Setelah masa-masa manis putih abu-abu—yang selalu jadi momen nggak bisa dilupakan sepanjang hidup—masa menapaki bangku kuliah boleh jadi transisi yang menyenangkan sebelum usia dewasa. Kuliah berarti nggak seragaman, baju bebas, pake kemeja atau kaos kalau gerah. Sepatu modis, warna tak harus hitam, sambil sesekali mengenakan jas almamater.

Kalau kamu dari kalangan atas, ke kampus bisa bawa mobil dan dandanan hits biar dilirik mahasiswa lain. Tapi yo ngunu, siap-siap disiriki sama temen atau ditegur dosen karena penampilan yang w.o.w.

Banyak sekali tujuan seseorang untuk kuliah. Mulai dari pekerjaan yang lebih baik, ilmu yang bermanfaat, bahagiain orangtua, gaya-gayaan, sampek cari jodoh.

Dari semua alasan di atas, sebenernya nggak apa-apa kuliah cuma bermodal minat dalam jurusan yang kamu pilih. Nah, jangan sampai kamu malah benci utawa nggak niat kuliah, sebab dari awal asal milih jurusan.

Mbuh iku jalur SNMPTN, SBMPTN atau mandiri, ojok angger milih tapi pas keterima males-malesan ngelakoni. Jam kuliah ngantuk, pengen turu ae, tugas numpuk nggak kegarap, dan kuliah isine genda’an karo pacar. Kalau wes ngunu, tandanya kon salah jurusan!

Ada beberapa fase di mana orang sadar kalau dirinya salah jurusan. Kami mencoba untuk membedahnya satu persatu.

Fase Awal (Semester 1-3)

Beruntunglah mereka yang sedari awal sadar hingga tak mbuak waktu lama atau duwek akeh selama kuliah. Manusia-manusia ini sudah paham dengan keputusannya. Doi merasa nggak nyaman karo jurusan yang diambil, mbuh dosene sing nggateli puol, lingkungan pertemanan yang berkasta, atau emang nggak minat karo jurusan iku.

Pilihan mereka cukup logis untuk pindah jurusan. Dibanding terlalu lama menjalani yang nggak bikin hati srek, mending keluar sebelum terlambat. Toh, orangtua mungkin agak bisa menerima kalau alasan itu. Lek kon njaluk pindah pas wayah skripsi yo wasalam cuk! Nggak onok harapan diolehi, malah disawat panci!

Fase Pertengahan (Semester 4-6)

Pada fase ini, jarang sekali yang mutusin out atau pindah jurusan. Wis cukup lama kuliah dan ortu jelas nggak bakal ngijini. Akibatnya kon aras-arasen masuk kelas. Onok tugas malah nitip konco dan aktivitasmu nggak jauh-jauh dari turu nang kos. Kalau lagi suntuk, pada ngajak temen ngopi nang warkop sambil meratapi nasib. Huhuhu..

Waktu pertengahan kuliah bakal banyak sekali jam kelas, opo maneh deket masa KKN dan praktek magang. Ini membuatmu tambah sebel dan ingin sekali menyudahi rutinitas megelno dan nggak mari-mari iki.

Solusine ya cari gebetan atau cem-ceman pas KKN biar bisa lali karo tugas akhir maupun skripsi. Happy-happy sek, kabeh dipikir mburi!

Fase Akhir (Semester 7-12)

Ini masa etika semua masa-masa nggak enak sudah kon lewati selama di bangku kuliah, mulai dengerin ceramah dosen, tugas-tugas menumpuk yang bikin begadang sampek lali adus, sampek nggak turu blas sedino.

Kini, saatnya menyambut fase paling membosankan juga bikin kesepian. Skripsi a.k.a tugas akhir kuliah. Ini adalah momen penuh perjuangan individu dalam menyelesaikan pendidikan. Pas wayah ngene, ketemu konco di kampus bakal jarang, urip isine mantengin laptop. Kalau kebablasan malese,  yo langsung D.O. Hmm..

Fase Kerja

Terakhir, fase ini bisa membuatmu dikenali orang-orang bahwa telah salah jurusan. Kamu  melamar pekerjaan nggak sesuai jurusan. Misal jurusan teknik bercocok tanam, tapi kerjo di bank atau buka usaha sendiri.

Tapi fase ini nggak terlalu bikin orangtua marah karena kamu sudah menuntaskan kewajibanmu meraih gelar sarjana. Nggak sia-sia mereka biayai raimu.

Akhir kata, bagi kamu yang udah salah jurusan, tinggal pilih sih, mau nerusin atau pindah jurusan. Yang lebih penting dari itu adalah, kamu kudu bertanggung jawab karo pilhan hidupmu, ojok kebiasaan dipikir mburi ae, jeh!