Dari 267 juta jiwa penduduk Indonesia, sekitar 83.376 di antaranya ikut menandatangani petisi pembubaran Front Pembela Islam (FPI) di situs change.org. Ini berarti ada nol koma nol sekian persen penduduk yang ingin izin FPI di Kemendagri tak diperpanjang.

Hitungan ini belum penduduk lain yang belum melek internet dan mengetahui adanya situs petisi. Atau mungkin, ada juga petisi-petisi pembubaran lain. Kalau semuanya dijumlahkan, mungkin hasilnya bisa lebih banyak.

Alasan untuk tak memperpanjang adalah karena citra FPI sudah telanjur buruk. Dalam petisi, dituliskan bahwa FPI, “menimbulkan keonaran, keresahan, dan gesekan keamanan di masyarakat.”

Salah satu sosok yang akhir-akhir ini dikaitkan dengan isu pembubaran FPI adalah Fachrul Razi, Menteri Agama di kabinet baru Jokowi. Dilansir Tempo, dirinya menegaskan tak akan memberi rekomendasi bagi perpanjangan izin ormas yang masih mencantumkan khilafah dalam AD/ART-nya. Dalam hal ini, termasuk FPI.

“Kalau FPI, urusan hukum. Nanti secara hukum (diputuskan) mau diperpanjang atau ndak. Kan izinnya udah habis,” ujar Fachrul.

Fachrul secara tegas menyatakan bahwa paham pro-khilafah yang dianut seluruh ormas tidak akan diakomodasi.

Sejauh ini, semua izin ormas, termasuk FPI, tidak dikeluarkan Kemenag, tapi Kemendagri. Tapi kalau ingin perpanjangan izinnya diproses Kemendagri, ormas harus menyerahkan surat rekomendasi dari Kemenag ke Kemendagri.

Sementara, masih dilansir Tempo, Sugito Atmo Prawiro, Ketua Bantuan Hukum FPI menyatakan, sejauh ini FPI belum melengkapi persyaratan. Tapi permohonan surat rekomendasi sudah diajukan ke Kemenag.

Intinya, Fachrul bukan tidak akan memperpanjang izin FPI, melainkan tidak akan memberikan rekomendasi bagi ormas yang masih mencantumkan khilafah dalam AD/ART-nya. Kemenag hanya berwenang memberikan rekomendasi. Perpanjangan izin ormas tidak dikeluarkan oleh Kemenag, tapi hanya satu pintu lewat Kemendagri.

Terlepas dari hal-hal teknis di atas, mungkin Fachrul bisa mempertimbangkan aspek lain selain khilafah dalam AD/ART ormas. Mungkin ini tak terlalu mengarah ke konteks kekinian, tapi pembahasan akan rekam jejak FPI akan tetap relevan selama ormas ini berdiri.

Selama ini, dari kacamata objektif, banyak aksi kekerasan yang dilakukan oknum FPI. Termasuk penyerangan tempat hiburan, bar, dan—yang paling kami sesali—penyerbuan ke markas Majalah Playboy Indonesia yang membuat Erwin Arnada, pemimpin redaksinya, harus masuk bui.

Rekam jejak FPI juga amat jauh dari semangat guyub rukun, bahkan terkesan menolak demokrasi, toleransi, dan keberagaman—nilai-nilai luhur yang sudah jadi jati diri bangsa.

Kalau ini terus dibiarkan, dikhawatirkan disa memicu gerakan-gerakan lain. Raditya Rahman, pengamat politik menuliskan dalam kolom Bali Express, bahwa gerkan brutal nantinya juga bisa “berdampak pada gerakan politik.”

Kembali ke konteks khilafah, yang dalam hal ini adalah sistem, Raditya berpendapat bahwa sekelompok orang yang memiliki pemikiran untuk mengubah dasar negara, sudah jauh menyimpang dan berbahaya. Kalau Pancasila sebagai dasar negara berubah, maka otomatis Indonesia sudah tidak ada lagi.

“Terkait dengan perizinan FPI, tentu pemerintah tidak perlu ragu untuk tidak memperpanjang izin operasional FPI. Dalam hal ini, pemerintah perlu tegas dalam bertindak karena hal tersebut bukanlah kriminalisasi agama dan phobia Islam,” tulis Raditya dalam kolom Bali Express.

Kembali ke persoalan khilafah, Menkopolhukam Mahfud MD juga sempat menyatakan pendapatnya dalam salah satu episode Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu Karni Ilyas. Menurutnya, tak ada yang namanya sistem khilafah dalam Islam. Yang ada hanyalah adalah prinsip khilafah dalam Al-Quran.

“Khilafah maksudnya adalah negara yang memiliki pemerintahan, namun sistemnya seperti apa, Islam tidak mengajarkan soal itu,” ujar Mahfud. “Artinya setiap negara bisa menentukan sendiri sistem pemerintahannya,” tambahnya.

Sebagai santri asal Madura, Mahfud bahkan menantang para pro-khilafah menunjukkan bagian mana dalam Al-Quran yang menunjukkan khilafah sebagai sistem. Pernyataan tegas yang membuat beberapa bintang tamu ILC deg-degan, dan beberapa penonton seperti kami, akhirnya tercerahkan.