DNK

Kisah-Kisah Seputar Gerakan 1998 di Jogjakarta (2): Sepi di Tengah Keramaian

Kisah-Kisah Seputar Gerakan 1998 di Jogjakarta (2): Sepi di Tengah Keramaian

Disclaimer:

Tulisan berseri ini ditulis berdasarkan kesaksian Sri Wahyuningsih, sarjana Fakultas Filsafat dan juga aktivis prodemokrasi. Tulisan ini bermaksud menyajikan gerakan mahasiswa pro demokrasi angkatan 1998 dari sudut pandang yang bersangkutan. Dimaksudkan sebagai pelengkap untuk memperkaya referensi mengenai apa yang terjadi di balik reformasi 1998 –yang menumbangkan salah satu diktator paling lama berkuasa di dunia: Soeharto.

Jogjakarta menjadi salah satu daerah terpenting dalam masa reformasi tersebut. Berikut kisahnya.

Ke Selatan aku mencari,
Bersama gelombang aku menari,
Kumemetik, kumenuai bunga merah bagi ibunda.

Ke padang sawah aku mencari,
Bersama petani aku mencari,
Batu gunung, air tanah dan ilmu rumput padi.

Lagu itu diajarkan seorang kawan, Antun Joko Susmono (Filsafat UGM angkatan 1991). Liriknya selalu terngiang ketika kami, saya dan Nor Hiqmah, berada dalam perjalanan menuju Sekretariat SMID di Sendowo pada 1995. Tentu saja tidak ada ponsel pintar yang bisa memutar lagu kami. Bahkan, Winamp yang biasa memutar lagu di PC pun juga belum ada.

Antun memberikan cara praktis untuk menghapal syair dengan cepat. Katanya, “Kau tangkap dulu logika atau alur berpikir lagu itu, dapatkan idenya, dia mau ngomong apa, dari situ kau akan mudah mengingat liriknya”. Masuk akal, itulah yang kemudian saya lakukan.

Sampai sekarang saya masih ingat, bahkan ingat bagian penting lagu yang kemudian saya pahami merupakan landasan dalam pergerakan: ilmu rumput padi.

Di sela-sela menghafal syair, Antun menerangkan keunggulan flora berjenis rumput, terutama rumput ilalang atau alang-alang. Yakni, kemampuannya untuk tetap bertahan hidup. Mungkin di musim kemarau dia tidak nampak hidup karena dedaunannya mengering dan habis. Namun diam-diam, dia mempertahankan “daya hidup”, elan vital, pada akar-akar yang tersembunyi di bawah tanah.

Pada musim hujan, rumput selalu bersemi kembali, menghijau menutupi bumi. Demikian juga ketika petani membakarnya, bagian atas mungkin hangus, namun akar itu belum tentu mati, bahkan ketika dia bersemi kembali, dia dapat bertambah subur karena unsur hara dari abu yang tertinggal. Ya, rumput adalah mahluk yang sulit ditumpas, dimusnahkan.

Itulah juga salah satu alasan saya dan suami menamakan anak pertama kami: Ilalang. Kami berharap, dia akan menjadi manusia yang mencintai alam, pantang menyerah dan sanggup bertahan dalam situasi apa saja, di mana saja.

Lalu apa kaitannya dengan pergerakan? Tentu saja erat sekali.

Setiap pergerakan, terutama bawah tanah, selalu mensyaratkan keberlangsungan hidup. Bahwa suatu gerakan perlawanan itu dipukul tentu saja keniscayaan. Tapi, yang terpenting adalah bagaimana ia bertahan hidup. Maka, salah satu caranya adalah meniru ilmu rumput bertahan hidup. Memanfaatkan akar yang kuat untuk menjamin keberlangsungan hidup.

Itulah mengapa kemudian muncul strategi atas dan strategi bawah. Sederhananya, dalam penempatan kawan dalam struktur organisasi, akan ditempatkan orang-orang yang bertugas sebagai “corong organisasi”, menyuarakan program-program dan tuntutan-tuntutan.

Merekalah yang bertugas untuk bicara kepada masyarakat luas melalui pidato-pidatonya, orasi-orasinya, seminar-seminar, tulisan-tulisan di media, wawancara-wawancara, release-release, manifesto, resolusi, bertemu langsung dengan massa, dan sebagainya.

Itulah orang-orang yang bertugas untuk mempopulerkan diri, dipopulerkan, mengisi dan dipasok terus ilmunya dalam rangka tugasnya itu, memupuk terus rasa percaya dirinya agar sanggup berdebat, bertukar pikiran dan sebagainya di mana saja, kapan saja.
Menjalin hubungan dan membuat kerjasama-kerjasama dengan kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi lain, membentuk koalisi, membentuk front, dan lain sebagainya. Itu yang disebut strategi atas.

Orang yang ditempatkan dalam strategi atas ini biasanya sudah siap dengan istilah 3B: Bunuh, Bui, Buang. Tapi apakah sefatalis itu? Tidak. Pengamanan terhadapnya justru tergantung dari keberhasilannya mempopulerkan diri.

Orang yang populer justru akan terjaga keamanannya karena akan banyak orang membelanya ketika, misalnya, dia tertangkap dan dipenjara. Akan ada banyak manusia lain membelanya dengan bermacam cara penekanan terhadap pihak penangkap.

Itulah mengapa kemudian muncul metode “penculikan aktivis”, seperti yang terjadi terhadap para aktivis prodemokrasi di tahun 1998. Penculikan diam-diam akan menutup jejak pelaku dan mempersulit pelacakan. Selalu mengusahakan keberadaan saksi mata adalah usaha pengamanan berikutnya bagi orang yang ditempatkan dalam strategi atas.

Bagaimana dengan strategi bawah? Strategi bawah inilah yang diibaratkan sebagai “akar rumput”. Pada suatu kondisi tertentu dapat “tidak nampak sama sekali”, tapi dia ada dan merupakan urat-urat yang mempertahankan daya hidup dan keberlangsungan gerakan, dan pada suatu ketika, mampu menciptakan dan memunculkan momentum penting demi keberlanjutan gerakan.

Orang-orang yang ditempatkan “di bawah” tidak perlu populer, bahkan justru adalah orang-orang yang low profile karena organizer (istilah yang biasa disematkan pada orang-orang yang bekerja “di bawah”) justru mengisyaratkan watak rendah hati, mau mengerjakan hal-hal yang mungkin dianggap “remeh-temeh” dalam narasi besar “Gerakan Pro-Demokrasi”. Sekedar memfasilitasi kegiatan, menyiapkan rapat dan pertemuan, mencatat, membuat undangan, menyebarkan, menjadi kurir, menjaga sekretariat, menjaga safe house, menggandakan makalah, penyimpan arsip, menyiapkan perkap, dan sebagainya.

Tidak populer, tetapi dia adalah orang-orang yang luwes dalam pergaulan karena dia adalah infanteri, pasukan pertama yang masuk ke suatu wilayah untuk mengadakan penaklukan sosial, menyiapkan barisan massa dan panggung-panggung politik, tempat pidato, orasi, seminar, dan lain sebagainya, bagi orang-orang “atas” tadi.

Tentu saja kepiawaian membaca situsi, memetakan masalah, orang-orang, golongan, kelompok, memutuskan apa yang harus dilakukan, bagaimana langkah-langkahnya, bagaimana mengorganisirnya, apa tujuannya, bagaimana menyatukan dengan gerakan yang lebih besar dan lain-lain sangat dibutuhkan dalam “kerja bawah” ini selain juga pemahaman teoritik, ketelatenan dan kepandaian berinteraksi serta kemampuan adaptasi.

Karena dia tidak populer, maka konsekuensinya adalah jika dia tertangkap, tidak akan ada masyarakat yang akan membelanya, mengusahakan advokasi dan sebagainya. Maka, pengamanan paling utama baginya adalah bekerja secermat mungkin, serapi mungkin, sedisiplin mungkin dalam hal kerahasiaan.

Bekerja sesuai porsi saja, sesuai bagiannya, tak perlu mau tau tugas yang dijalankan bagian lain atau tugas orang lain, karena jika dia tau tugas bagian atau orang lain, justru akan berat baginya seandainya tertangkap, belum tentu dia sanggup menanggung siksaan dalam interogasi. Itulah makanya, ada yang namanya sistem sel. Informasi tertutup bagi bagian lain, kecuali orang yang bertugas sebagai perantara.

Antara strategi atas dan strategi bawah biasanya benar-benar terpisah dalam pengorganisasian, namun sinergis dalam langkah-langkah kerja. Keduanya hanya akan dihubungkan dengan kurir atau komisaris politik.

Mengapa orang dapat dengan konsisten menjalankan tugas masing-masing sesuai bagiannya, lengkap dengan pemahaman atas konsekuensi-konsekuensinya? Karena pemahaman yang sama atas landasan mengapa suatu organisasi dibentuk, apa tujuannya dan bagaimana cara-cara pencapaiannya.

Pemahaman yang sama berdasar analisis Sejarah Masyarakat, Situasi Politik Nasional dan Internasional, yang dibedah dengan pisau analisa tertentu, metode tertentu, sistem filsafat tertentu. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dirumuskan Program Perjuangan dan Program Tuntutan. Selanjutnya, ditentukan Strategi dan Taktik untuk menjalankan program-program yang tadi dirumuskan.

Strategi dan Taktik akan menentukan Bentuk Organisasi yang tepat dan efektif untuk mewujudkan program. Baru kemudian, diputuskan masalah Penempatan Kawan, Slogan dan Semboyan, dan kelengkapan-kelengkapan lain. Itulah hal yang biasa disebut sebagai pemahaman ideologis.

***

Uraian di atas penting untuk memberi latar belakang peristiwa perburuan aparat terhadap saya pada Maret 1998. Dalam struktur gerakan, saya bukan orang yang dikenal. Bukan orang strategi atas. Saya adalah orang strategi bawah yang seharusnya (dan memang tidak dikenal). Tapi, rupanya aparat Orde Baru punya pendapat lain. Saya dianggap cukup berbahaya untuk diciduk.

Bersambung...