Baru dua mingguan kita menjalani 2020, kabeh-kabeh wes berasa mencekam, Rek. Kebakaran besar di Australia, serangan misil Amerika yang menyebabkan jenderal Iran tewas, sampai munculnya banyak Nabi palsu sekaligus orang-orang yang mengaku time traveller dan mengklaim kalau 2020 adalah first wave alias awal mula dari beberapa tahapan kiamat.

Bahkan Imam Mahdi sang Messiah pun sudah turun beneran walau via serial Netflix. Wkwk.

Sebetulnya, isu kiamat sudah muncul sejak sewindu lalu, gara-gara ramalan suku Maya. Malah, saking meyakinkannya, isu itu jadi inspirasi film 2012. Tapi toh, kita “selamat” juga dan sampai di tahun 2020. Masalahnya, siapa yang menjamin kita bakal selamat untuk kedua kalinya kalau isu yang ini menjadi kenyataan?

Film-film bertema kiamat, baik kiamat zombie plus pandemi (wabah penyakit yang mendunia), gempa, asteroid, banjir besar, maupun perang nuklir makin sering diputar di dekade ini. Film-film itu seolah memberikan dua kemungkinan efek. Antara membuatmu tobat dan bersiap dengan cara masing-masing, atau membuatmu makin semangat rebahan kayak admin medsos DNK.

Isu-isu tanda-tanda kiamat ini yang akhirnya memunculkan kebutuhan yang berhubungan dengan persiapan kiamat secara global yang disebut “Doomsday Demand”.

Siapakah yang paling diuntungkan akan isu tanda-tanda kiamat ini?

Korporat raksasa. Nah, selalu ada peluang besar dalam bencana, apalagi sekelas kiamat ala holiwud. Korporat besar tidak mau menyiakan peluang ini,  lalu menjual berbagai barang atau jasa yang diperlukan bila ada major disaster, baik bencana alam maupun perang nuklir. Mereka mengklaim 1% masyarakat di dunia alias The Elites bisa selamat menghadapi kiamat melalui bisnis yang mereka tawarkan. Sisanya pasrah aja biar diangkat ke surga.

Banyak perusahaan kontraktor besar Amrik yang menyediakan shelter tahan bencana. Contohnya, Vivos Shelter. Vivos, yang juga dikenal sebagai The Vivos Group, didirikan oleh Robert Vicino yang sekaligus menjadi Presiden di The Vivos Group dan Fractional Villa, California. Perusahaan tersebut membangun beberapa bunker yang diklaim tahan segala bencana alam atau perang nuklir.

Vivos punya lebih dari 5.000 bunker yang tersebar di Amerika, Eropa, Arab Saudi, dan juga Korea Selatan. Konon, gara-gara konflik memanas antara AS dan Iran, shelter-shelter tersebut habis dipesan oleh kaum elit.

Perusahaan lainnya yang untung pol-polan adalah Rising S Company, Atlas Survival Shelter, dan beberapa kontraktor besar di bidang bangunan di Rusia. Proyek-proyek pembangunan bunker tersebut berkisar antara 1,7 milyar dolar AS hingga 4,8 milyar dolar AS per shelter dan tersebar di seluruh dunia. Harga sewa per keluarga adalah sekitar 25 ribu hingga 200 ribu dolar AS (tergantung ukuran dan spesifikasinya) dan ada pula yang dijual seharga 3 juta dolar AS per shelter.

Bunker-bunker tersebut selain diklaim tahan berbagai bencana, juga memiliki fasilitas yang sangat mewah dengan teknologi canggih plus persediaan logistik bila terjadi bencana besar yang membuatmu harus bertahan di bawah tanah selama 1 sampai 2 tahun.

Makanya, jangan heran kalau sekarang berbagai media banyak menggodok isu kiamat, karena ya memang itu menguntungkan banyak pihak. Makin banyak bencana dan perang, makin banyak juga yang bisa dijual, mulai dari berbagai barang dan jasa sampai agama.

Secara sadar dan bawah sadar kita bakal makin dituntut untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kiamat dan Sang Messiah.

Dipikir-pikir, setelah melihat fenomena ini, aku jadi pingin jualan perahu karet dengan tagline “Anda Percaya Kiamat? Kami Percaya” atau jualan pelampung dengan tagline “Anda bukan Isa Al Masih yang bisa berjalan di atas air”. Paling enggak, iku iso payu nang Indonesia sing saiki jarene mengalami tanda-tanda kiamat gara-gara banjir ambek oleh Menkominfo sing ngono maneh, ngono maneh. Yok opo?