Persebaya Surabaya sempat dilanda kekalutan luar biasa. Itu ketika tim kebanggan Bonek Mania ini kalah tiga kali beruntun jelang tutup putaran pertama GO-JEK Liga 1. Beruntun lawan Persib Bandung, PSIS Semarang, dan Perseru Serui.

Ujungnya pelatih Persebaya ketika itu Alfredo Vera mengundurkan diri. Pelatih yang berhasil membawa Persebaya promosi ke kasta tertinggi liga sepak bola di Indonesia ini merasakan betul panasnya kursi kepelatihan Surabaya. Yang mengalah-ngalahi panasnya kursi wali kota atau bupati.

Jangan cem-macem dengan Bonek yang memiliki tuntutan tinggi. Sebab, sudah berusaha selalu hadir di mana pun Bajul Ijo berada untuk menyaksikan kemenangan. “Tak belani utang demi nontok Persebaya,” jare arek Bonek curhat dalam sebuah spanduk.

Jika di laga away Bonek mungkin bisa memberikan toleransi apabila Persebaya kalah. Tapi tidak dengan di laga kandang. Jika sampai kalah akan mendapatkan reaksi cukup keras. Haram hukumnya kalah di kandang. Kecuali kalo kalah di kandang itu sudah dapat stempel halal dari MUI.

Seperti saat Persebaya kalah oleh Persib Bandung akhir Juli lalu. Kekalahan dengan skor 3-4 memantik reaksi spontan dari Bonek. Tuntutan untuk memecat Alfredo Vera menggema. Sehebat-hebatnya Alfredo ternyata masih kalah dengan suara opo jare Bonek.

Dan saat itu bahkan bukan hanya Alfredo, tapi sekaligus juga sang manajer tim Chairul Basalamah. Orang kepercayaan sang Presiden Persebaya Azrul Ananda ini juga jadi pelampiasan kekesalan oleh Bonek.

Botol air mineral pun meluncur deras ke arahnya ketika itu, namun beruntung tidak ada yang sampai melukai. Fisik. Nggak tahu dalam hati. *eh

Di masa yang tidak kondusif tersebut, beruntung Persebaya main di dua laga away pada laga lanjutan. Yaitu ketika menghadapi PSIS Semarang dan Perseru Serui. Tapi tetap dengan adanya kehadiran Bonek yang nekat adoh-adoh teko.

Sayangnya, Bajol Ijo pulang dari dua laga itu tanpa membawa poin. Ini membuat Bonek Mania demo ke apartemen tempat menginap para pemain. Paido khas ala Bonek pun terdengar begitu sengak di telinga para pemain. Pemain Persebaya dalam sebuah video yang tersebar diam saja ketika dipisuhi. Yaiyalah. Mosok athene misuhi balik. 

Setelah laga lawan Perseru Serui, Persebaya menjamu Persela. Sebuah bahaya besar jika sampai Green Force kalah empat kali beruntun. Apalagi dengan pelatih yang sama.

Di masa genting tersebut akhirnya manajemen Persebaya mengambil keputusan cepat demi alasan kondusifitas. Yaitu, dengan menunjuk Bejo Sugiantoro yang sebelumnya melatih Persebaya U-19 untuk melatih di tim senior. Selain hemat, sosok Bejo juga dianggap orang yang cukup dihormati oleh Bonek.

Bejo berhasil menyelamatkan muka Persebaya dengan kemenangan 3-1 atas Persela. Kemenangan yang juga memang seharusnya terjadi karena ada tiga pemain depan utama Persela yang sedang absen. Coba Loris Arnaud, Diego Assis dan Saddil Ramdani mungkin beda cerita.

Di laga selanjutnya, Bejo belum bisa membawa kebejoan bagi Bajul Ijo. Menghadapi sang mantan pelatih Jaksen Tiago, Persebaya kalah 3-2. Dan usai itu Bejo mundur dari kursi kepelatihan. Sebab dia merasa belum pantas menangani tim yang dia bela dulu dengan hanya mengantongi Lisensi B.

Bersamaan dengan liga yang sedang berhenti karena ada ajang Asian Games, Persebaya beruntung. Karena memiliki banyak waktu untuk melakukan nego dengan beberapa pelatih. Mulai lokal sampai asing.

Tapi akhirnya, Manajemen Persebaya memutuskan menunjuk nama Djadjang Nurdjaman. Pro kontra pun mengemuka dengan dipilihnya pria yang akrab dipanggil Coach Djanur ini.

Sebab, Djanur dianggap pelatih pecatan dari PSMS Medan yang posisinya malah di bawah Persebaya secara kelasemen. Meski demikian Djanur juga memiliki catatan apik. Itu tatkala dia membawa Persib Bandung juara tahun 2014 di liga tertinggi kasta sepak bola Indonesia.

Namun, apapun suara dari Bonek di luar, nasi sudah menjadi bubur. Manajemen Persebaya sudah memiliki kesepakatan hitam di atas putih. Yang intinya meminta agar Djanur bisa membawa Persebaya selamat.

Sebab, saat ini Persebaya berada di papan bawah. Yang sangat dekat dengan zona degradasi. Jangan sampai slogan Persebaya Is Back yang tahun 2017 berdengung ketika promosi berarti negatif saat ini. Yaitu, Persebaya is back to Liga 2.

Dalam rilis yang dilansir oleh Persebaya.id, manajemen Persebaya membebani Djanur bukan hanya agar Persebaya bisa mentas dari papan bawah. Tapi juga sekaligus bisa naik ke papan atas.

Dengar-dengar sih dengan finis di peringkat enam dari atas, bukan di peringkat enam dari bawah seperti sekarang. Sebelum kemudian tulisan itu hilang entah ke mana dalam sebuah revisi.

Dan Rabu (5/9) akan menjadi hari yang bersejarah bagi Djanur. Sebab, itu merupakan hari pertama dia berkerja menukangi tim yang selalu meneriakkan slogan WANI ini.

“Selamat datang kepada coach Djanur, selamat bergabung dengan Persebaya Surabaya. Semoga bersama kami dapat membawa Persebaya berprestasi lebih baik,” kata Kapten Persebaya Rendi Irwan.