Masalah manusia biasanya gak jauh-jauh dari urusan gendakan. Misalnya, menjomblo sekian tahun dan gagal nggendhing berkali-kali seperti Aga, pimred DNK, yang baru saja nyaris menggadaikan semua yang dimiliki gara-gara kalah taruhan.

Yang tersisa cuma remahan hatinya, yang menurut gaden yo gak payu kate diapak-apakno. Makane gak ditawar blas.

Tidak jarang, kasus menjomblo ini berujung dengan hati yang tersakiti lalu menjadi obsesi tidak terkira hingga membutakan akal sehat dan rela menempuh jalan yang tidak seharusnya. Seperti di kasus saya yang terdahulu.

Yang jelas, banyak orang yang rela menghalalkan berbagai cara demi urusan hati dan selangkangan. Mau cocok apa enggak, pokoknya hajar aja dulu.

Obsesi berkedok urusan hati sih sebenernya. Berdasar gedabrusane motivator cinta, katanya, “Level tertinggi dalam mencintai itu ikut bahagia melihat dia bahagia, meski bukan denganmu”.

Nggh, koen!

Tak kandani yo, Rek. Sak ombo-ombone alas, sik omboan alasane motivator! Ndi onok ati melu bahagia nek ndelok gendakanmu mlaku karo lanang liyo? Omong seng ta! Sing ono yo cinta ditolak, emosi memuncak, dukun bertindak, terus nggawe anak!

Sepasang jarum pentul tadi adalah gambaran pasangan yang diikat untuk bersama satu sama lain. Gampangannya, Lani dipelet orang.

 

Cerita terkait perdukunan ini datang dari teman saya, sebut saja Lani. Sesungguhnya, dia adalah cewek biasa-biasa saja yang gak bakal bikin leher cowok mlintir sampe dikaplok pacarnya cuma gara-gara Lani lewat.

Tapi gak tau gimana ceritanya, ada aja cowok yang kecantol sama dia. Sik payu lah meski biasa aja gitu. Gak kaya pimred DNK yang satu itu. Dia sih buntung terus urusan jodoh.

Sayang, kali itu nasib Lani tidaklah mujur. Kalo biasanya cowok yang kecantol sama dia gedabrukan gak karuan cuma buat denger harapan palsu, kali ini yang terjadi sebaliknya. Lani yang kantil gak karuan.

Ya emang tidak ada yang salah sih dengan usaha cewek untuk mendekati cowok terlebih dahulu. Tapi tentu ada yang salah ketika cewek itu blah-bloh manut wae ama pujaannya sampai mak mbendunduk sepasang jarum pentul mencungul di balik jok mobil.

Seiring munculnya jarum itu, perlahan hilang pula minat Lani kepada cowok yang selama dipuja.

Parahnya, setelah kejadian itu, hidup Lani tak lagi tenang. Ada berbagai macam kejadian tidak masuk akal yang mungkin membuat orang menganggap Lani berhalusinasi dan mulai butuh penanganan mental oleh profesional. Makin lama, kejadian tersebut makin membahayakan.

Gimana enggak, jeh! Lani nyaris dihajar truk gara-gara kaget ada yang menghantam mobilnya. Pas dilirik, gak ada apa-apa. Untungnya, dia langsung fokus lagi ke jalanan dan sempat menghindari truk tadi. Kalo gak, ya beneran ada hantaman yang n999eri.

Usut punya usut, jarum tersebut muncul setelah Lani mengantar pulang Joko, salah seorang temen yang pernah nyantren dan mayan alim. Joko akhirnya angkat bicara saat mengetahui Lani didera kejadian yang mbuh-mbuhan tadi.

Joko memang merasa ada yang aneh ketika berada di mobil Lani. Dia akhirnya membacakan ayat-ayat Alquran untuk melindungi Lani. Njekethek malah mencungul jarum pentul itu.

Maksud keberadaan jarum pentul tadi pun dicoba untuk diteliti teman-teman Lani. Apakah tujuannya menyakiti Lani seperti yang terjadi pada cerita saya yang sebelumnya, atau ada kemungkinan lain.

Berdasar penelusuran, disimpulkan bahwa sepasang jarum pentul tadi adalah gambaran pasangan yang diikat untuk bersama satu sama lain. Gampangannya, Lani dipelet orang. Diiket biar seneng sama satu orang itu aja dan gak ada cowok lain yang bisa masuk ke hubungan mereka.

Siapa pelakunya?

Wah ya ndak tau. Meski kecurigaan kami mengerucut kepada satu orang, tapi menuduh tanpa bukti konkret dan sekedar asumsi itu namanya fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Padahal fitnah sendiri salah satu bentuk pembunuhan sih. Pembunuhan karakter.

Makanya, jangan terlalu sering tebar pesona, Rek! Gak usah bangga juga kalo ada yang naksir. Justru kalian harus mulai berpikir, apakah dia benar-benar tulus atau malah terobsesi. Salah-salah kalian malah bisa jadi Lani jilid 2. Gelem ta?