Bila Anda tercebur atau menceburkan diri ke dunia kepengasuhan anak, cepat atau lambat Anda akan menyadari situasinya tak jauh beda dengan situasi pilpres atau suporter sepak bola.

Ada kubu-kubu berbeda pandangan dengan pendukung garis keras masing-masing. Ada kubu breastfeeding vs formula feeding, ada kubu bobok bareng anak vs anak bobok sendiri, ada kubu gendong-bayi-sering-sering vs kubu jangan-gendong-bayi-sering-sering, kubu bedong vs anti-bedong, kubu sekolah-sedini-mungkin vs sekolah-selambat-mungkin, dst, dsb

Judgement dan bully-annya tidak kalah serem dibandingkan dalam pilpres dan sepak bola. Ndak sembarang orang kuat menjalaninya. Percayalah. Makanya saya mencukupkan diri dengan dua anak saja. Haha.

Yang paling seram bagi saya bukan tudingan dan penghakiman dari pihak luar, tapi tudingan dan penghakiman dari diri sendiri. Keraguan selalu mengintai di setiap sudut dan persimpangan jalan:

“Apakah saya sudah melakukan hal yang benar?”, “Apakah ini keputusan paling tepat?”, “Apakah saya orang tua yang baik?”, “Jangan-jangan anak-anak akan lebih bahagia bersama orang lain?”

Ini keraguan-keraguan yang melumpuhkan. Apalagi di tengah banjir informasi mengenai cara kepengasuhan yang rata-rata mendaku sebagai paling benar dan paling baik. Yang membuat seolah-olah kalau kita tidak mampu mencapai standar itu, maka kita adalah orang tua terburuk di dunia.

Yang lebih membingungkan, informasi-informasi ini kadang saling bertentangan. Mana yang benar? Semua orang mengklaim pilihannya yang paling tepat. Tapi masa iya semuanya benar? Lantas bagaimana kalau pilihan yang kita ambil salah? Bagaimana kalau masa depan anak jadi hancur gara-gara metode kepengasuhan yang kita terapkan?

Saya menemukan penghiburan di sela-sela bacaan iseng saya. Dalam buku The Blank Slate, Steven Pinker mengutip beberapa penelitian mengenai kepengasuhan anak. Ada riset-riset yang mencoba memecahkan dilema terbesar dalam psikologi perkembangan: Mana yang lebih berpengaruh, nature atau nurture?

Ternyata sebenarnya keduanya sama-sama berpengaruh. Yah, 50-50 lah… Riset terhadap anak-anak kembar identik yang dibesarkan di lingkungan berbeda menjadi salah satu penentu paling utama. Anak-anak kembar identik ini memiliki jauh lebih banyak persamaan ketimbang dua orang dengan gen berbeda yang dibesarkan di lingkungan serupa.

Tentu bukan berarti kepengasuhan tak berarti. Ya, masih ada 50 persen lagi kok. Cuma yang perlu diperhatikan, 50 persen ini adalah faktor lingkungan.

Nah, faktor lingkungan itu bukan cuma orang tua dan metode kepengasuhannya. Lingkungan ini mencakup hubungan dengan saudara juga, dengan teman, dengan guru, tetangga, dan kakek- nenek, juga mencakup hal di luar hubungan sosial seperti kondisi ekonomi, asupan gizi, paparan gawai, dan masih banyak lagi.

Jadi, bisa dibilang peran kita sebagai orang tua ternyata lebih besar dalam soal mewariskan gen saja ketimbang dalam mengasuh dengan sempurna.

Waktu ada yang protes pada Pinker, “Lha, kalo gitu ngapain aku memperlakukan anak dengan baik dan mengasuhnya susah-payah kalau ternyata tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk pribadinya?”

Pinker balik bertanya: Bukankah dalam hubungan saling cinta seperti hubungan ortu-anak dan hubungan suami-istri, memperlakukan dengan baik adalah keharusan yang muncul karena cinta? Bukan karena pamrih agar pasangan atau anak bisa jadi orang yang begini atau begitu?

Jengjeng!

Tentu, Pinker juga menegaskan bahwa riset itu mengasumsikan terpenuhinya hal-hal mendasar, misalnya soal ketiadaan kekerasan fisik atau psikologis yang ekstrem. Namun begitu standar minimal terpenuhi, ada ambang toleransi teramat besar terhadap ragam pola kepengasuhan.

Kata Pinker, riset-riset yang dia kutip malah mendukung konsep “takdir”. Anak adalah perpaduan antara gen Anda dan gen pasangan. Soal bagian mana dari gen Anda atau gen pasangan kita yang akhirnya diwarisi anak, manusia tidak bisa mengaturnya (yah, setidaknya sampai saat ini sih).

Itu adalah benar-benar soal takdir. Kita tidak pernah tahu apakah anak akan mewarisi hal-hal baik dari diri kita atau hal-hal buruk. Ketika lahir, kita juga tidak pernah tahu apakah cara kepengasuhan yang berhasil pada keluarga lain, bahkan keluarga orang tua Anda sendiri, akan berhasil pada anak Anda sekarang.

Karena kita tidak pernah dapat memastikan hasil akhir pilihan-pihan kepengasuhan yang kita buat, kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan berdoa (if prayer still works for you, of course).

Meski tetap tidak jelas begitu, terus terang saya malah jadi agak lega. Saya jadi tidak terlalu ketakutan kalau sesekali saya atau suami kelepasan melakukan hal-hal yang terlarang dalam ilmu parenting, atau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang tua kami. Yang paling penting, saya sudah dan akan selalu berusaha menjadi orang tua sebaik yang saya mampu, sisanya saya serahkan pada Yang Kuasa. Fatalistik yo ben. Hehehe