Bukan hal yang aneh kalau Surabaya panas. Tapi akhir-akhir ini rasa-rasanya kayak panas gila. Kayak makan Samyang, tambah Bon Cabe level 30, tambah ulekan enam puluh cabe rawit keriting. Ibarat rujak cingur, ini tipe rujak yang nggak bakalan kamu nikmati karena saking pedesnya sampek pait.

Saat artikel ini ditulis saja, suhu sudah mencapai 34 derajat celcius. Padahal udah pukul tiga sore! Mukamu yang sedang di jalan pasti udah berubah nggak karuan. Berminyak, penuh bakteri penyebab jerawat, dan—yo sepurane—tambah welek nggak karuan.

Jadi kalau kamu bersiap nyusul gebetan buat kencan awal minggu, kudu siap sedia paling tidak kanebo atau Garnier Micellar Water atau apalah biar ngelap wajah supaya nggak terlalu buruk rupa.

Nggak cuman ke penampilan, panas model begini juga ngefek ke mood. Bawaannya jadi pengen ngegas aja. Konco kerjo sak kantor caper kudu maido. Konco sak kosan tambah kopler kudu ngaplok. Pacar rewele naudubilah kudu selingkuh ae rasane.

Istilah panas kentang-kentang atau hot potato-potato, kayaknya nggak relevan deh. Ini panasnya kayak nggak umum banget. Hot hell-hell kali, ya.

Kamu mungkin sudah mencoba meredam panasnya mentari hari ini dengan gelogokan es teh manis, rokok menthol, atau playlist indie-folk-pegunungan dari Mas Fierza Beser. Tapi toh nggak ngaruh anjir. Bawaannya kayak sumuk gitu gerah, kelek teles nggak karuan, sempak jemek, irung rasane lengket.

Coook!

Terus yaopo? Nggak semua area juga dilengkapi AC—enak kali ya kalau semesta raya ini ada settingan AC-nya—ditambah lagi kipas angin soak yang kalau diputer paling tinggi sekalipun, nggak bikin makin adem malah tambah puanas semprotan angine.

Ngadem di masjid yo ngono. Basah-basah air wudu bentar, dadakno mari salat yo garing. Adakah yang dapat menyelamatkan kita?

Saat mandi udah melulu gobyos sak marine andukan, saat renang berarti gosong pas naik ke permukaan, saat Sprite hanyalah penyembuh sesaat belaka, mungkin yang kita butuhkan saat ini hanya hujan.

Hujani aku, Dewa Hujan!

Dilansir IDN Times, Ahmad R Huda, Prakirawan BMKG Juanda menyatakan, kenaiakan suhu udara di Jawa Timur utamanya Kota Surabaya ini berhubungan dengan fenomena Kulminasi Utama 2 tahun 2019—yang merupakan gerak semu matahari ke arah selatan.

Ini membuat posisi matahari berada di atas kepala. Jadi rasa-rasanya kayak di-abab-i nogo. Nggak hanya sampai situ, ini prediksinya akan mencapai puncaknya pada 12 Oktober mendatang, dengan suhu naik sampai 37 derajat celcius. Hembok!

Nggak salah sih kalau Minggu (6/10) kemarin Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim menggelar salat istiqa alias meminta hujan. Nggak cuman di Surabaya aja sih emang kerasanya. Sejumlah daerah kini juga diterpa kekeringan. Imbasnya, ada yang sampai mengalami kebakaran hutan dan lahan juga.

Khofifah dilansir CNN Indonesia menyebut, salat yang diikuti ribuan orang di lapangan Mapolda Jatim ini menunjukkan kebersamaan dan harapan yang besar, supaya Allah segera menurunkan hujan.

“Memohon (supaya) Allah berkenan menurunkan hujan yang membawa berkah bagi bumi Jawa Timur, yang tentu adalah hujan yang membawa berkah bagi daerah-daerah yang masih mengalami kemarau hingga kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Jadi gimana rek, aduh, nguwelake rek. Ojok lali ngombe, ojok sampek dehidrasi, yo. Uhuk, ngelake nemen se rek. Sek tak nggelogok banyu jeding sek!