Baca kisah sebelumnya di sini:

Kisah-Kisah Seputar Gerakan 1998 di Jogjakarta (13): Letjend Syarwan Hamid Menepati “Janji”

Mengakhiri tahun 1997, tanggal 31 Desember, Komite Jawa Tengah menutupnya dengan aksi bersama di Bunderan UGM. Kami masih berharap, dia yg sedang pulang kampung (dari penugasannya yang terakhir di Jakarta ke Yogyakarta untuk menengok orang tuanya yang sakit) mau membantu perangkat aksi di Seksi Keamanan.

Tapi tidak, dia tidak mengabulkannya. Mungkin pikirnya, itu untuk melatih tanggung jawab dan juga makin menguatkan kemandirian kerja tim kami yang bertugas di daerah.

Dia baru muncul siang hari, tak lama setelah aksi berakhir. Aku melihatnya masuk ke Fakultas Filsafat dari arah parkiran sebelah utara. Ya, aku memandangnya dan tanpa sadar menikmati resam tubuhnya yang nampak gagah terbungkus hem jeans biru muda yang nampak rapi masuk ke celana jeans juga. Namun, tetap tanpa sepatu, melainkan tetap bersandal jepit swallow

Selepas senja, di luar pagar kampus, di gang antara Fakultas Filsafat dan halaman Fakultas Psikologi, aku menunggu Eko Londo yang sedang mengambil pinjaman motor hendak membeli makan malam.

Di bawah gelap bayangan pohon, terasa ada yang mengawasi. Betul juga, ada lampu motor menyorot dari ujung jalan. Dia berhenti dan diam saja di sana. Hanya mengarahkan sorot lampunya padaku. Ketika aku sadar dan menengoknya, barulah dia bertanya hendak ke mana. Di titik itu, tiba-tiba terasa ada yang aneh. Sesuatu yang tidak biasa kurasakan terhadapnya.

Ada rasa sesal ketika Eko Londo datang dengan motornya dan kami pun berlalu ke Warung Padang Murah Meriah di Jalan Sagan, setelah terjadi tanya-jawab singkat soal mau apa dan ke mana.

Tapi, saat itu juga aku merasa yakin: Dia akan datang lagi menemuiku malam nanti. Isi kepalanya telah “teracuni ideologi” yang akan membuatnya merasa kesepian ketika tidak bisa menemukan kawan “satu kepala”. Jadi, tenang saja. Kita tunggu dan lihat…

Malam selepas makan, aku mencari kawan yang mau kuajak “iseng” keliling kampus dengan pinjaman sepeda onthel. Modusnya: jalan-jalan saja cuci mata mengusir kebosanan. Seingatku, kawan yang kudapat adalah Meong alias Simeon Sofan Sofyan anak angkatan 1994.

Sedangkan agenda terselubungku adalah: melacak keberadaan si penyorot lampu motor “Belalang Tempur” selepas senja tadi. Aku hanya perlu menunjukkan diri dan secara tidak langsung memberitahu di mana keberadaanku sampai nanti…

Ya, kami bersepeda ke arah barat, melewati jalan antara Fakultas Filsafat dan Psikologi, antara Fakultas Sastra dan Ekonomi, ke arah Graha Sabha Pramana.

Benar juga. Nampak dia sedang nongkrong di tembok teras salah satu bangunan di Fakultas Sastra bareng Panji Kusuma anak Sastra, dengan tampang khas “mata mbeyuyutnya”…

Setelah terkoordinasi dalam aktivitas gerakan demokrasi, “kebiasaan aktivitas lamanya” belum hilang. Selama ini, dia dikenal sebagai salah satu personil “Doyonglima”, semacam pelesetan nama salah satu organ politik aktivis mahasiswa kala itu, “Tegaklima-UGM”. Hihihi…

Melihat kelebat kami dengan sepeda, dia pun bertanya dengan agak berteriak (jarak kami agak jauh), “Mau ke mana?”

“Jalan-jalan saja,” jawabku.

Mission accomplished. Sasaran sudah terdeteksi, tinggal tunggu dia datang sendiri nanti kalau “racun” sudah mulai “aktif bekerja”. Aku yakin, dia tidak akan tahan untuk tidak berdiskusi “situasi terkini” dengan kawan “satu level ideologi“, hahaha.

Ini adalah malam terakhir tahun 1997, malam menjelang tahun baru 1998. Anak-anak Sande Monink sudah ramai-meriah siap menyambut tahun baru dengan segala apa yang bisa dan biasa mereka lakukan.

Ya, suasana kampus ramai-meriah. Tapi, tetap saja ada rasa sepi di relung hati kami. Kami adalah orang-orang yang kepalanya sudah terlanjur “teracuni” sehingga tak bisa bebas dari “gelisah”, sementara tidak semua beban bisa dibagi. Ya, kami adalah orang-orang yang kemudian selalu merasa “sepi di tengah keramaian”. Kami adalah orang-orang yang sudah siap “hilang tanpa ada yang merasa kehilangan”.

Entah, sepertinya aku tertidur di salah satu ruang kemahasiswaan. Ruang paling selatan. Ruang itu diperuntukkan bagi Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM (BPMFF-UGM) “Pijar”.

Ruang tengah sebenarnya diperuntukkan bagi Senat Mahasiswa Fakultas Filsafat, tapi karena secara faktual kegiatannya juga tidak banyak membutuhkan ruang sempit tersebut, maka ruang itu lebih banyak dipakai oleh Badan Semi Otonom (BSO) Mahasiswa Pecinta Jagat Raya (Mapajara) “Panta Rhei”.

Dan, yang lebih kekinian saat itu, ruang itu juga dimanfaatkan oleh kumpulan mahasiswa pecinta musik yang kemudian menamakan dirinya “Sande Monink”.

Sejarah nama itu berasal dari kegiatan mereka di tiap Minggu pagi. Mereka akan menggotong peralatan bandnya ke lapangan tenis depan kampus dan berlatih main musik sembari memberikan tontonan gratis orang-orang yang lewat untuk berolahraga atau sekedar jalan-jalan di seputaran kampus.

Ruang di ujung sebelah utara diperuntukkan bagi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Di ruang itu terdapat seperangkat komputer lengkap dengan printer. Di situlah biasanya aku menghabiskan waktu selepas lewat tengah malam untuk mengetik tugas kuliah Kapita Selekta Filsafat Barat, atau pun mengerjakan laporan “kerja-kerja bawah tanah” organisasi kami…

***

(Bersambung)