DNK

Negara Ganti Nama: Dari Karena Tetangga Sampai yang Mengada-Ada

Negara Ganti Nama: Dari Karena Tetangga Sampai yang Mengada-Ada

Sejak menyatakan merdeka pada tahun 1991 dan memilih menggunakan nama Makedonia, negara itu diplengosi sama tetangganya, Yunani, gara-gara nama Makedonia sudah dipakai untuk salah satu wilayah di bagian utara negara tersebut, di mana kota kedua terbesar Thessaloniki berada.

Yunani, yang masuk rombongan NATO dan Uni Eropa, terus berusaha menghalangi jalan Makedonia untuk bergabung dalam sekutu militer dan bahkan juga upaya Makedonia untuk sekadar memulai pembicaraan kemungkinan ia bergabung dengan Uni Eropa. Yunani tetep kekeuh seurekeuh dengan sikap dan tindakannya sebelum sengketa soal nama ini mencapai titik temu.

Makedonia sudah menjadi anggota PBB sejak 1993. Namun, karena sengketa dengan tetangga, nama yang diakui adalah FYR Macedonia, atau Former Yugoslav Republic of Macedonia.

Sebagai negara kecil, Makedonia sadar bahwa bersekutu dan bergabung dengan Uni Eropa adalah sebuah keuntungan, maka pada bulan Juni 2018, setelah lama berunding dengan Yunani, ia sepakat namanya diganti menjadi North Macedonia―Makedonia Utara, yang mulai berlaku pada 12 Februari 2019 ini.

Padahal kan, daripada rebutan nama gitu, ada cara yang lebih sederhana. Cukup dikasih tambahan saja jadi Makedonia A dan Makedonia B, sama seperti dua Sri Yanto adik kelas SD saya dulu di Klaten sana. Hehehehe.

Sebelum ini, ada juga penggunaan nama "Eswatini" yang dipakai untuk menggantikan "Swaziland", negara kecil di Afrika yang berbatasan dengan Mozambik dan Afrika Selatan. Negara kerajaan ini dulunya adalah protektorat Britania dari tahun 1903 sampai ia merdeka pada 6 September 1968. Nah, pada 19 April 2018, Raja Mswati III menyatakan nama negaranya menjadi "Kerajaan Eswatini".

Saya pikir ini biar terdengar modern, mengikuti istilah-istilah kekinian macam e-reader, e-book, atau e-mail, e-Swatini...

Ternyata enggak jeh. Ini hanya pelokalan nama sebelumnya. Dalam Bahasa Swazi, Eswatini berarti “tanah/negeri bangsa Swazi”―yang kalau diinggriskan balik lagi jadi Swaziland. Healaaa...

Raja Mswati III ngeles bilang sih, alasan lainnya adalah biar orang nggak bingung antara Swaziland sama “Switzerland”. Mirip sih memang, tapi kan penghuni bumi datar pun tahu mana Afrika mana Eropa!

Namun, setidak-tidaknya kedua negara itu tak sesering beberapa negara lain dalam hal ganti nama. Kongo salah satunya. Mulai dari Congo Free State, Belgian Congo, Republik Kongo-Léopoldville, Republik Demokratik Kongo, dan Republik Zaire, sebelum balik lagi jadi Republik Demokratik Kongo. Kalah deh judul revisi skripsi...

Contoh kedua adalah Kamboja. "Kerajaan Kamboja" digunakan sebagai nama resmi negara itu pada 1953-1970. Berikutnya, nama "Republik Khmer" dipakai hingga tahun 1975. Pada masa kekuasaan Khmer Rogue antara 1975-1982, namanya diubah menjadi Kampuchea, kemudian Democratic Kampuchea.

Begitu Khmer Merah runtuh, secara berurutan namanya berganti menjadi Coalition Government of Democratic Kampuchea, lalu National Government of Cambodia, dan kemudian People’s Republic of Kampuchea (yang tidak diakui oleh PBB).

Masuknya PBB ke negara itu sebagai otoritas transisi pada tahun 1989 mengubah nama negara menjadi State of Cambodia lalu United Nations Transitional Authority in Cambodia. Barulah pada 1993, setelah monarki dipulihkan, negara itu dinamai Kingdom of Cambodia, yang berlaku hingga sekarang.

Perubahan nama kedua negara ini tentu dipengaruhi perubahan peta politik dan kekuasaan di waktunya masing-masing. Namun, keduanya tetap mempertahankan satu inti identitas.

Kongo adalah sungai yang mengalir sepanjang wilayah negara tersebut, yang juga disebut Zaire. Sedangkan "Cambodia” adalah penginggrisan dari versi Perancis “Cambodge” untuk menyebut “Kampuchea”, yang disebutkan berasal dari istilah Sansekerta "Kambojadesa".

Dari situasi yang dialami oleh Kongo dan Kamboja ini, siapa kira-kira yang paling diuntungkan?

Pergantian nomenklatur pasti akan diikuti dengan urusan birokratistermasuk kop surat dan stempel resmi. Maka, dengan sendirinya tukang stempel dan percetakanlah yang paling bisa menangguk laba yang luar biasa. Hahaha!

Bisa jadi, tukang stempel dan percetakan di Filipina sedang mengharapkan rezeki yang sama dalam waktu dekat. Duterte, presiden tetangga yang terkenal metal itu, punya ide untuk mengganti nama negaranya. Dia bersikukuh bahwa upayanya ini adalah bentuk koreksi terhadap kesalahan sejarah.

Filipina dinamai oleh "Si Penjelajah Bego"panggilan Duterte untuk menyebut Magellankarena perjalanannya ke sana dibiayai oleh Raja Felipe II, padahal sang Raja sendiri tak pernah menjejakkan kakinya di negara jajahannya itu.

Fakta sebenarnya, Magellan meninggal tiga dasawarsa sebelum Raja Felipe II naik tahta.

Tapi, dasar presiden korak, fakta jadi tidak penting sebab yang utama adalah wani heboh dan meyakinkan, kayak konferensi pers soal pembelaan ibu-ibu bonyok yang ngakunya digebukin tempo hari.

"Republik Maharlika", nama yang diusulkan oleh Duterte, sebenarnya juga bukan ide orisinil. Marcos, diktator sokongan AS yang berkuasa dari akhir 1965 hingga awal 1986, pernah memunculkan nama yang sama.

Lalu, apa sih artinya Maharlika?

Sebagaimana koalisi partai politik, kata ini berubah maknanya seiring pilkada zaman. Ia berasal dari kata Sansekerta “Maharddhika” yang bisa berarti manusia makmur, berpengetahuan, atau berkemampuan.

Maharlika merujuk pada kaum pendekar feodal dalam masyarakat Tagalog di Luzon, bangsawan rendahan setara dengan bangsa Timawa dan bangsa Visayan, yang dianggap sebagai orang bebas, orang merdeka. Namun, bangsa Filipina modern menggunakan istilah itu sekarang untuk menyebut bangsawan kedaton, yang sebenarnya hanya berlaku pada bangsa Maginoo.

Menurut sejarah, tidak pernah ada kerajaan atau bentuk pemerintahan apapun di wilayah Filipina pada masa silam yang bernama Maharlika. Artinya, Duterte hendak mengoreksi kesalahan sejarah nasional dengan sejarah acuan yang juga tak benar-benar akurat.

Di satu waktu bahkan Duterte menyebutkan bahwa Maharlika memiliki arti “sebuah konsep ketenangan dan kedamaian”.  Atas dasar apa dia menerjemahkan demikian, entahlah. Secara etimologi pun tidak pernah ada definisi seperti itu. Tapi, sekali lagi, Duterte "Presiden Preman" mah bebaaash!