Setiap ngebahas privilege, pasti netyjen yang budiman dan maha benar langsung ribut ngana-nganu. Ngerasa paling nggak punya privilege dan nuding pihak-pihak lain dengan, “Ya dia/kamu/kalian sih enak…”

Privilege, berdasarkan Cambridge Dictionary artinya adalah “An advantage that only one person or group of people has, usually because of their position or because they are rich”—sebuah keuntungan yang hanya dimiliki oleh satu orang/golongan, biasanya karena posisi mereka dalam kehidupan atau karena kaya.

Salah satu penggambaran privilege yang paling ngena dan bagus menurut saya sih analogi paper-toss yang dituliskan Nathan W. Pyle di BuzzFeed. Buat yang males googling dan baca artikelnya, akan saya coba jelaskan dengan singkat ya.

Dalam satu kelas, setiap murid diminta untuk melemparkan kertas yang dikremet bunder ser ke dalam tempat sampah yang ada di depan kelas. Murid yang duduk di barisan belakang langsung protes. Mereka merasa kesulitan karena jarak tempat sampah yang lebih jauh dibanding yang berada di depannya.

Hasilnya pun, sedikit sekali murid dari barisan belakang yang berhasil melemparkan kertasnya masuk ke tempat sampah. Sebagian besar yang berhasil ya yang duduk di barisan depan—meski juga tidak semuanya.

Dalam analogi paper toss tersebut, posisi duduk murid-murid tersebut menggambarkan privilege yang melekat secara langsung pada setiap murid, proses pelemparan kertas sebagai usaha yang juga didukung kemampuan, dan tempat sampah sebagai tujuan.

Murid yang duduk di barisan terdepan memiliki privilege atau hak istimewa yang lebih tinggi dibanding teman-temannya di belakang. Mereka bisa melihat tempat sampah sebagai tujuan mereka dengan jelas. Tidak ada hambatan yang tampak dan sekiranya bisa mengganggu usahanya, ditambah jarak yang relatif lebih pendek dibanding murid lain di belakangnya.

Bisa atau tidaknya mereka memasukkan kertas tersebut ke dalam tempat sampah CUMA tergantung pada kemampuan mereka melempar. Bukan tidak mungkin mereka mampu mencapai tujuannya hanya dengan satu kali percobaan.

Sementara itu, murid-murid yang tidak cukup beruntung untuk duduk di barisan depan tentunya akan menghadapi jarak yang lebih panjang. Semakin jauh jaraknya, tentunya membutuhkan tenaga dan keterampilan membidik sasaran yang lebih dibandingkan murid-murid yang ada di depannya.

Bahkan, bukan tidak mungkin mereka perlu berkali-kali mencoba dan gagal sebelum berhasil mencapai tujuannya. Itu juga kalo akhirnya berhasil.

Sehingga sangat wajar jika sedari awal mereka yang berada di barisan belakang lah yang lebih dulu protes dan berargumen “hidup ini tidak adil”.

Mereka melihat jarak yang lebih panjang demi mencapai tujuannya. Mereka juga menyadari usaha yang harus mereka lakukan pasti jauh lebih besar dibanding mereka yang berada di depan sana. Tidak jarang mereka perlu berkali-kali gagal dulu sebagai bentuk pembelajaran mereka menuju sukses—yang artinya mereka juga tidak bisa mencapai gambaran sukses ini dalam waktu singkat.

Mungkin mereka perlu tahunan atau bahkan puluhan tahun baru bisa mencapai tujuan suksesnya tadi. Tentu ini sangat kontras dengan mereka yang terlahir di barisan depan dan bisa mencapai sukses dalam satu kali percobaan.

Contohnya aja nih ya, dalam hal mendapatkan pekerjaan. Normalnya, setiap kandidat perlu mengirimkan lamaran, menjalani tes, baru kemudian mendapatkan informasi apakah mereka diterima atau tidak. Ada banyak tahapan yang normalnya perlu dijalani.

Tapi, mereka yang punya privilege berupa “kenal orang dalam” bisa aja memangkas tahapan tersebut dan diterima dengan pertimbangan sudah tau perkiraan kinerjanya dibanding kandidat-kandidat lainnya.

Jadi, apa salah kalo mereka yang di barisan belakang bilang, “Lu sih enak, punya privilej” ke mereka-mereka yang berada di barisan depan dan cepat meraih sukses? Ya enggak juga, wong bener kok yang disampein.

Terus apa brarti yang berada di barisan depan sana tidak boleh berargumen, “Gue tuh bisa kaya gini karena kerja keras gue”? Ya boleh-boleh aja. Tanpa kerja keras dan usaha juga mereka nggak bisa ada di posisi itu kok. Coba mereka rebahan-rebahan wae dan nggak usaha sama sekali, paling ya tetep jadi seonggok daging tidak berguna di atas kasur.

Masalahnya, masing-masing pihak ini sama-sama nggak mau melek aja. Maunya tubir dan saling nyalahin ngerasa maha bener.

Mereka yang ada di barisan belakang membutakan diri akan usaha dan kerja yang lebih keras dari golongan barisan depan yang cepet meraih sukses. Langsung judge aja kalo semua semata-mata karena privilege dan keistimewaan ini itu yang dimiliki golongan barisan depan.

Parahnya, ada sebagian dari mereka yang menjadikan itu alasan untuk bermalasan dan cursing life. Merasa kalo sebesar apa pun usaha mereka ya nggak bakal berhasil dan tetep aja buntung, jadi buat apa ngoyo nemen-nemen.

Padahal kalo mereka punya privilege yang sama juga belum tentu mereka bisa memanfaatkan semua privilege tersebut buat cepat meraih sukses.

Keadaan kaya gitu juga diperkeruh dengan mereka di barisan depan yang nggak peka dan sok mengedepankan kerja keras sebagai satu-satunya kunci mereka meraih kesuksesan. Tidak sedikit yang kesannya mendiskredit usaha orang lain yang udah pol notok jedok sebagai usaha yang masih nanggung dan tidak semaksimal usaha mereka.

Mereka lupa atau mungkin emang membutakan diri aja sama berbagai macam privilege yang sebenernya banyak mendukung mereka mencapai kesuksesan tersebut. Padahal, belum tentu juga kerja keras mereka tadi bisa berbuah baik kalo mereka tidak memiliki berbagai privilege.

Jadi daripada debat privilege vs kerja keras, lebih baik mulai melihat privilege apa saja yang selama ini kita punya dan mulai memanfaatkan itu untuk membantu mereka-mereka yang kurang beruntung.

Percuma punya privilege segambreng kalo nggak dimanfaatin, dan percuma juga bersungut-sungut ngeliat orang yang punya privilege lebih kalo kitanya sendiri diem-diem bae nggak berusaha apa-apa.

Privilege ini bukan sekedar punya ortu sugeh ngising duit aja lho ya. Bisa baca tulisan ini aja artinya kalian punya privilege akan akses informasi dan internet kan? Masa informasi bagus gini mau dibikin mandek di kalian aja. Ya sebarkan dong, agar lebih banyak orang yang tau dan melek lagi.

Jangan berhenti di kalian kalo kalian tidak ingin sial 7 turunan!