Kesurupan, kerasukan, atau bahasa kerennya, possessed secara ilmu medis—tepatnya ilmu kedokteran psikiatri—disebut DTD alias Dissociative Trance Disorder. Gangguan ini ditandai dengan perubahan identitas pribadi secara mendadak atau di periode tertentu. Orang yang kesurupan bisa mengakses memori di luar konteks kesadarannya, misal ngaku-ngaku sebagai raja kuno, presiden yang udah meninggal, atau berperilaku seperti hewan lalu berteriak, “AING MEEOOONGGGG!!!”

Memori di luar konteks kesadaran ini akan muncul apabila ada faktor pemicu. Faktor pemicu terjadi karena pikiran menangkap hal yang membuatnya mengakses gudang memori di otaknya. Sering denger kan, ada orang yang kesurupan tiba-tiba bisa bahasa asing? Di dunia medis, itu disebut hyperrecalling. Makanya, beberapa negara maju mengembangkan metode belajar bahasa asing dengan cara si murid dihipnotis dulu biar rileks sehingga segala pelajaran diserap dengan mudah.

Terus kenapa bisa terjadi kesurupan masal? Sederhananya, kesurupan masal itu sama halnya kalau kamu di kelas ngantuk banget sampe nguap-nguap terus temenmu sekelas yang punya bakat ngantukan jadi ikut-ikutan ngantuk. Atau kamu lagi nonton drama Korea lihat aktrisnya nangis jadi ikutan nangis.

Itu semua karena suatu fungsi dalam otak yang bernama empati. Manusia itu dasarnya kan primata yang seharusnya punya empati. Selain itu, sejak balita pun manusia memiliki dasar pembelajaran dengan cara meniru perilaku.

Selama ini, kesurupan masal terjadi di sekolah-sekolah pada waktu mendekati ujian nasional atau di lingkungan tempat kerja dengan stres yang tinggi. Nah, biasanya yang mengalami DTD cuma satu, tapi karena yang lain memiliki beban stres yang sama, ya akhirnya ikut-ikutan.

Bisa dipastikan, yang ikut-ikutan kesurupan ini selain stres juga pasti belum sarapan juga. Otak kekurangan nutrisi yang seharusnya didapat dari sarapan sehingga membuat alam bawah sadarnya mengambil alih kesadaran. Makanya, kalau mau nuntut ilmu, gizi juga diperhatikan Gaes, biar terus sadar.

Pernah lihat orang kesurupan yang bisa dorong 10 orang dewasa dengan badan lebih besar? Sebenarnya, manusia memiliki terlalu banyak kekuatan terpendam yang aktif di saat-saat tertentu. Kekuatan ini juga dipicu oleh adrenalin dan berbagai reaksi kimiawi tubuh, membuat kemampuan-kemampuan yang sebelumnya tertidur bisa bangun. Kayak mbak-mbak yang abis diselingkuhi cowoknya terus tiba-tiba kuat angkut 10 galon air mineral buat ditimpuk ke rai mantane.

Efeknya macem tubuh dipaksa lari sprint yang cuma bisa dipakai jangka pendek. Begitu adrenalin stabil kembali, semua energi juga bakal abis dan otot-otot kembali rileks. Makanya abis kesurupan seseorang pasti pegelnya ngalahin lari maraton muterin KONI.

Upopular opinion: Kesurupan punya dampak baik juga lho, wkwk.

Dari faktor psikologi, setelah gangguan ini reda otak melepas hormon oksitoksin sehingga ada kelegaan setelah beban hidup dan stresnya dilepaskan dengan cara kesurupan. Kalau ada seseorang yang pernah kesurupan karena stres lalu kembali kesurupan, itu karena beban emosionalnya belum tuntas dilepaskan di “sesi” kesurupan sebelumnya.

Nah, kalau dibahas secara multidimensional dan supranatural alias klenik, kesurupan terjadi karena ada pihak lain (entah makhluk ghaib level jin, setan, siluman, iblis atau alien) yang membajak sebagian kesadaran manusia. Baik secara sengaja atau tidak, si manusia ini lantas mempersilakan kesadarannya diambil alih.

Banyak kasus kesurupan yang sangat terkenal dan diadaptasikan menjadi film, seperti Anneliese Michel (The Exorcism of Emily Rose), Rolan Doi (Exorcism), lalu Arne Cheyene Johnson (Conjuring).

Makhluk ghaib atau dimensi lain bisa membajak kesadaran manusia saat gelombang otaknya memasuki area gelombang alpha (8-13 Hz). Gelombang alpha pada manusia saat kesurupan sama dengan kondisi gelombak otak manusia saat melamun atau berkhayal. Makanya, ada istilah lama, “Jangan banyak melamun, nanti kesurupan.”

Orang yang bisa kesurupan seringnya punya rasa tidak percaya diri dan belum menerima dirinya sendiri, entah karena faktor trauma, lingkungan, atau banyak hal lainnya. Saat stres memuncak dan otak dipenuhi pikiran negatif, ini bisa menjadi pemantik kesurupan. Di titik ini, kesadarannya tertidur atau kabur entah ke mana lalu diambil alih bawah sadar dan entitas lain macem jin, siluman yuyu, hingga demit kadal gurun.

Jadi, kalau kondisi tubuh lagi sehat, pikiran juga harus sehat sehingga selalu bisa kontrol diri sendiri. Dengan begitu, risiko kesurupan, baik oleh faktor psikis maupun gangguan jin bakal sangat kecil. Ya seperti pepatah mens sana in corpore sano gitu, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.