DNK

Kisah-Kisah Seputar Gerakan 1998 di Jogjakarta (1995-1998): Malam Menegangkan Maret 1998

Kisah-Kisah Seputar Gerakan 1998 di Jogjakarta (1995-1998): Malam Menegangkan Maret 1998

Disclaimer:



Tulisan berseri ini ditulis berdasarkan kesaksian Sri Wahyuningsih, sarjana Fakultas Filsafat dan juga aktivis prodemokrasi. Tulisan ini bermaksud menyajikan gerakan mahasiswa pro demokrasi angkatan 1998 dari sudut pandang yang bersangkutan. Dimaksudkan sebagai pelengkap untuk memperkaya referensi mengenai apa yang terjadi di balik reformasi 1998 –yang menumbangkan salah satu diktator paling lama berkuasa di dunia: Soeharto.



Jogjakarta menjadi salah satu daerah terpenting dalam masa reformasi tersebut. Berikut kisahnya. 



Saya lupa tanggalnya, yang jelas, pagi, saya sudah mendengar kabar bahwa Nezar Patria, Mugiyanto Sipin, dan Aan Rusdianto baru saja tertangkap di rumah susun Klender, Jakarta. Mereka menghilang, sekitar pertengahan Maret 1998.

 

Saya pikir saya harus segera benar-benar membersihkan "barang-barang haram" dari kamar kos dan pergi dari situ. Tinggal beberapa lembar dokumen baru, selebihnya adalah buku-buku kuliah dan barang-barang pribadi yang bisa saja ditinggalkan.


 

Pagi itu, saya masih ke Kampus Filsafat karena masih ada urusan, saya tidak ingat benar apa itu. Beberapa kawan dan juga pegawai fakultas memberitahu untuk tidak ke bagian akademik di lantai dua gedung baru karena beberapa aparat berbaju preman sedang mancari informasi tentang saya di sana. 

 

Beberapa kawan satu fakultas, di antaranya Arya Kresna Maheswara, mencoba mengacaukan kerja aparat dalam pencarian informasinya. Dia berusaha memberikan semacam “tekanan psikologis” agar pegawai yang bertugas tidak benar-benar memberikan informasi yang benar. 

Saya sempat melihat petugas yang datang ke kampus itu ketika salah satunya duduk di teras depan ruang dosen yang berhadapan dengan tiga ruang kemahasiswaan. Saat itu saya sedang berada dalam ruang paling ujung, ruang Biro Pers Mahasiswa Fak. Filsafat, Pijar. Mereka ada dua orang, bertubuh tegap dan gagah, memakai polo shirt, tapi tak begitu detail dengan celana dan sepatunya. 

 

Hari itu, saya masih harus menemui kawan yang hendak dimintai bantuan mengurus hubungan internasional Pengurus Pusat. Meski sudah diingatkan, saya tetap nekat balik ke kos pada sore harinya. Saya diantar oleh Susilo, kawan mahasiswa dari FISIPOL UGM. Sepanjang mengantar, dia berkali-kali mengingatkan untuk sesingkat mungkin singgah di kos. Kalau perlu, ambil yang diperlukan, dan segera pergi. Menurutnya, situasi sudah sangat berbahaya. 

 

Saya memahami kekhawatirannya, tapi entah kenapa saya merasa masih santai. Saya juga tak terlalu mengindahkan kekhawatirannya. Sebab, saya harus mengerjakan sejumlah hal di kos. Pertama, tentu saja memusnahkan beberapa dokumen berbahaya. Kemudian mengangkat jemuran baju yang pagi tadi baru dicuci, dan membayar uang kos untuk tiga bulan ke depan. 

 

Sesampainya di kos, saya langsung membakar sejumlah dokumen. Saya dikejutkan ketika ada seorang pencari barang bekas menyapa saya. Dia menawar untuk membeli kertas-kertas dokumen itu. Selain kaget, saya curiga.

 

Dalam situasi seperti itu, siapa yang tidak curiga? Selain itu, darimana dia tahu saya sedang membakar kertas, sedang posisi saya nyempil di belakang kamar. Selain pemilik kos dan ayam-ayam peliharaannya, tidak ada yang akan datang ke tempat itu. 

 

Menjelang maghrib, saya sudah mandi dan bisa segera pergi karena semua urusan sudah beres. Juga lengkap perbekalan saya dalam tas ransel. Beberapa baju, celana, sikat gigi, sabun, dan sebagainya sudah tertata rapi. 

 

Waktunya pindah ke tempat alternatif yang sudah saya siapkan sebelumnya. Rencananya hendak ke Posko Mogok Makan dulu di Fakultas Filsafat. Besoknya, baru akan berangkat naik angkutan umum. Tapi gerimis membuat saya urung berangkat saat itu. Badan yang lelah justru membuat saya membuka gulungan kasur kapas di lantai dan merebahkan diri. Istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda. 

Saya terlelap beberapa saat, sampai pintu kamar kos diketuk dari luar.

 

Teman kos memberitahu bahwa ada polisi mencari saya di depan, dia sedang menemui pemilik kos. Deg...! Ini dia...! Saya berpesan pada teman kos itu untuk tidak memberitahu jika petugas atau pemilik kos bertanya tentang keberadaan saya. 



 

Saya masuk kamar, mematikan lampu, dan berpikir apa yang harus saya lakukan. Saya langsung mereka-reka bagaimana escape plan-nya. Sedetik kemudian, setengah mengutuki diri sendiri, saya tak punya rencana pelarian yang matang. Tapi, menyerah ke polisi bukan opsi saya.  

 

Ada dua kemungkinan selain lewat gerbang depan yaitu: pertama, melompati tembok kos yang masih dalam tahap pembangunan. Saya bisa menggunakan tangga yang biasanya ada di sana. Atau jalan kedua, dengan menerobos lubang di tembok belakang yang biasanya dipakai untuk jalur sekaligus tempat untuk membakar sampah di belakang kos. 

 

Ternyata dua kemungkinan tersebut sudah tertutup karena tembok kos yang sedang dibangun itu ternyata sudah dicor atasnya. Saya tidak mengetahui kondisi terkini karena saya lebih banyak berada di luar kost. Lubang di tembok belakang juga sudah ditutup rapat.

 

Satu-satunya pilihan hanya bersembunyi di belakang kandang ayam. Secara matematis tidak mungkin lolos, tapi saya tak akan menyerah begitu saja. Tentu saja, sejumlah teman kos merasa aneh melihat saya bersembunyi di kandang ayam. Entah apa yang di benak mereka. Saya tak tahu, dan merasa tak perlu tahu. Saya lebih disibukkan dengan pikiran apa yang saya lakukan selanjutnya. 

 

Terdengar suara bapak kos bertanya pada teman kos yang tadi memberitahu bahwa saya dicari polisi. Dia jawab saya tidak ada di kos. Cukup pemberani juga dia, sedang yang lain memilih bersembunyi di kamar masing-masing. Bapak kos pergi ke depan lagi.

 

Nampaknya di depan, terjadi negosiasi yang cukup lama antara pemilik kos dengan petugas, sehingga petugas tidak langsung menuju kamar kos saya. Sedang tegang-tegangnya, teman kos memberitahu bahwa ada kawan mencari saya. Dia adalah Gunardi Handoko, mahasiswa Sastra Inggris.

 

Haduh, dia juga terhitung buron. Kuminta teman kos agar memberitahu kawan tadi untuk segera pergi saja dari kos saya.

Masih sangat tegang, saya mendekati pintu kamar, memasang telinga untuk mendengar apa yang kira-kira terjadi di luar. Tiba-tiba ada suara berkeresek dari arah belakang kos. “Mati lah, aku”, bisik hati saya karena korden jendela belum ditutup. 

 

Setelah tadi sempat menggulung kasur, gulungan kasur itu saya letakkan di atas meja pendek yang biasa dibeli di pinggir jalan, khas meja anak kos, dari kayu putih dan lembaran tripleks. Meja dan kasur itu ada di depan pintu jarak beberapa puluh centimeter sehingga pintu masih dapat dibuka. 

 

Di antara pintu dan kasur di atas meja itulah saya sedang duduk menguping.
Orang yang datang di belakang kos itu menyorotkan senter ke dalam lewat jendela yang tak tertutup korden. Remang dapat saya lihat postur tubuh yang sama dengan petugas yang saya lihat di kampus tadi. Kepala saya tundukkan berlindung di balik kasur. Tapi, kaki saya boleh dikata tak terlindung. Hanya ada kaki-kaki kecil meja yang menjadi tempat kamuflasenya. 

 

Tangan saya pakai menyangga tubuh saya yang miring, saya sembunyikan dalam bayangan kaki meja, sambil berharap petugas tidak tahu bahwa apa yang sempat tersorot lampu senter beberapa saat adalah paha saya yang terbungkus celana warna coklat pudar mendekati putih. Saya berharap warna celana tersamar, dan petugas tidak dapat membedakannya dengan warna putih lantai keramik. 

 

Syukurlah, petugas pergi dari jendela. Saya agak lega. Saya menggeser lemari plastik agar ada celah dengan tembok untuk bersembunyi, jaga-jaga jika disorot senter lagi dari jendela. Sepanjang masa "teror" di kamar yg mungkin sebenarnya tidak lama itu, bermacam pikiran berkecamuk. 

 

Ada pikiran untuk berdoa pada Tuhan, mohon perlindungan, tapi saat itu juga ada rasa malu menyergap karena sudah beberapa saat meninggalkan salat. Ya, hidup saya dapat dikatakan nomaden beberapa waktu terakhir. Dalam cara hidup berpindah, pasti berlaku prinsip semakin sedikit barang semakin praktis. Celana panjang cadangan cukup satu. Hem lengan panjang merangkap jaket, kaos ada beberapa dan daleman, sikat gigi, odol, sabun, handuk kecil, alat tulis dan buku.

 

Jika ada mukena dan sajadah, tas tambah penuh dan berat.

Tegang. Ada takut, ada sesal, ada rasa ingin berdoa, ada malu karena ingat Tuhan hanya ketika butuh. Saya tersenyum kecut sendiri. Badan terasa gerah, tapi keringat dingin mengalir di punggung. Campur aduk rasanya...

Sedang tegang dan berkecamuk, tiba-tiba pintu seperti berusaha dibuka kuncinya dari luar. Ya, aku sudah siap. Kupikir ada kunci cadangan ketiga yang diberikan pemilik kos kepada petugas, karena kunci cadangan kedua sudah kuberikan ke Yulin yang mau mengambil lemari plastik atau tas yang mau dipinjamnya. 

 

Saya lupa dia mau pinjam apa. Biasanya kalau ada kawan dideploy ke luar kota, saya yang bertugas mengamankan barang-barangnya sehingga di kos saya ini ada tiga buah lemari plastik.

Sekilas saya masih sempat bertanya pada Tuhan: apakah Dia mau menyerahkanku pada aparat...?! Saya siap dan melihat ke arah pintu dari kegelapan. Pintu terbuka, dan...

Sesosok tubuh mungil masuk, unul, unul, unul... Yulin mungil masuk gak berjilbab...!

 

Biasanya dia berjilbab. Di belakangnya masuk cowoknya yg cukup mungil juga, gitaris Sande Monink, si Chepy, mahasiswa Fakultas Filsafat angkatan 1996 kalau tidak salah, bercelana pendek. Aduh... Sejoli ini nekat benar...! 

 

Mereka bergaya suka-suka seolah pulang nonton dan sedang menikmati malam Minggu. Ya, saya baru ingat bahwa itu malam Minggu. Waktu itu sekitar pukul Sembilan malam.


Yulin adalah mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1995, segera berkata: "Kau yang putuskan, mau keluar malam ini dari sini atau besok-besok". 

 

Dengan cepat saya menjawab: "Sekarang". Saya pikir, jika tidak keluar saat itu juga, entah kemudian bisa keluar atau tidak dari situ. Ada pikiran bahwa saat itu banyak saksi, juga cukup jelas petugas yang mencari saya berasal dari Polda Metro Jaya Jakarta. Jadi, kalau pun saya tertangkap, kawan-kawan dapat dengan mudah melacak keberadaan saya dan posisi nyawa saya cukup aman karena masuk kategori tidak diculik. 

 

Perburuan saya merupakan pengembangan kasus dari tertangkapnya Mugiyanto sipin. Saya menitip surat padanya untuk seorang kawan asal Yogyakarta, yang sudah sejak dua bulan lalu menjadi buron. Surat tidak sampai ke orang yang dituju, melainkan jatuh ke tangan polisi.

 

Beberapa hari sebelumnya, kawan asal Yogyakarta itu menitip pesan agar saya mengecek kondisi keluarganya di rumahnya. Dua orang tuanya memang sempat diperiksa dan diinterogasi di Poltabes Jogjakarta. Dalam surat yang hanya saya tulis di kertas memo kecil memakai pensil, berisi empat baris kalimat, saya menyampaikan kabar bahwa kondisi keluarganya baik-baik saja dan juga pesan penyemangat: “Keep on Fighting”.

 

Sebelum tanda tangan, saya bubuhkan gambar tangan kiri mengepal.

Yulin mengulurkan jilbab sambil berkata: "Nih, pakai". Segera saya pakai jilbab itu, mendobel baju dan celana, mengambil surat identitas dan sikat gigi. Itu hal paling penting karena saya memutuskan tidak membawa tas agar tidak nampak akan pergi jauh atau lama. Saya diinstruksikan untuk membonceng motor Chepy, sedang Yulin membonceng motor Pandu, mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1994, yang juga ngekos di situ. 



 

Benar juga. Begitu keluar gerbang kos dan melewati penjual nasi goreng yang biasa mangkal di dekat gerbang, seorang lelaki sontak bangun dari duduk. Ada yg tetap nongkrongin di depan kos rupanya. Kata Yulin dan Chepy, tepat di belakang tembok belakang kos juga ada empat orang menunggu. Jadi, jika tadi saya nekat lompat dari situ, sudah ada petugas yang siap sedia menyambut saya...


 

Dari beberapa kali peristiwa, saya menyimpulkan, petugas memang sangat patuh protap dan hirarkhi. Kalau pun petugas di lapangan melihat buron, jika belum ada instruksi tangkap, maka tidak ada penangkapan. Petugas saat itu juga tidak mau mendobrak kamar kos saya. Selain pemilik kos kukuh menjaga amanat, petugas sepertinya hendak bermain rapi dan simpatik.

Jalur evakuasi dipilih memutar lewat Jalan Gejayan (sekarang Jalan Afandi). Kos saya di Karangmalang Blok B-20.

 

Jadi, sebenarnya ada jalur yang lebih cepat menuju Fakultas Filsafat yang saat itu sedang ramai karena ada aksi mogok makan. Tapi jalur yang lebih jauh justru dapat untuk mendeteksi apakah ada petugas yang menguntit di belakang atau tidak. 

 

Stage point sementara di Fakultas Filsafat. Nanti, bersama kawan lain, akan diputuskan saya harus ke mana. Ternyata, meski tidak sempat bertemu, Gun lah yang memimpin rapat penyelamatan saya. 

 

Sedang kawan yang mengabarkan situasi saya pada kawan-kawan yang ada di Posko Mogok Makan di Fakultas Filsafat adalah kawan Opi, mahasiswa UGM yang dulu kos bareng saya di kos sebelumnya. Tugas penyelamatan kemudian diserahkan pada Yulin dan Chepy.

Esok hari dan berikutnya, saya tinggal di kos baru yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Saya mengisi waktu dengan merawat dokumen dan buku-buku yang tersimpan di safe house (istilah untuk menyebut kamar yang disewa dan hanya diperuntukkan untuk menyimpan buku-buku dan dokumen tapi tidak ditinggali, sehingga jika pengurusnya tertangkap, dokumen dan buku-buku tidak ikut tersita). 

 

Tiap kali ke kampus, biasanya saya disuruh cepat pergi oleh kawan-kawan karena mereka merasa tidak sanggup memberikan perlindungan khusus jika saya tertangkap. Maka, saya meminta bantuan kawan yang sebelumnya sudah menawarkan bantuan perlindungan, jika saya sudah merasa tidak aman.

Tiga hari saya dititipkan di sebuah susteran, dan saya tidak tahan. Bagaimana tidak. Saya tidur di kasur bersih dan empuk, makan terjamin 3 kali sehari lengkap dengan buah, tiap sore minum teh dan makanan kecil, tiap pagi disediakan berbagai bacaan: koran dan tabloid yang semuanya memberitakan bentrok antara mahasiswa dan aparat, sementara saya tidak melakukan apa-apa. 

Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan susteran dan mengunjungi basis-basis pengorganisiran kami di Jawa Tengah: Magelang dan Pakalongan. Dan dari situ, saya dapat melihat gelombang reformasi di luar arena penting: Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota pelajar lain. 

 

Bersambung…

 

***

 

Mugiyanto: Mhs Sastra Inggris UGM 1992, skrg: Senior Program Officer for Human Right and Democracy di INFID

 

Nezar Patria: Mhs. Filsafat UGM angkatan 1990. Sekarang Pimred The Jakarta Post dan Anggota Dewan Pers. 

 

Aan Rusdiyanto: Mhs Sastra UNDIP, skrg Anggota IKOHi

 

Aryaning Arya Kresna: Mhs Filsafat UGM 1992, sekarang Dosen di Pradita Institute, Tangerang

 

Gunardi Handoko: Mhs Sastra Inggris 1992, skrg. (Kelangan lacak)

 

Wahyu Linantari (Yulin): Mhs Hukum 1995, skrg Ibu Rumah Tangga