“Mama sudah punya akun Instagram,” celetuk ibu saya beberapa tahun silam. Sontak saya kaget dan pikiran langsung melayang ke mana-mana. Berbagai kecemasan seolah langsung hinggap menyusul pengakuan ibu saya itu.

Tenang, saya nggak takut ibu mengawasi aktivitas bermedia sosial anaknya. Apalagi saya jarang menggunggah hal yang aneh-aneh yang bisa bikin ibu mengelus dada dan geram. Sejauh ini, media sosial hanya saya jadikan wadah untuk berkarya. Sesekali sebagai ajang untuk memamerkan sifat narsis, melalui foto yang dibagikan.

Saya justru mengkhawatirkan ibu terpapar informasi yang begitu riuh di Instagram. Apalagi, media sosial ini begitu candu bagi beberapa orang, tak dipungkiri termasuk saya. Makanya, saya langsung berpesan ke ibu agar tidak menghabiskan waktu seharian dengan hanya menjelajah dan menggulirkan linimasa Instagramnya.

Sebagai platform multimedia, Instagram mendukung penggunanya mengirimkan unggahan dalam bentuk video, tulisan, dan foto. Instagram rawan disalahgunakan oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memviralkan konten yang tidak senonoh, belum tervalidasi, dan menyudutkan pihak tertentu.

Hal macam ini akan lebih mudah dipercayai oleh orang tua yang gagap teknologi dan minim akses terhadap berita yang bersumber dari media yang kredibel dan valid.

Untuk itu, saya langsung memberondong ibu dengan berbagai pesan dan panduan dalam menggunakan Instagram. Termasuk bagaimana cara memilah informasi berdasarkan kebenarannya dan bagaimana cara untuk tidak buru-buru terpancing emosi atau menyebarkan info yang belum jelas juntrungannya.

Pasalnya, sudah banyak ditemukan contoh bahwa orang tua adalah individu yang rentan menjadi target dari penyebaran berita hoaks dan propaganda yang salah kaprah via Instagram.

Dengan cara yang halus dan tidak terkesan menggurui, saya menekankan ke ibu untuk mengikuti akun-akun yang setidaknya bakal memberikan pencerahan soal perkembangan isu terbaru. Misalnya, dari media massa yang sudah terdaftar di Dewan Pers.

Lalu, saya minta ibu untuk memenuhi beranda Instagramnya dengan konten dari tokoh-tokoh ternama yang memiliki pengaruh positif yang bisa membantu ibu mengembangkan dirinya baik dalam hal pendidikan atau hobinya.

Untungnya, ibu menuruti perintah saya. Bahkan, ia tidak mau tergelincir dalam kesalahan bermedia sosial. Apalagi mengingat sekarang eranya banjir informasi yang sulit dibendung dan konsumen harus cerdas dalam menerima.

Lain dengan bapak, yang saya panggil Papa. Dibandingkan ibu, bapak jauh lebih aktif berselancar di media sosial. Bahkan saya menjulukinya sebagai “budak” Youtube karena kegemarannya menenggelamkan diri saat ber-Youtube ria.

Bapak bukan konten kreator. Ia hanya penonton setia dari setiap tayangan yang berseliweran di beranda Youtube. Bapak hanya menyaksikan konten yang direkomendasikan tim Youtube, termasuk yang sedang populer dibicarakan khalayak luas.

Sayangnya, konten yang dilihat jutaan penonton itu tak jarang tidak berbobot. Konten yang bermutu kalah saing dengan konten yang hanya mencomot karya orang lain tanpa izin, konten yang bertujuan untuk memecah belah persatuan, konten mistis yang belum bisa dipastikan keasliannya, dan konten serampangan lainnya.

Karena saya tidak ingin bapak dikibuli tayangan yang tidak berkualitas, saya lantas mengajari bapak tentang cara menyaring tontonan. Mengedukasinya tentang semua yang ditampilkan di media sosial adalah realitas tangan kedua yang telah melewati penyuntingan dan lolos seleksi menurut si pembuatnya. Jadi, bisa saja ada bagian yang sengaja dipotong.

Saya juga jelaskan tentang bagaimana cara media sosial bekerja, yakni menganut prinsip agenda setting. Setiap kreator konten akan mengatur tayangan yang ditampilkan berdasarkan tujuan yang ingin mereka capai.

Makanya, wajar saja ada konten yang begitu anarkis dan kontroversional. Bisa jadi memang untuk menakut-nakuti penonton, membangkitkan kepanikan, dan mengusik ketenangan.

Semua itu saya paparkan ke bapak dan ibu saya supaya mereka tidak jadi korban ganasnya hoaks yang berseliweran di media sosial. Agar kedua orang terdekat saya ini tidak termakan kabar bohong yang memperkeruh suasana dan memperuncing perselisihan.

Bapak dan ibu saya mungkin beruntung karena keduanya dibekali pengetahuan yang memadai tentang siasat menghadapi berita hoaks. Mereka bisa mengusut dan membandingkannya dengan berita valid dari media massa terpercaya.

Kedua orang ini juga dikelilingi oleh anak-anak yang begitu peduli dan tak henti menerangkan tentang cara menjadi konsumen media sosial yang aktif, bukan pasif begitu saja saat menerima luberan informasi.

Mereka tak sampai harus takluk pada kegarangan media sosial. Sehingga, “teori peluru” atau “jarum hipodermik” tak mempan bagi keduanya.

Ya, teori komunikasi ini menyebutkan bahwa khalayak akan mudah dipengaruhi oleh pesan yang ditembakkan oleh media sosial atau media massa. Saking kuat pengaruhnya, sampai membuat orang tak berkutik mengelak dan otomatis menyetujui dan percaya.

Bagaimana dengan orang tua yang kebetulan tak mendapat akses memadai untuk mengetahui bahwa mereka sudah termakan berita hoaks? Selagi kita mampu, ya mending bantu mengentaskan orang tua untuk menjauhi kubangan informasi bohong. Sadarkan mereka bahwa mereka telah salah mempercayai informasi.

Ajak mereka untuk meningkatkan kemampuan berliterasi, karena literasi tak sekadar tentang baca dan tulis, namun juga tentang kemampuan memperkaya diri dengan pengetahuan yang dijamin keaslian dan kebenarannya. Termasuk menyaring berita bohong yang menyerang dari berbagai lini media sosial dan media massa.

Tanamkan keberanian kepada orang tua agar lebih berani bersuara kepada teman-temannya untuk sama-sama menumpas hoaks.

Menghentikan hoaks bisa sesederhana dengan tidak buru-buru membagikan berita yang belum terklarifikasi kebenarannya. Apalagi kita sering mendengar grup WhatsApp milik para orang tua sering diramaikan dengan unggahan hoaks. Ajak mereka untuk mengisi media sosial dengan konten mendidik dan positif.

Literasi di Kalangan Anak

Lain orang tua, lain pula dengan anak. Anak, dengan kemampuan berpikir yang belum matang, begitu mudah disusupi dengan hoaks. Di masa sekarang, hoaks bertebaran dari berbagai sarana, dari cara yang konvensional dari mulut ke mulut, hingga cara masif dan digital lewat saluran komunikasi online. Makanya, kita harus mulai bergerak memberikan kecukupan literasi kepada anak.

Sayangnya, kerap terdengar orang tua mengeluhkan anaknya yang ogah-ogahan ketika disuruh membaca. Anak lebih memilih mengisi waktu dengan bermain gim daring. Di sekolah pun, anak tidak menunjukkan antusiasmenya saat guru. Lalu orang tua sibuk menyalahkan guru yang tidak becus mengajar.

Padahal, sang anak menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah. Jadi, upaya menanamkan kecintaan terhadap literasi semestinya dimulai dari rumah. Jadi buat para orang tua, mari berintrospeksi. Apakah sudah melakukan usaha untuk menumbuhkan budaya literasi kelurga (BuLiKe)?

Apakah sudah ikut mendampingi anak untuk menyukai buku dari hal-hal sederhana? Ya, orang tua bisa mulai dengan mencontohkan kebiasaan membaca buku di waktu senggang. Tanpa disadari, anak akan meniru itu.

Di usia yang masih bocah, anak butuh teladan yang akan menggiringnya untuk melakukan hal yang serupa.

Saya merasa bersyukur sekali memilki privilese, bahwa kedua orang tua saya begitu memperhatikan asupan nutrisi berupa ilmu bagi otak anak-anaknya. Mereka tidak pernah kelewatan untuk mengajak anak-anaknya pergi ke toko buku tiap pekan. Padahal, toko buku tersebut hanya berada di kota tetangga, yang harus ditempuh dengan perjalanan selama satu jam.

Lalu saya dibebaskan memborong aneka buku yang saya mau. Asalkan saya berjanji akan membacanya. Saya ingat betul, saya pernah asal mengambil buku tentang cara beternak lele. Meski hingga sekarang, belum pernah saya praktikkan.

Di rumah juga tersedia majalah anak-anak, majalah berbahasa Jawa, koran lokal, dan surat kabar nasional yang selalu saya bolak-balik isinya sambil menyesap makna dari setiap kata yang tertulis. Saya catat kata-kata yang tidak saya mengerti, lalu akan saya tanyakan ke ibu tentang artinya. Cara ini terbukti manjur mengasah dan meningkatkan kemampuan saya mengolah kata dan berbahasa.

Budaya literasi keluarga memang harus dibentuk oleh orang tua. Saat berada di rumah, orang tua harus menjauhi gawai ketika sedang di hadapan anak. Anak juga perlu ditemani ketika sedang mengakses sebuah informasi entah itu dari buku atau dari perangkat cerdas. Lalu, taruhlah perpustakaan mini yang letaknya mudah dijangkau dan dilihat anak. Sehingga pandangan anak langsung tertuju ke sana.

Berhubung dulu belum ada dana untuk merancang ruang khusus, ibu menyiasati ketersediaan perpustakaan itu dengan meletakkan buku atau majalah di berbagai tempat. Menaruhnya di meja makan, di sudut kamar, di rak ruang tamu, bahkan di tembok pembatas kamar mandi.

Ketika keuangan sedang menipis, ibu tak kehilangan akal untuk tetap memasok buku dan majalah kepada anak-anaknya. Ia mengajak kami (aku dan adikku) ke Stadion Diponegoro yang di sekelilingnya terdapat lapak penjual buku bekas. Keseruan berburu bukunya tetap sama ketika kami menekuri toko buku konvensional.

Kata ibu, yang penting jangan sampai beli buku bajakan. Kita harus menghargai karya penulis dan kerja keras orang-orang di balik tercetaknya sebuah buku. Jadi, pembiayaan memang harus dipikirkan matang ketika ingin menerapkan budaya literasi keluarga.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebenarnya telah menggagas gerakan Budaya Literasi Keluarga yang mendorong masyarakat untuk menghentikan sejenak penggunaan ponsel pintar pada pukul 18.00 sampai 20.00 WIB. Pada jam tersebut, saatnya orang tua mencurahkan waktu untuk menyemai bibit literasi kepada anak.

Anak bisa dipancing untuk terlebih dahulu suka dengan sampul sebuah buku. Tidak harus memaksakan anak untuk langsung jago membaca, menulis, dan berhitung. Biarkan anak untuk bercerita soal kegiatan yang ia jalani hari itu. Orang tua pun harus merespons agar anak merasa diperhatikan dan merasa keberadaannya dianggap sebagai individu yang utuh.

Jika anak sudah merampungkan bertutur, tutup dengan nasihat dan pujian yang bisa membangkitkan sang anak. Lalu ajak anak untuk menggambar, mewarnai, atau bernyanyi. Tentunya dengan materi yang disesuaikan dengan umur anak. Jangan tiba-tiba menyanyi lagu dangdut koplo yang liriknya vulgar dan hanya pantas didengarkan oleh orang dewasa.

Semoga yang sedang menjalani biduk keluarga bisa mengaplikasikan budaya literasi keluarga. Sedangkan yang sedang mempersiapkan pernikahan, juga harus mempertimbangkan untuk menggalakkan budaya literasi keluarga. Agar generasi penerus bangsa kelak adalah generasi yang melek informasi dan cerdas.