Setiap orang pasti punya kontroversi. Sak apik-apike kon nang tonggomu lho yo tetep dirasani, sak manis-manise kon nang (((mantanmu))) lho sek dijulidi. Tapi yang paling penting adalah kadarnya. Kita emang nggak bisa menghindari kontroversi, tapi sebisa mungkin meminimalisir kadarnya.

Bicara soal kontroversi, Indonesian Corruption Watch (ICW) pada Senin (28/10)  menyebut politikus PDIP Yasonna Laoly dan mantan Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai sosok kontroversial. Ini pasca pengangkatan keduanya jadi menteri oleh Presiden Jokowi.

Yasonna kembali jadi Menkumham, dan Tito diangkat jadi Mendagri.

Dilansir CNN Indonesia, peneliti ICW Kurnia Ramadhana menyatakan, Yasonna punya sedikitnya lima masalah ketika menjadi Menkumham di periode pertama menjabat. Hauwik. Kok akeh..

Masih dilansir CNN Indonesia, pertama, Yasonna tak melakukan komunikasi yang yahud dengan Jokowi pas revisi UU MD3, hingga Jokowi nggak sido meneken UU MD3 hasil revisi karena nggak sreg dengan isi aturan.

Selain itu, Yasonna juga terlibat dalam revisi UU KPK—ilingo pemicu demone arek-arek kapanane. Bung Yasonna ini jadi salah satu orang yang setuju lho dengan revisi UU KPK, yang saat ini resmi berlaku dan membuat KPK kayak nggak berkutik dan terkesan dilemahkan.

Selain itu, Yasonna juga terlibat dalam revisi KUHP, dimana doi setuju delik korupsi masuk dalam RKUHP. Padahal, kata Kurnia, substansi pasal korupsi di RKUHP menurunkan hukuman pidana dan dari sisi pandangan menjadikan korupsi sebagai tindak pidana umum.

Yasonna juga sempat bermasalah dengan pembenahan lembaga pemasyarakatan. Jancik, sek eleng a kasus narapidana dolen nang njobo koyok Yang Terhormat Setya Novanto.

Terakhir, Bung Yasonna ini juga ikut mendorong rancangan UU Pemasyarakatan disahkan, yang salah satu poinnya adalah melonggarkan pemberian remisi bagi para narapidana korupsi.

Nah, lima hal itu, kata Kurnia, membuat awakdewe perlu bertanya sekali lagi: Lapo o Jokowi kembali menunjuk Yason menduduki pos yang sangat berkaitan dengan sektor pemberantasan korupsi?

Lain Yason lain Tito. Masih dilansir CNN Indonesia, Kurnia menyebut bahwa Tito juga punya reputasi kontroversi selama jadi orang tertinggi di institusi Polri. ICW mencatat ada dua pekerjaan rumah Tito yang belum beres sebelum ujug-ujug jadi menteri.

Bro Tito masih punya tanggung jawab menyelesaikan kasus penyiraman air keras (ehem) penyidik KPK Novel Baswedan. Mosok wes dua tahun enam bulan lho cuk, pelaku ambek dalange durung kepek.

Nah yang kedua (ehem), Tito juga terlibat perusakan salah satu barang bukti kasus dugaan suap yang ditangani KPK—atau biasa disebut buku merah (ini bukan bukunya Mao Zedong!) Diduga dalam catatan buku merah, ada nama Tito (ehem) yang menerima aliran dana dari seorang pengusaha.

Wih wih wih..

Kurnia bilang, seharusnya ini dijadikan indikator Jokowi, tepat nggak mengajak Bro Tito gabung dalam kabinet baru. Sejauh ini sih, Pak Jok belom menjawab dengan tegas soal pengangkatan mereka yang punya rekam jejak negatif itu.

Tapi shantaaay. Dua nama tadi kontroversial masih menurut ICW tok lho lur, belum lainnya. Menurut  Komnas HAM kayaknya sih juga ada lagi. Hehe.

Jadi, nggak usah atek kemenyek mencibir Pak Nadiem dkk menteri arek enom seng jek kaet bertugas. Biarin mereka bekerja dulu. Mending nyacati menteri seng jelas-jelas rekam jejake elek ae. Ben berbenah, atau sisan mundur ae!