Sepertinya kalau manusia diklasifikasikan menurut frekuensi bacot, akan ada dua tipe: si pendiam dan si rame. Keduanya ini udah kayak kutub positif dan negatif. Tidak akan ada si rame kalau semua orang ngomong kabeh, dan nggak bakalan ada si diam kalau semua orang nggak bersuara. Tapi, ya gitu deh, banyak orang terjebak dalam stigma yang salah soal ini.

Saya sebagai orang yang sering dianggap pendiam dalam pergaulan, agaknya kurang setuju dengan anggapan bahwa orang pendiam itu nggak asyik. Faktanya, orang pendiam yo isok rame, cuma nggak karo kabeh wong. Hanya bisa dengan orang tertentu dengan yang emang sepemikiran dan nyambung kalau diajak ngobrol.

Nah, artikel ini bakalan lebih dalam membahas suka duka jadi orang pendiam. Stereotipe ancene asu, tapi yoweslah.

Sering Dianggap Sombong

“Arek iku loh sombong, tak sopo meneng ae cuk!”

Begitulah ungkapan umum dari orang awam yang belum kenal dekat sama orang pendiam. Padahal, bisa saja yang disapa itu sedang bengong, melamun, atau banyak pikiran. Apesnya, wajah orang pendiam rata-rata terkesan jutek atau tidak bersahabat, datar ngunu tanpa ekspresi. Sehingga ya dikirone onok masalah ta pengen ngantem wong.

Padahal kami yo emang lagi capek ae, pengen irit bicara. Beban hidup udah banyak, nggak usah ketambahan harus berpura-pura ramah atau rame demi orang lain. Apalagi kalau memang nggak ada hal yang perlu diomongin.  Lek pengen nyopo yo nyopo, lek lagi males yo nggak njing!

Disuruh Ngomong

“He, ngomongo talah, ojok meneng ae!”

Kalau boleh jujur, ini yang bakal kami katakan kalau dengar kata-kata tadi. “Dancuk, lapo se! Aku pengen meneng kon kok ngatur!”

Orang pendiam kalau lagi pengen ngomong bakal ngomong kok, nggak usah kon suruh-suruh. Malah males tambahan kalau disuruh. Kami emang irit bicara karena energi bisa habis pas ngomong akeh.

Lagian memang kenapa kalau diam? Mulut diciptakan cuman satu dan telinga dua itu gunanya buat lebih banyak mendengar, bukan banyak bacot!

Dianggap Marah

Kebanyakan orang mengira bahwa orang yang marah itu diem, nggak ngomong sepatah kata blas. Lah, lek kondisine orang pendiam emang disetting nggak banyak bicara cuk. Ojok dengan mudahnya kalean anggap doi marah. Yo ajur lek ngunu bosqu!

Yah, mau gimane lagi, orang pendiam emang kalau nggak dianggap sombong ya pemarah—apalagi wajahnya support of it. Maka dari itu kami mencoba untuk senyum ketika disapa orang lain, meski yo nggak seberapa ngefek, kadang malah terlihat mengerikan dan sinis. Hmmmm..

Bisa Berubah

Seperti yang sudah saya bilang, orang pendiam bisa rame juga kok, bergantung dengan siapa dia berhadapan. Banyak kasus di lapangan ketika orang pendiam bertemu dengan pujaan hatinya, karakternya bisa berubah lebih baik.

Nah, ini juga berlaku bagi si pendiam. Saya mengalaminya saat bertemu pacar. Doi sempat kaget menjumpai perbedaan saya ketika pertama pedekate dan pacaran.

“Kok, kamu cerewet ya, perasaan bien cool banget, pendiem pas di perpus,” katanya.

“Lah, pas aku meneng mbiyen katanya kamu wedi. Terus njaukmo opo!?” balas saya ngegas.

Kesimpulannya, nggak melulu yang rame itu baik dan yang meneng itu pasif. So, nggak usah mekso orang berubah demi nuruti standar egomu bangsat!