Dulu, sebelum TV isinya taek semua, hari Minggu selalu jadi waktu idola untuk mantengin TV seharian. Saluran televisi maraton nayangin kartun Jepang atau anime. Saya masih ingat betapa tabahnya kami menunggu iklan demi lanjutan film.

Gara-gara anime, masa kecil kami begitu bahagia.

Bagi penggemarnya, beberapa ucapan sumbang tentang anime bisa bikin nyesek. Apalagi ketika liat Son Goku di anime Dragon Ball, tapi ada orang yang sok tahu bilang kalau itu Naruto. Haduh.

Saya yang suka anime dari zaman Naruto bocah hingga jadi hokage tentu saja muntap. Asu.

Sayang, anime mulai dikurangi di televisi. KPI menilai tontonan kesayangan kami ini punya unsur kekerasan. Wanitanya juga gemar berpakaian seksi. Hehe.. Untuk bagian ini, saya no comment saja. Sudah buosen mengkritik KPI dan sensor yang emboh! Bodo amat!

Ketiadaan anime membuat hidup jadi hampa. Ini membuktikan bahwa anime teramat penting sebagai penopang kesenangan. Bahkan, kebutuhan akan anime bisa jadi fanatisme.

Membuat saya, dan mungkin juga kamu, menolak tunduk pada kebijakan nggateli KPI dan mulai menonton anime dengan cara kami sendiri.

Tapi, tentu setiap cara menonton anime punya levelnya sendiri. Bertahap dan kemudian meningkat. Bahkan, kalau nggak direm, berpotensi jadi level gila tingkat dewa. Berikut tahapannya.

1. Pemula Get

Biasanya mereka ini hanya liat anime di televisi. Apalagi, Rurouni Kenshin alias Samurai X tayang kembali beberapa waktu belakangan. Mereka nggak mau donlot epidose terbaru di internet. Katanya sih eman kouta. Ya salaaam..

Kalaupun punya di laptop, mereka minta salinan file dari teman. Males nunggu download, lama. Pencinta anime tingkat ini biasanya belum paham anime secara keseluruhan. Palingan cuma tokoh utama. Tokoh selingan nggak diperhatikan.

Dan, kebanyakan dari mereka masih bocah. Sering melakukan kesalahan fatal. Misalnya, menganggap Tobi adalah Madara. Keliatan banget gak ngikutin komik Naruto! Asu!

2. Kelas Menengah

Golongan ini biasanya anti untuk donlot gratisan di internet. Ini demi menghargai karya mangakanya. Mereka memilih nonton film anime kalau tayang di bioskop. Nggak kayak tipe sebelumnya yang nunggu bajakan Ganool.

Mereka sungguh loyal, bahkan sampai beli action figure supaya bisa puas dimainin. Apalagi kalau beli DVD asli, kualitas gambarnya lebih bagus ketimbang nonton di TV kabel.

Golongan ini pasti hapal anime legend. Naruto, Bleach, One Piece, dan Dragon Ball. Mereka biasanya lebih suka Jump Comic ketimbang komik lain yang memang tidak menonjolkan persahabatan dalam ceritanya. For My Nakama!

Jadi, jangan mancing mereka untuk bahas Detective Conan atau Inuyasha. Anime itu tidak masuk daftar perbincangannya. Walaupun ngerti, tapi ya rodok males.

3. Master! Master!

Golongan ini hampir mendekati sempurna. Mereka suka ikut cosplay yang diadain di kampus atau acara komik. Mereka kadang memakai bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari. Misuh ae pake cara Jepang. Baka!

Artinya: dancok!

Mereka memakai guling bergambar tokoh anime kesayangan. Berharap bisa dinikahi kali ya. Walaupun rodok edan. Eh, tapi baru-baru ini ada pemuda yang dengan sadar menikahi tokoh anime favoritnya.

Jadi, kalau kalian terobsesi dengan tokoh anime, jangan menyerah. Seperti obsesi saya pada Hinata yang tidak pernah padam. Aih, Mba..

4. Legend!

Tibalah kita di posisi terakhir. Tingkat tertinggi dalam kasta penggemar anime. Tiga tingkatan di atas nggak ada apa-apanya!

Golongan ini menganggap hidupnya sebagai anime. Jadi, mereka menganggap dirinya adalah salah satu karakter dalam cerita anime. Yang kebanyakan poor boy sebelum akhirnya tumbuh kuat dan punya banyak teman.

Rodok halu, baperan, dan nggak genah.

Di Jepang, kebiasaan berfantasi ini disebut Chuunibyou. Menganggap dunia dalam anime lebih keren dan punya banyak tokoh wanita cantik ketimbang dunia nyata.

Seandainya bisa, saya toh mau jadi hokage tahun depan dan mendaulat Hinata yang mulus dan aduhai sempurna jadi jodoh sehidup semati saya.

Aw!