Menjelang akhir tahun 2019 ini, produsen ponsel kayak lagi lomba rilis ponsel dengan fokus fitur kamera yang makin mumpuni. Ada yang banyak-banyakan jumlah sensor kamera, ada juga yang gede-gedean angka megapiksel.

“Lha iyo, gawe opo se kok kamera sampek ono papat?”

Tentu ada manfaatnya dong! Yang pasti, ambil foto jadi lebih fleksibel. Nah, salah satu ponsel kelas menengah terjangkau dengan empat kamera adalah Redmi Note 8, yang baru banget diperkenalkan di Indonesia awal bulan Oktober lalu.

Sensor utamanya punya resolusi yang gede, 48 Megapiksel! Wih! Apakah lantas jadi jauh lebih bagus dari Redmi Note 5 yang sudah saya review tahun lalu? Berikut pengalaman saya menggunakan Redmi Note 8 selama beberapa hari belakangan.

Beda sama Redmi Note 5, Redmi Note 8 nggak terlalu gaib. Waktu flash sale kemarin, saya bisa dengan mudah ngedapetin satu unit dari salah satu e-commerce. Di offline store pun juga tersedia di hari yang sama, meski jumlahnya memang masih terbatas. Paling tidak, sudah ada kemajuan yang perlu diapresiasi.

Varian yang saya beli kemarin adalah 4GB/64GB, dengan warna Neptune Blue. Saya suka banget nih sama warnanya, ada gradasi dari biru ke ungu di back cover-nya. Nggak hanya itu, gradasi ini bisa kasih garis tertentu kalau kena cahaya. Kekinian banget deh!

Warna biru ini juga terlihat sampai ke pinggir panel kaca depan, memberikan efek sembur yang buat saya terlihat mewah. Nggak hanya itu, baik kaca depan dan belakang, semuanya sudah terlindung lapisan Gorilla Glass 5, plus lapisan tambahan yang bikin ponsel ini tahan cipratan air.

Layar depannya berdimensi 6.3 inci dengan resolusi Full HD+ dan menggunakan Panel IPS. Impresi pertama saya, reproduksi warna dan kontras cukup bagus, dengan white balance yang cenderung kebiruan bahkan meski sudah saya ubah ke warm.

Selain sensor sidik jari di belakang layar, ada fitur face unlock yang cukup reliable menggunakan kamera depan. Malah kadang udah bisa kebuka dari sudut kemiringan tertentu. Di bagian atas ponsel juga ada sensor inframerah, yang tentunya bikin saya nggak perlu nyari remot TV tiap kali hilang entah ke mana.

Redmi Note 8 pakai chipset Qualcomm Snapdragon 665 dengan CPU octa-core Kryo 260 dan GPU Adreno 610. CPU-nya sendiri sama dengan Snapdragon 660, namun fabrikasinya jadi 11mm. Jadi ya harusnya lebih efisien daya. Untuk pemakaian berat ala saya, cukup ngebut dan lancar, kok!

Hal kecil yang buat saya agak mengganggu adalah efek transisinya yang kadang masih patah-patah, terutama saat menggunakan mode full screen gesture. Saat saya swipe dari bawah untuk kembali ke homescreen ataupun masuk ke menu multitask, transisinya kurang halus. Nggak lag sih, tapi nggak lambat juga, cuman agak patah-patah.

Harusnya sih yang begini ini bisa disembuhin lewat software update. Yah, semoga nantinya dibetulin. Redmi Note 8 juga memakai tampilan antarmuka MIUI 10 berbasis Android 9 Pie, khas ponsel Xiaomi pada umumnya dengan segudang fitur-fitur ekstra. Meski belum Android 10, opsi tampilan dark-mode sudah tersedia lho..

Ponsel ini juga dilengkapi baterai berkapasitas 4000 mAh. Untuk pemakaian ala saya, bisa bertahan hingga 1,5 hari dengan screen-on time rata-rata lima jam. Nggak yang irit banget, tapi cukup untuk penggunaan seharian.

Yang cukup menyenangkan, Redmi memberikan dukungan pengecasan cepat Power Delivery 18 watt lewat port USB-Cnya. Tapi kamu kudu beli charger terpisah, karena bawaannya masih standar, yang 10 watt.

Masuk ke bagian yang menjadi sorotan ponsel ini yaitu kameranya. Ada empat sensor kamera di bagian belakang Redmi Note 8 yang punya tugas sendiri-sendiri.

Kamera utama 48MP f/1.8 (dengan resolusi default 12MP), kamera ultrawide-angle 8MP f/2.2, ditambah dua kamera 2MP f/2.4 yang bisa membantu menghasilkan efek bokeh dan foto jarak dekat (macro).

Fitur-fitur kameranya pun banyak. Tak ketinggalan, ada night mode untuk hasil foto low-light yang lebih baik. Tapi fitur ini menurut saya agak hit-and-miss. Terkadang, tanpa fitur ini pun, hasil fotonya sudah cukup terang.

Tapi dalam banyak kondisi, hasil foto kurang cahaya bisa jadi lebih jelas dan berwarna. Perekaman videonya bisa sampai 4K, dengan catatan fitur stabilitasi hanya ada untuk resolusi 1080p saja.

Kamera depannya punya resolusi 13MP f/2.0, dengan hasil foto yang mirip-mirip seperti pendahulunya. Hasil fotonya cenderung agak halus, meski fitur beautify sudah dimatikan.

Nih contoh fotonya..

Saya sih cukup puas dengan hasil foto Redmi Note 8 secara keseluruhan, meski tetap harus atur ekspektasi dengan tepat. Ada beberapa orang yang japri saya, menanyakan hasil foto ponsel ini dibandingkan dengan beberapa flagship lain seperti P20 Pro, Pixel 3 dan sebagainya. Masih jauh, rek!

Tapi untuk harga sekitar Rp2 jutaan, ini bisa jadi salah satu yang terbaik. Kamera bagus, baterai irit, ngecasnya cepet, performa cukup solid, main game juga masih mumpuni. Asalkan stoknya nggak gaib, Redmi Note 8 patut kamu pertimbangkan baik-baik.

Wani tuku, wani motret!