Mancing iku penggaweane wong males. Lha sedinoan nang pinggir kali ngenteni iwak seng gak sepiro’o. Tuku po’o nang pasar!

Wong mancing iku angel dijak maju. Soale, senengane ngenteni. Iyooo, ngenteni. Ngenteni iwak nggondol pakane.

Dua pernyataan yang selalu menggelitik telinga dari komentar para awam yang tidak tahu seluk beluk permancingan duniawi itu lama-lama ya resek juga sih. Mereka beranggapan kalau wong mancing itu bisanya cuma nunggu rezeki. Tidak berusaha keras untuk mendapatkannya.

Padahal, orang mancing itu paling setia lho. Ikan aja ditungguin. Kepanasan, keujanan. Tetep setia. Apalagi cuma nungguin cintaku ke kamu yang bertepuk sebelah tangga.

Kadang kubertanya dalam hati yang paling deep, kenapa sih wong mancing itu selalu dianggap jelek. Nggak punya masa depan. Jauh dari cuan dan puan. Yha, gimana mo dapat puan baunya aja lebus kek kocheng! Hilih!

Sek sek, Rek. Bijim! Tak kandani yo. Cobaken tala dulino nang toko pancing di Jalan Kalimantan, HR Muhammad atau Cedak JMP. Iku toko pancing kelas get! Yang beli alat dari berbagai kalangan dan tidak sedikit mereka dari kalangan sultan. Mohon maaf nih yha bagi yang kaum misqueen jangan kedutan matanya.

Kalau ngumpul di dekat toko-toko itu, yang dibicarakan dari sewa kapal sampe rencana trip berhari-hari. Dari piranti kelas dewa sampai kasta brahmana. Bukan sudra kek kamu, LURD!

Awakmu dituku karo wong-wong iku yo kisoken!

Nah, kalau ada anggapan bahwa wong mancing itu susah diajak maju ya jelas lah. Lha di depannya ada air, gimana mau diajak maju. Bisa-bisa ya slulup dong.

Pokoknya yah, bagi penduduk negara berflower, wong mancing itu nista. Aib bagi peradaban masyarakat yang kekinian. Kami cuma kopi sasetan bagi keliyan nak setarbak. Iyhaa, emang. Kalian semua suci kami penuh tosa.

Beklah.

Tiga tahun sejak memutuskan pindah dan makaryo di Kota Pahlawan, memancing bagi saya sudah menjadi hobi pelepas penat dari rutinitas. Refreshing sekaligus nambah dulur.

Di sungai, semua tumplek blek jadi satu. Nah, salah satu spot favorit legendaris ala pemancing liar Surabaya adalah Kali Jagir.

Sek-sek, sampean mancing nang Jagir oleh iwak tah? Niat mancing tah mbalon? Ehm. Karo-karo neh sakjane. *eh

Sejak penertiban bangunan liar di bantaran sungai Jagir sebelah utara, sekarang kawasan ini berubah menjadi taman bermain yang apik. Mesio ta sarana ayunan cuma satu, tapi yang penting bisa bandulan dan bergantungan. Yang penting kamunya nggak suka gantungin aku…

Mancing di kali Jagir seperti rambutan. Ada musimnya. Kalau awal kemarau, musim ikan Baramundi alias kakap putih. Nek wong Suroboyo ngarani iwak cukil.

Untuk bulan Agustus, musim ikan urang robot alias conggah. Nah, untuk musim penghujan, biasanya yang ada iwak rengkik.

Yang tidak mengenal musim yha jelas ikan tawes alias bader. Juga keting, mujair, dan sapu-sapu alias iwak tekek. Loh iwak opo tekek, tekek kok koyo iwak. Gimana sih?

Teknik mancing bermacam-macam dengan umpan tak kalah bervariasi. Lumutan umpan lumut target mujair. Cacingan umpan cacing belum tentu sing mancing gak cacingan. Kambangan yang biasanya menggunakan pelampung, nek bengi iso kelap-kelap ijo. Dasaran lempar tengah dengan timah pemberat di tali senarnya. Nyantol pedot del ganti timah lagi.

Kalau saja sungai bisa dikeringkan, mungkin sepanjang aliran Rolak Gunungsari, Kali Mas, Jagir ada banyak peninggalan pemancing salah satunya timah berkilo-kilo.

***

Nah, sekarang ini ada teknik mancing yang agak aneh. Salah satunya adalah ngeranjo.

Ngeranjo adalah memancing tanpa kail tapi pakai jaring yang diberi pemberat, yakni batu dalam plastik. Dibantu senar, joran dan reel pancing, mereka melemparkannya ke air sungai yang mengalir.

Pertiinyiinnyi, iki lak njaring, tapi kok yha diarani mancing. Sungguh ambigu mendefinisikan ngeranjo, mancing tapi njaring-njaring tapi nggaewe piranti pancing.

Tapi yha gaes, soal hasil jangan ditanya. Memanfaatkan arus dari pintu air, yang tercyduk adalah ikan babon golongan bader dan jendil. Kalau mancing konvensional cuma bisa buat lauk sekeluarga, nek ngeranjo sehari saja bisa ngasih makan orang satu RT.

Tapi Gaes, sensasi tarikan ikan tidak didapatkan dari ngeranjo. Rasane mek koyok narik gombal mukiyo seng kelelep dalam kenangan masa lalu kamu.

Nah, berdasarkan hasil cangkruk random pinggir kali dengan penjaring asli Surabaya, ternyata memang ada disrupsi di dunia permancingan duniawi. Para pemancing konservatif seperti saya hijrah untuk jadi pelaku ngeranjo.

Berikut ini kesaksian salah satu dari mereka.

“Biyen kulo anti kalau wong mancing jaring Mas… Wak wet wat wet… Bareng pernah mancing bareng. Kulo umpan lumut sebelah tiyang mancing jaring lah kok cepat sebelah. Belum apa-apa sudah dapat nila babon gedhe-gedhe. Langsung kulo tanglet. Pintenan jaring model nginian? Mung limang ewu untuk dua kali penjaringan. Murah ternyata, masio seket ewu tuku!”.

Demikian pernyataan informan yang ingin namanya dialirkan di Sungai Jagir.

Bagi pemancing liar garis keras seperti saya, tujuan memancing tidak hanya pada hasil. Tapi juga tentang, seperti kata Bang Haji Rhoma Irama, perjuangan dan doa. Saat ikan mulai makan umpan selanjutnya haup menyambar sensasi tul tul slup yang itu yang bikin ketagihan.

Apalagi saat dipastikan kail menancap sempurna (hook) di mulut ikan. Tarik tambang di pinggir kali terjadi. Kadang mata kail menancap sempurna di tes kresek Indoremet, diapers wadah telek bayi, kayu, dahan, charger HP, sarung, kutang, kurungan manuk sampai rekor mancing saya pernah ngangkat jendela.

Betapa variasi sampah di aliran sungai kota Surabaya.

Sampean mancing monggo, ngeranjo nggeh monggo asal jaga kebersihan sekitar spot. Memungut dan membawa pulang kembali sampah yang ada disekitar kita. Insyaallah dengan menjaga kebersihan mancinge gak boncosan koyok aku. Sedih. Hiks.