Di 2019 ini, banyak sosok penting berpulang, pergi meninggalkan kita semua. Hari-hari dimana harapan kian padam, kepergian sosok-sosok ini seakan menambah kepedihan. Maut siapa yang tahu, semua orang paham itu. Tapi tak ada yang benar-benar memahami saat maut mulai memisahkan.

Beberapa sosok berikut ini tidaklah sempurna. Tapi setidaknya sudah memberi makna pada hidup kita. Gairah, semangat, kejujuran; semuanya bisa menjadi teladan. Dan nilai-nilai yang mereka berikan, terus menghidupi hidup kita. Abadi, sampai hari ini.

Hidup tak pernah sesedih ini. Berikut beberapa sosok yang telah berpulang 2019 ini, dan menjadikan tahun ini lekas diguyur gerimis duka. Berturut-turut, berbondong-bondong, dan berbongkah-bongkah. Air mata tumpah.

BJ Habibie

Kepergian BJ Habibie, presiden ketiga RI yang menggantikan Soeharto di era senjakala Orba, jelas jadi yang paling menyedihkan.

Habibie murni mantan presiden, bukan politisi, tak pernah mencampuri urusan pemerintahan—atau bahkan berkomentar sesudah berhenti menjabat. Sikap yang harusnya ditiru tatkala kondisi politik kian gaduh dan keruh.

Ani Yudhoyono

Bu Ani—atau Memo, sapaan sayangnya—adalah ibu negara, istri presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Bu Ani, meskipun sibuk mendampingi suaminya, tetap tunduk pada gairah fotografi yang jadi kesenangannya.

Kepergian Bu Ani adalah duka nasional. Semangat hidupnya menghadapi penyakit, sampai pada kecintaannya sampai titik akhir pada suami, anak, dan cucu-cucunya, menginspirasi sampai hari ini.

Sutopo Purwo Nugroho

Pak Sutopo, Kepala BNPB yang murah senyum, sederhana, tak banyak tingkah. Di hari-hari dimana tubuhnya digerogoti penyakit, tak mudah bagi Sutopo untuk tetap mengabdi, mengabarkan, menyiarkan berita bencana pada media.

Sampai pada hari terakhirnya, senyumnya tetap terasa tulus. Kepergiannya meninggalkan makna, dan bagi kami, kesedihannya layaknya bencana.

Ustad Arifin Ilham

Suara dzikir terdengar amat syahdu. Serak-serak basah, membuat jamaah menangis dengan sendirinya. Ustad Arifin Ilham adalah sebuah fenomena. Dzikir dipakai sebagai sarana penyembuhan, dan tangisan jadi ungkapan kelegaan.

Kepergian Arifin pertengahan tahun ini jelas membuat tangis kembali pecah. Tak ada lagi kajian dzikir khasnya. Semuanya kini berdzikir mendoakan kepergian Arifin.

Cecep Reza

Sosok gendut, tengil, sengak, dan jahil ini bernama Bom-bom. Antagonis dalam sinetron “Bidadari” ini sangat melekat dalam ingatan generasi pemirsa RCTI awal 2000an.

Bom-bom, diperankan oleh Cecep Reza. Jadi sosok yang selalu menjahili Lala (Marshanda) dan kemudian mendapat balasan dari Sang Bidadari. Perginya Cecep secara mendadak, adalah kesedihan massal dari pemirsa yang dulunya selalu tertawa saat Bom-bom celaka.

Robby Tumewu

Peran papanya Ongki dalam sinetron RCTI, “Kecil-kecil Jadi Manten” jelas membuat Robby Tumewu akan selalu diingat. Generasi 90an mengenalnya sebagai aktor yang kerap berperan jadi sosok ayah loyal lagi lucu.

Meskipun tak banyak bermain sinetron akhir-akhir ini, rekam jekak Robby jelas mempengaruhi stereotype ayah dalam sinetron Indonesia. Selamat jalan, Bung Robby!

“There’s no life
that couldn’t be immortal
if only for a moment.

Death
always arrives by that very moment too late.

In vain it tugs at the knob
of the invisible door
As far as you’ve come
can’t be undone.”

(Wislawa Szymborska – “On Death, without Exaggeration”)