Jancuk. Saya sebenarnya sudah menulis ratusan karakter untuk membahas tips menghadiri nikahan mantan. Tapi sialnya, saya malah menuliskannya dengan begitu bertele-tele, diselipi ungkapan-ungkapan sok bijak yang menggelikan untuk dibaca.

Saya malah menuliskan dengan perasaan agak sedih soal bagaimana peran mantan dalam hidup kita, mengapa dia tak boleh dilupakan, dan alasan mengapa kita harus menghadiri nikahan mantan—sepedih apapun kenyataan itu.

Ndilalah, saya pun terjebak dalam suatu perasaan larut. 500 kata sia-sia itu malah menjelaskan siapa mantan saya, berapa tahun waktu saya pacaran, berapa tahun yang dibutuhkan untuk move on, dan pesan dan kesan apa yang saya dapat dari hubungan yang hampir setengah windu itu.

Kesia-siaan itu juga terus menumpuk karena saya terus mendeskripsikan perempuan itu: raut wajahnya saat pertama kali bertatapan mata, merah pipinya saat digoda, betapa dalam dan manis lesung pipitnya, sampai bagaimana saya menyalahkan ingatan yang sudah lupa bagaimana suaranya saat berbincang.

Sebuah kisah lama yang akhirnya membuat saya merenung panjang, terpicu untuk mendengarkan lagu dengan lirik “dirimu bagai bunga di musim semi” dari Ada Band, dan akhirnya menghela nafas panjang, merogoh rokok bunga dari kantong, membakarnya, memilih menyimpan tulisan itu untuk dokumentasi pribadi, membuka tab word baru dan menuliskan naskah yang sekarang kalian baca ini.

Taek.

Jadi gini aja Bung—benar, tulisan ini memang saya tujukan khusus untuk Anda, para lelaki yang harus menghadiri nikahan mantannya. Sebaiknya Anda jangan sedih Bung, jangan terus-terusan mendongak melihat langit demi mengeringkan air mata.

Tak hanya Anda yang mengalami pedihnya putus dengan mantan dan kemudian harus mendatangi nikahannya. Ada jutaan lelaki muram durja di dunia ini yang harus menanggung beban itu—termasuk saya cok. Jadi Bung, izinkan saya menepuk pundak Anda kali ini, dan mari kita saling menguatkan.

Tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan Bung. Saya tahu, Bung bukanlah pengecut. Sengaja tak menghadiri nikahan mantan dengan alasan klise seperti mencret, mimisan mendadak, atau ban pecah jelas hanya membuat kita semakin merasa kalah.

Bung pasti setuju. Tak ada alasan untuk tak menghadiri nikahan mantan. Kita pernah berani memulainya, kita juga harus berani mengakhirinya—dengan sebaik-baiknya, dengan sehormat-hormatnya.

Meskipun pedih, meskipun perih, tapi inilah tonggak yang menguji kedewasaan kita sebagai lelaki, Bung.

Usap dulu rembesan air matamu, Bung. Saya hadiahi sebuah pelukan perkawananan sambil berbisik: cinta itu kadang pedih, jenderal!

Maka dari itu, setelah melihat sekali lagi undangan nikahan si mantan—dan memelototi nama calon mempelai prianya dengan nafas berat—Bung agaknya perlu mempersiapkan beberapa hal berikut ini.

Mungkin saat ini Bung masih menata mental, tak apa. Biar saya bantu saran demi mempermudah urusan Bung menghadiri sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan terjadi.

Kostum

Standar saja, Bung. Jangan terlalu berlebihan dan mencolok. Pakai saja batik, celana kain, fantofel, atau sepatu kulit. Tapi ingat, itu semua haruslah pembelian sendiri, bukan yang pernah dibelikan mantan. Saya tahu Anda nggak akan membuang barang pemberian mantan—eman cok. Tapi sebaiknya jangan memancing memori.

Kalau Anda pakai batik pemberian mantan, akan ada rasa canggung. Anda akan dikira caper dan memicu ingatan mantan yang lagi di pelaminan. Lebih parah lagi, Anda dikira masih cinta dan berharap balikan. Pakai saja barang pemberian yang tak tampak. Seperti sabuk, kaus kaki, atau—ehem—daleman.

Amplop

Gini, Bung. Saya tahu Anda semuanya masih belum bisa menyamai kemampuan finansial mempelai laki-laki yang bersanding dengan mantan di pelaminan—mungkin karena itulah Anda ditinggal rabi. Tapi dalam urusan amplop, Anda mungkin masih berpikiran soal gengi. Mosok ngamplopi 20 ewu. Anda jangan menjatuhkan martabat diri, Bung.

Maka dari itu, saya serahkan sepenuhnya urusan amplop ini pada Anda—saya pun nggak tahu isi dompet Anda. Tak ada intervensi di sini. Yang jelas, cantumkan nama lengkap Anda di amplop tanpa pesan dan tanda apapun. Bisa saja Anda tergoda menyelipkan simbol waru, tapi sebaiknya jangan. Anda belum tahu sebesar apa buku tangan si mempelai pria kalau-kalau menghantam badan Anda yang rapuh.

Gandengan

Bagi sebagian besar orang, datang ke nikahan mantan tanpa gandengan sama saja bunuh diri. Anda akan dipandang sebagai jomblo susah move on dan itu semakin menunjukkan betapa berharganya mantan Anda—yang kini sedang bersanding di pelaminan bersama masnya.

Tapi kalau Anda memang jomblo dan susah move on, gimana lagi cok. Solusi terbaik adalah ajak teman perempuan—atau kalau itupun masih susah, ajak teman laki-laki. Kalau Anda punya teman artis lokal atau YouTuber, ajak juga. Itu juga bisa menambah kebanggaan Bung.

Basa-Basi dan Ucapan pada Mantan

Saya tak bisa mengajari Anda dalam hal ini, Bung. Sorry. Saya pun sampai saat ini juga masih berpikir apa kira-kira ucapan selain selamat yang bisa saya katakan pada mempelai. Anda bisa saja pandai public speaking dan jago bacot di depan umum, tapi ini perkara lain. Kemampuan Anda tak ada apa-apanya kalau dihadapkan pada masalah hati.

Kabari saya Bung kalau sudah nemu bahan basa-basi, saya bersedia menirunya mentah-mentah.

Sikap ke Keluarga Mantan

Bayangan Anda mungkin ini akan sesimpel berjabat tangan dan senyum ramah tamah. Tapi sebenarnya tak segampang itu—apalagi kalau keluarga mantan pernah menaruh harapan besar di pundak Anda. Anda perlu keberanian untuk bilang maaf lewat tatapan mata—ini kalau ucapan langsung dirasa terlalu berat.

Tapi kalau keluarga mantan tak pernah menaruh respect pada Anda dan malah sempat berharap Anda putus dengan putrinya, mungkin Anda hanya perlu sedikit improvisasi dan sikap sabar—supaya tak terkesan ingin menonjok keras-keras rahang ayah calon mempelai.

Sikap ke Calon Suami Mantan

Ada banyak opsi yang bisa dilakukan pada si masnya. Tapi sebagian besar opsi itu selalu berujung pada duel satu lawan satu yang bisa jadi merugikan Anda sendiri. Jangan sembrono, Bung. Jangan gegabah. Sikap Anda memang membuat lega, tapi akan sangat ngisin-isini dan Anda akan menyesal seumur hidup.

Lebih baik hadapilah seperti biasa saja. Meskipun memakai senyum palsu, meskipun kudu menahan gejolak untuk membenturukan kepala Anda ke mukanya, meskipun Anda harus mengerem ludah Anda supaya tak meluncur ke baju pengantinnya.

Pasang muka tegak, jabat tangan seerat mungkin, tatap dalam-dalam matanya, sambil berkata dalam hati: “bro, jogoen deke yo.” Dan sikap gentleman Anda akan terasa meningkat seribu kali lipat.

Semangat, Bung. Semangat awakku dewe. Kita pasti bisa!