Setiap tahun, 10 November akan selalu dianggap sebagai harinya para pahlawan.

Setiap tahun pula, 10 November akan diidentikkan dengan perjuangan arek-arek Suroboyo, karena peristiwa di tahun 1945 yang terjadi di kota ini, yang kemudian membuatnya disemati julukan ‘Kota Pahlawan’.

Jargon perjuangan kala itu terus digaungkan, agar bangsa Indonesia ingat soal betapa kerasnya usaha merebut kemerdekaan; Soal betapa gigihnya rakyat mendorong musuh untuk mundur; Soal epiknya perobekan bendera di atap Hotel Yamato; Soal sikap ‘Jangan main-main dengan bangsa ini!’ dan pilihan yang selalu antara ‘Merdeka ataoe mati!’.

Namun, di usia Indonesia yang lebih dari paruh baya manusia, apa yang kita pelajari dari pertempuran itu sebetulnya? Apakah kita, para muda-mudi dan generasi di bawah kita, betulan paham soal apa itu perjuangan? Soal kepahlawanan?

Sejarah Indonesia (versi buku pelajaran sekolah) mengajarkan bahwa kepahlawanan adalah membela harkat dan martabat bangsa. Tak mau diinjak asing. Tak boleh menyerah pada penindasan kolonialisme.

Tapi itu puluhan tahun lalu. Musuh kita saat ini justru bisa berasal dari mana saja. Dari kawan terdekat, dari keluarga, dari pejabat, dari penghuni gedung-gedung tinggi, dari berbagai penjuru manapun. Siapa saja bisa menjadi musuh, bahkan diri sendiri.

Maka, apakah kita masih boleh berkata bahwa menjadi pahlawan harus menumpahkan darah? Harus menghilangkan nyawa? Zaman sudah berubah. Yang dihadapi sekarang adalah musuh-musuh yang punya strategi yang lebih halus lagi. Hampir tidak kelihatan.

Langkah-langkah dihentikan, suara-suara dibungkam, ilmu-ilmu dibelokkan. Penindasan modern disusupkan lewat kebodohan, lewat rasa takut, lewat ilusi soal kemudahan hidup.

Pahlawan-pahlawan kita sekarang wujudnya ada banyak. Bisa dari para pemberdaya desa yang mengentaskan kemiskinan dengan cara membangun produksi UMKM; Mereka yang melindungi hak buruh; Para pejuang yang melindungi korban kekerasan seksual; Guru-guru yang mengajari penduduk daerah terpencil agar kenal baca-tulis-hitung; Penyelamat hutan-hutan dan hewan liar dari tangan pemburu.

Pahlawan kita tak melulu mereka yang mengangkat senjata api, karena keberanian dan kepedulian saja bisa jadi alat pelindung di era modern.

Lantas apa yang perlu kita lakukan? Ubah mindset bahwa menjadi pahlawan berarti melakukan suatu hal yang besar. Saya dan kamu, kami dan kalian, bisa memulai dari hal kecil, semudah mengasah kepedulian. Bekali diri dengan ilmu, perkaya dengan nalar dan nurani.

Kembalikan sifat-sifat ksatrian yang bisa diwujudkan lewat hal-hal kecil: Mematikan puntung rokok yang masih menyala dan berpotensi melukai orang di jalan, membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan “Maaf”, “Tolong”, dan “Terima kasih” pada orang lain (apapun profesinya dan siapapun dia), dan banyak lagi hal kecil yang justru bisa menjadi awal dari hal besar.

Munir, Marsinah, Widji Thukul, Tan Malaka, WS Rendra, They Hiyo Eluay adalah sebagian yang maju atas nama perjuangan kemanusiaan Indonesia. Tapi para ibu, ayah, teman, kakak, adik, guru, perawat, dokter—bahkan kamu, yang pernah memberi makan pada kucing jalanan yang nyaris mati kelaparan, juga berhak disebut pahlawan oleh mereka yang merasa terselamatkan.

Kita semua bisa jadi pahlawan, cukup dengan memanusiakan manusia.