“Entah apa yang merasuki  Arteria, hingga dia tega merusak ketenanganku..”
(nyanyikan dengan nada “entah apa yang merasukimuu”, yo rodok lebok-lebokno dan peksoen titik).

Arteria adalah anak emas PDIP, anggap saja begitu. Maka dia pun akhirnya dilemparkan ke gelanggang publik bernama Mata Najwa, dengan tuan rumah Najwa Shihab, Rabu (9/10). Arteria adalah anggota DPR, dan di gelanggang publik itulah dia merasa seolah-olah sedang berada di arena adu matador, demi membela kewibawaannya.

Nggak berani frontal-frontal ih, takut dimarahi juga. Yang jelas, attitude Arteria jelas lebih kayak preman pasar berandalan di mata publik, dan para profesor cerdik cendikia yang hadir dianggapnya kayak pesakitan tersangka curanmor yang layak dibantahi, dihakimi, dipaido, sambil dituding-tuding.

Entah apa yang merasukimu Arteria sampai-sampai nggak elok begitu.

Paling keras adalah saat adu bacot dengan ekonom Emil Salim. Topiknya debatable, masalah Perppu KPK. Tapi ya begitu, Arteria malah ngegas dan menyebut Emil sesat. Sambil nunjuk-nunjuk lagi. Dan itu nggak sekali dua kali, ada kali tiga kali Arteria rodok mbentak ambek tuding-tuding jari telunjuk.

Untung Emil bukan penakut, jadi bisalah meredam emosi kisanak muda ini. Untung Emil nggak mengeluarkan jurus betotan maut. Eh salah ding, itu kan Emil basisnya Naif.

“Kasih contoh pak ke generasi muda kita, bernegara dengan baik, beradab dengan baik dan beretika dengan baik,” ujar Emil.

Akhirnya, Tuan Rumah pun ambil kendali. Dengan kuasa penuh Mbak Nana langsung menghentikan segmen, sekaligus meredakan urat syaraf yang hampir putus. Ini jelas bukan adu argumen yang sehat. Ini adalah Mata Najwa, bukan Rumah Kuya!

Akhirnya, publik malah nggak jadi bahas substansi penting dari tema yang dilempar Mbak Nana, tapi malah fokus ke Arteria. Memang kita ini kayak kacrut banget, ya. Pengennya memperbaiki ini-itu, tapi ternyata ada hal penting lain yang belum beres.

Pengennya menemukan sedikit solusi RUU KPK dengan adu argumen, eh pas debat malah kayak tawuran. Hahahancok!

Ehm tapi seru sih, harus kita akui. Pertarungan selalu seru. Adu mulut adalah kesenangan murni. Kita semua suka hal itu. Tapi yang kita suka belum tentu pasti bener dong? Kita kadang naksir abis sama pacar kawan kita sendiri, tapi bukan berarti kita boleh nikung dong? Entah apa yang merasukiquu..

Jadi intinya, petingkah polah Arteria kemarin nggak ada juntrungannya. Pertarungan macam begitu malah menunjukkan bahwa bacot lebih berkuasa dibanding nalar otak. Meski begtu, yang bisa kita ambil hikmah adalah konsistensi Mbak Nana.

Doi nih dengan sabar melerai, memberi pengertian, sedikit menyela, dan wani ngegas juga pas dibutuhkan

Tawuran mah gampang. Melerainya yang pusing. Nah Mbak Nana agaknya sengaja menjadi peran yang rela berpusing-pusing ini, demi terus menjaga nalar kritis lewat adu argumen sehat.

Arteria harusnya tahu hal itu. Adu kelahi nggak bakalan menghasilkan apa-apa selain ati mrengkel. Semuanya sedang ruwet. Rakyat sedang marah, DPR masak ikutan marah? Oh mungkin bener juga sih, kan mereka wakil rakyat.

TAPI MARAH MARAHO NANG PEMERINTAH COK OJOK NANG ACARA NAJWA!