayu putih dan
lembaran tripleks. Meja dan kasur itu ada di depan pintu jarak beberapa puluh
centimeter sehingga pintu masih dapat dibuka. 

 

Di antara
pintu dan kasur di atas meja itulah saya sedang duduk menguping.
Orang yang
datang di belakang kos itu menyorotkan senter ke dalam lewat jendela yang tak
tertutup korden. Remang dapat saya lihat postur tubuh yang sama dengan petugas
yang saya lihat di kampus tadi. Kepala saya tundukkan berlindung di balik
kasur. Tapi, kaki saya boleh dikata tak terlindung. Hanya ada kaki-kaki kecil
meja yang menjadi tempat kamuflasenya. 

 

Tangan
saya pakai menyangga tubuh saya yang miring, saya sembunyikan dalam bayangan
kaki meja, sambil berharap petugas tidak tahu bahwa apa yang sempat tersorot
lampu senter beberapa saat adalah paha saya yang terbungkus celana warna coklat
pudar mendekati putih. Saya berharap warna celana tersamar, dan petugas tidak
dapat membedakannya dengan warna putih lantai keramik. 

 

Syukurlah,
petugas pergi dari jendela. Saya agak lega. Saya menggeser lemari plastik agar
ada celah dengan tembok untuk bersembunyi, jaga-jaga jika disorot senter lagi
dari jendela. Sepanjang masa “teror” di kamar yg mungkin sebenarnya
tidak lama itu, bermacam pikiran berkecamuk. 

 

Ada
pikiran untuk berdoa pada Tuhan, mohon perlindungan, tapi saat itu juga ada
rasa malu menyergap karena sudah beberapa saat meninggalkan salat. Ya, hidup
saya dapat dikatakan nomaden beberapa waktu terakhir. Dalam cara hidup
berpindah, pasti berlaku prinsip semakin sedikit barang semakin praktis. Celana
panjang cadangan cukup satu. Hem lengan panjang merangkap jaket, kaos ada
beberapa dan daleman, sikat gigi, odol, sabun, handuk kecil, alat tulis dan
buku.

 

Jika ada
mukena dan sajadah, tas tambah penuh dan berat.

Tegang. Ada takut, ada sesal,
ada rasa ingin berdoa, ada malu karena ingat Tuhan hanya ketika butuh. Saya
tersenyum kecut sendiri. Badan terasa gerah, tapi keringat dingin mengalir di
punggung. Campur aduk rasanya…

Sedang tegang dan berkecamuk, tiba-tiba pintu
seperti berusaha dibuka kuncinya dari luar. Ya, aku sudah siap. Kupikir ada
kunci cadangan ketiga yang diberikan pemilik kos kepada petugas, karena kunci
cadangan kedua sudah kuberikan ke Yulin yang mau mengambil lemari plastik atau
tas yang mau dipinjamnya. 

 

Saya lupa
dia mau pinjam apa. Biasanya kalau ada kawan dideploy ke luar kota, saya yang
bertugas mengamankan barang-barangnya sehingga di kos saya ini ada tiga buah
lemari plastik.

Sekilas saya masih sempat bertanya pada Tuhan: apakah Dia mau
menyerahkanku pada aparat…?! Saya siap dan melihat ke arah pintu dari
kegelapan. Pintu terbuka, dan…

Sesosok tubuh mungil masuk, unul, unul,
unul… Yulin mungil masuk gak berjilbab…!

 

Biasanya
dia berjilbab. Di belakangnya masuk cowoknya yg cukup mungil juga, gitaris
Sande Monink, si Chepy, mahasiswa Fakultas Filsafat angkatan 1996 kalau tidak
salah, bercelana pendek. Aduh… Sejoli ini nekat benar…! 

 

Mereka
bergaya suka-suka seolah pulang nonton dan sedang menikmati malam Minggu. Ya,
saya baru ingat bahwa itu malam Minggu. Waktu itu sekitar pukul Sembilan
malam.


Yulin
adalah mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1995, segera berkata: “Kau yang
putuskan, mau keluar malam ini dari sini atau besok-besok”. 

 

Dengan
cepat saya menjawab: “Sekarang”. Saya pikir, jika tidak keluar saat
itu juga, entah kemudian bisa keluar atau tidak dari situ. Ada pikiran bahwa
saat itu banyak saksi, juga cukup jelas petugas yang mencari saya berasal dari
Polda Metro Jaya Jakarta. Jadi, kalau pun saya tertangkap, kawan-kawan dapat
dengan mudah melacak keberadaan saya dan posisi nyawa saya cukup aman karena
masuk kategori tidak diculik. 

 

Perburuan
saya merupakan pengembangan kasus dari tertangkapnya Mugiyanto sipin. Saya
menitip surat padanya untuk seorang kawan asal Yogyakarta, yang sudah sejak dua
bulan lalu menjadi buron. Surat tidak sampai ke orang yang dituju, melainkan
jatuh ke tangan polisi.

 

Beberapa
hari sebelumnya, kawan asal Yogyakarta itu menitip pesan agar saya mengecek
kondisi keluarganya di rumahnya. Dua orang tuanya memang sempat diperiksa dan
diinterogasi di Poltabes Jogjakarta. Dalam surat yang hanya saya tulis di
kertas memo kecil memakai pensil, berisi empat baris kalimat, saya menyampaikan
kabar bahwa kondisi keluarganya baik-baik saja dan juga pesan penyemangat:
“Keep on Fighting”.

 

Sebelum
tanda tangan, saya bubuhkan gambar tangan kiri mengepal.

Yulin mengulurkan
jilbab sambil berkata: “Nih, pakai”. Segera saya pakai jilbab itu,
mendobel baju dan celana, mengambil surat identitas dan sikat gigi. Itu hal
paling penting karena saya memutuskan tidak membawa tas agar tidak nampak akan
pergi jauh atau lama. Saya diinstruksikan untuk membonceng motor Chepy, sedang
Yulin membonceng motor Pandu, mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1994, yang juga
ngekos di situ. 



 

Benar
juga. Begitu keluar gerbang kos dan melewati penjual nasi goreng yang biasa
mangkal di dekat gerbang, seorang lelaki sontak bangun dari duduk. Ada yg tetap
nongkrongin di depan kos rupanya. Kata Yulin dan Chepy, tepat di belakang
tembok belakang kos juga ada empat orang menunggu. Jadi, jika tadi saya nekat
lompat dari situ, sudah ada petugas yang siap sedia menyambut saya…


 

Dari
beberapa kali peristiwa, saya menyimpulkan, petugas memang sangat patuh protap
dan hirarkhi. Kalau pun petugas di lapangan melihat buron, jika belum ada
instruksi tangkap, maka tidak ada penangkapan. Petugas saat itu juga tidak mau
mendobrak kamar kos saya. Selain pemilik kos kukuh menjaga amanat, petugas
sepertinya hendak bermain rapi dan simpatik.

Jalur evakuasi dipilih memutar
lewat Jalan Gejayan (sekarang Jalan Afandi). Kos saya di Karangmalang Blok
B-20.

 

Jadi,
sebenarnya ada jalur yang lebih cepat menuju Fakultas Filsafat yang saat itu
sedang ramai karena ada aksi mogok makan. Tapi jalur yang lebih jauh justru
dapat untuk mendeteksi apakah ada petugas yang menguntit di belakang atau
tidak. 

 

Stage
point sementara di Fakultas Filsafat. Nanti, bersama kawan lain, akan
diputuskan saya harus ke mana. Ternyata, meski tidak sempat bertemu, Gun lah
yang memimpin rapat penyelamatan saya. 

 

Sedang
kawan yang mengabarkan situasi saya pada kawan-kawan yang ada di Posko Mogok
Makan di Fakultas Filsafat adalah kawan Opi, mahasiswa UGM yang dulu kos bareng
saya di kos sebelumnya. Tugas penyelamatan kemudian diserahkan pada Yulin dan
Chepy.

Esok hari dan berikutnya, saya tinggal di kos baru yang sudah saya
persiapkan sebelumnya. Saya mengisi waktu dengan merawat dokumen dan buku-buku
yang tersimpan di safe house (istilah untuk menyebut kamar yang disewa dan
hanya diperuntukkan untuk menyimpan buku-buku dan dokumen tapi tidak
ditinggali, sehingga jika pengurusnya tertangkap, dokumen dan buku-buku tidak
ikut tersita). 

 

Tiap kali
ke kampus, biasanya saya disuruh cepat pergi oleh kawan-kawan karena mereka
merasa tidak sanggup memberikan perlindungan khusus jika saya tertangkap. Maka,
saya meminta bantuan kawan yang sebelumnya sudah menawarkan bantuan
perlindungan, jika saya sudah merasa tidak aman.

Tiga hari saya dititipkan di
sebuah susteran, dan saya tidak tahan. Bagaimana tidak. Saya tidur di kasur
bersih dan empuk, makan terjamin 3 kali sehari lengkap dengan buah, tiap sore
minum teh dan makanan kecil, tiap pagi disediakan berbagai bacaan: koran dan
tabloid yang semuanya memberitakan bentrok antara mahasiswa dan aparat,
sementara saya tidak melakukan apa-apa. 

Akhirnya saya memutuskan untuk
meninggalkan susteran dan mengunjungi basis-basis pengorganisiran kami di Jawa
Tengah: Magelang dan Pakalongan. Dan dari situ, saya dapat melihat gelombang
reformasi di luar arena penting: Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota pelajar
lain. 

 

Bersambung…

 

***

 

Mugiyanto:
Mhs Sastra Inggris UGM 1992, skrg: Senior Program Officer for Human Right and
Democracy di INFID

 

Nezar
Patria: Mhs. Filsafat UGM angkatan 1990. Sekarang Pimred The Jakarta Post dan
Anggota Dewan Pers. 

 

Aan
Rusdiyanto: Mhs Sastra UNDIP, skrg Anggota IKOHi

 

Aryaning
Arya Kresna: Mhs Filsafat UGM 1992, sekarang Dosen di Pradita Institute,
Tangerang

 

Gunardi
Handoko: Mhs Sastra Inggris 1992, skrg. (Kelangan lacak)

 

Wahyu
Linantari (Yulin): Mhs Hukum 1995, skrg Ibu Rumah Tangga

 

Normal

false
false
false

EN-ID
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Helvetica}
p.p2 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Helvetica; min-height: 14.0px}