Kalau sudah minggu-minggu terakhir Ramadan, dulu ibu saya suka ngajak ke toko buku. Selain karena libur sekolah telah dimulai (yang artinya saya akan butuh asupan bacaan yang buanyak), sudah waktunya juga kirim-kirim parcel.

Ayah saya dulu punya usaha kecil yang membuat keluarga punya tradisi saling berkirim parcel ke relasi bisnis. Ibu saya bertugas memilih produk yang akan diberikan. Saya bertugas ngintil belanja biar bisa dibelikan jajan. Fitrah anak yang tahu balas tuh kan banyak menuntut ya to.

Setiap parcel yang dikemas pasti bakal dikasih kartu ucapan Lebaran. Namanya juga anak kecil, saya jadi latah mencari kartu Lebaran buat teman-teman sekelas yang dianggap istimewa. Ya ada lah 20-an orang di antara total 50 murid (istimewa kok akeh…).

Nah, kartu-kartu ucapan tersebut agaknya memang termasuk salah satu pendongkrak penjualan. Karena itu, dulu selalu ada kotak besar di tengah-tengah toko yang berisi tumpukan kartu. Persis seperti di waralaba pakaian Matahati (sengaja diplesetin biar nggak dikira endorse) itu ya Sis!

Kita harus ngubek-ngubek ribuan kartu yang campur aduk kalau ingin mencari warna atau gambar yang pas. Pemilihan ini yang paling menentukan kredibilitas saya sebagai anak kreatif. Harus hati-hati waktu memilih. Cari yang gambarnya bagus dan lucu tapi nggak norak.

Kartu-kartu tersebut biasanya punya keseragaman yang bisa dibedakan. Ada kartu yang bergambar kaligrafi Arab, ketupat, kartun dengan balon kata berisi lelucon, atau ilustrasi khas seperti di buku cerita anak.

Saya paling suka mencari kartu di antara dua kategori terakhir. Soalnya, saya masih anak-anak dan biasanya kartu kategori itu lebih variatif.

Karena agak perfeksionis, saya pilih kartu dengan gambar berbeda untuk setiap teman. Masalahnya, seringkali kartu yang gambarnya bagus ternyata nggak mencapai jumlah yang diinginkan. Terpaksa saya kirim kartu bergambar sama tapi beda warna saja.

Dulu kartu pop-up juga banyak di pasaran. Tapi harganya relatif lebih mahal. Itu biasanya saya pilih buat teman-teman terdekat. Sisanya mah yang biasa aja. Yang penting dapat kartu.

Kalau kepepet nggak ada yang bagus kartunya, ya korbanin beberapa nama yang kurang penting dari daftar calon penerima. Xixixi…

Kartu-kartu yang sudah dibeli kemudian ditulisi satu per satu. Lengkap dengan pesan singkat untuk si penerima. Lalu, saya akan titip minta dibelikan perangko dan mengirimnya lewat kotak pos.

Sayang, semua ritual tersebut menghabiskan waktu sekitar seminggu. Dan kalau sudah mepet-mepet begitu, Kantor Pos bakal overload.

Ya dulu belum ada ekspedisi macam-macam kan, jadi harapan satu-satunya cuma Pak Pos. Termasuk kartu ucapan yang seharusnya saya kirim buat gebetan.

Benar saja, kartu yang saya kirim biasanya justru diterima seminggu setelah hari raya.

Lak yo isin to yooo niate sok-sok dadi pemuja rahasia ngirim kartu, tibake malah wayahe mlebu sekolah maneh yo kartune sik durung tekan omah. Kan KZL!

Meskipun begitu, tradisi mencari kartu ucapan tetap menjadi kegiatan yang paling saya tunggu. Rasanya menyenangkan bisa memilihkan sesuatu yang terbaik untuk kawan. Kemudian menuliskan kalimat-kalimat baik secara personal dan melihat senyuman mereka ketika tahu ada kiriman pos yang datang.

Sayang, begitu ada generasi ponsel dan surel, kartu-kartu tersebut kurang laku. Apalagi sekarang ada media sosial.

Sebut saya old-fashioned, tapi saya pikir kita patut mencoba menghidupkannya lagi. Entah itu sekadar untuk pemanis pertemanan ataupun nostalgia yang mempererat hubungan di masa digitalisasi seperti sekarang.

Bisa juga sebagai pembuka jalan untuk PDKT. Bikin banyak. Terus disebar ke mana-mana. Pastikan masing-masing gebetan nggak tau kalau kamu kirimi kartu. Kalau ada yang diterima kan lumayan. Siapa tahu ada yang nyaman terus keterusan. Keterusan cuma pengen dikirimi kartu maksudnya. Selamat OTW kenak PHP, Gaes!

Toh harga kartunya nggak terlalu mahal. Kalau bagus ya bisa dipajang. Di kala krisis, bisa jadi pembatas buku atau malah alas penadah kulit kuaci.

Di sisi lain, menerima kartu fisik lengkap dengan tulisan tangan tentu tetap terasa berbeda dibanding pesan singkat di WhatsApp atau unggahan gambar template dari aplikasi edit gambar kan? Mungkin cara tersebut bisa menjadi salah satu solusi mendekatkan kembali generasi milenial dan Z setelah terlena dunia digital.

Atau mendekatkan lagi mantan yang sudah mau tunangan.

Omong-omong, saya terima jasa ilustrasi kalau mau. Bahkan, raimu yang kayak garpu itu bisa tak gambar dadi paling ganteng dan ayu! 😀 #savage

Nah, di kartu itu bisalah kalau mau diselipi kata-kata mutiara atau custom ukuran sak jendela kamarmu:

Mati lampu nyalain lilin,maafin aku jika nyebelin..

Ambil jambu pakai galah,maafin aku jika punya salah..

Bunga mawar warna merah, maafin aku jika pernah buat kamu marah..

Ikan kakap ikan patin, mohon maaf lahir dan batin..