Politik identitas bikin kita dengan gampang eker-ekeran hanya karena suku dan agama. Padahal lho yha, masing-masing punya peran yang sama dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang puluhan kali diputar di Asian Games 2018 kemarin, misalnya. Ada peran koko dan cece dalam merekam dan menyebarluaskannya di era perjuangan kemerdekaan dulu.

Menurut Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik, mingguan Tionghoa berbahasa Melayu, Sin Po, merupakan suratkabar pertama yang memuat teks lagu “Indonesia”—belum “Indonesia Raya”—dalam terbitan mereka tertanggal 10 November 1928.

Selain melalui suratkabar, lagu Indonesia Raya pun direkam dalam piringan hitam oleh orang peranakan Tionghoa. Pengamat musik Denny Sakrie dalam bukunya 100 Tahun Musik Indonesia menyebutkan, pada 1929 perusahaan piringan hitam milik Tio Tek Hong di Pasar Baru, Batavia, merekam dan merilis lagu Indonesia Raya. Momen ini disebut-sebut Denny sebagai yang pertama.

“Tio menghubungi komposer dan wartawan WR Supratman untuk meminta izin merekam lagu ‘Indonesia Raya’ dalam bentuk piringan hitam dengan format 78 RPM. Dengan penuh sukacita, WR Supratman yang pernah tergabung dalam kelompok musik Black and White Jazz ini memberi izin perekaman lagu tersebut,” tulis Denny dalam bukunya, halaman 6.

Atas perekaman tersebut, Supratman diberikan kompensasi berupa honorarium hak ciptanya. Denny menulis, piringan hitam “Indonesia Raya” menampilkan seorang penyanyi pria bersuara tenor dengan iringan orkes. Namun, Denny tak tahu siapa penyanyi dan orkes pengiringnya.

***

Di dalam banyak buku yang terkait sejarah lagu “Indonesia Raya” dan profil Wage Rudolf Supratman, memang nama Tio Tek Hong kerap disebut. Dahulu, ada buku Sedjarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan WR Soepratman Pentjiptanja karya Oerip Kasansengaru, terbit tahun 1967.

Di dalam buku tersebut, “Indonesia Raya” disebutkan menjadi sangat populer usai direkam oleh perusahaan piringan hitam Tio Tek Hong. Setelah sebelumnya diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.

Buku-buku yang terbit kekinian pun menyebut nama Tio Tek Hong, sebagai orang yang berjasa mendokumentasikan suara “Indonesia Raya” untuk kali pertama.

Buka saja buku Wage Rudolf Supratman karya Bambang Sularto terbit 2012, 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia yang disusun Gloriberta Aning S terbit 2007 (cetakan ketiga), serta Wage Rudolf Soepratman karya Anthony C. Hutabarat terbit 2001. Di buku-buku tadi, kita akan menjumpai narasi perekaman piringan hitam lagu “Indonesia Raya” yang kurang-lebih serupa.

Dalam buku memoar Tio Tek Hong, Keadaan Jakarta Tempo Doeloe; Sebuah Kenangan 1882-1959, disebutkan, Tio memiliki toko bernama NV Tio Tek Hong di Pasar Baru No.93. Toko Tio ini berdiri pada 1902, dan merupakan toko pertama dengan sistem harga pasti. Pada 1904, dia mengimpor fonograf. Setahun kemudian, dia mengembangkan bisnis mengimpor platgramofon.

Philip Bradford Yampolsky dalam disertasinya berjudul Music and media in the Dutch East Indies; Gramophone records and radio in the late colonial era, 1903-1942, menyebut bahwa ketika itu, Tio menjadi agen tunggal di Batavia untuk label Odeon.

Tio lantas membuat label sendiri, Tio Tek Hong Record setelah tahun 1923. Hantaman depresi ekonomi pada 1930 membuat perusahaannya kelimpungan. Tokonya bertahan menjual senjata untuk berburu, peralatan atletik, dan peralatan musik.

Yang agak aneh, Tio tak mengisahkan soal rekaman piringan hitam “Indonesia Raya” di buku memoarnya tadi. Buku memoar Tio berjudul Keadaan Jakarta Tempo Doeloe; Sebuah Kenangan 1882-1959, diterbitkan kembali oleh Komunitas Bambu pada 2006. Buku aslinya berjudul Kenang-kenagan; Riwajat-hidup Saja dan Keadaan di Djakarta dari Tahun 1882 sampai Sekarang, terbit 1959.

Tentu saja, merekam lagu “Indonesia Raya” harusnya menjadi sebuah kebanggaan. Apalagi, lagu itu kemudian menjadi lagu kebangsaan. Mengenai hal ini, agak janggal bila Tio tak kisahkan di memoarnya.

“Sejarah awal lagu “Indonesia Raya”, ini masih banyak yang kurang jelas. Yang rekaman Tio itu agak misteris. Belum ketemu jejaknya. Hanya disebutkan dalam tulisan-tulisan,” kata sejarawan Didi Kwartanada kepada saya.

Bukti fisik rekaman “Indonesia Raya” yang konon direkam Tio memang masih sumir. Hal ini berbeda nasibnya dengan rekaman piringan hitam oleh Yo Kim Tjan, peranakan Tionghoa lainnya.

***

Budayawan Japi Tambajong alias Remy Sylado dalam Ensiklopedi Musik Jilid I, menulis bahwa berdasarkan laporan Star Weekly tahun 1957, “Indonesia Raya” direkam pertama kali oleh Yo Kim Tjan. Menariknya, rekaman itu menampilkan suara WR Supratman sendiri.

Sedangkan Didi Kwartanada menyebut, Yo merekam dua versi, yakni dengan vokal dan hanya instrumen. Bila berkunjung ke Museum Benteng Heritage di Tangerang, kita masih bisa menikmati instrumen lagu “Indonesia Raya” versi instrumen yang direkam Yo Kim Tjan.

Menurut salah seorang pegawai di sana, instrumennya berlanggam keroncong. Piringan hitam itu, yang kemudian dialihkan ke digital, dihibahkan oleh putri Yo Kim Tjan, Kartika Yo, pada 2015 lalu. Dari fisik piringan hitam tersebut, tertulis judul lagu “Indonesia Raja”, dimainkan Popupair Orchest, dibuat di Inggris, dan ciptaan WR Soepratman.

Yo Kim Tjan merupakan seorang importir dan pedagang. Dia memiliki toko ritel bernama Toko Populair di Pasar Baru, Batavia. Dia juga masuk ke industri film pada awal 1940-an, mendirikan perusahaan film Populair’s Film. Selain itu, Yo memiliki usaha rekaman piringan hitam.

Menurut Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900-1950; Bikin Film di Jawa, berdasarkan kesaksian salah seorang aktor Populair’s Film, Raden Mochtar, perusahaan rekaman piringan hitam Yo merupakan perekam perdana lagu “Indonesia Raya.” Studi film Populair’s Film milik Yo sendiri menghasilkan Garoeda Mas (1940), Boedjoekan Iblis (1941), dan Moestika dari Djemar (1941), semuanya dibintangi Raden Mochtar.

Menurut Yampolsky, saat pertama kali beriklan pada akhir 1930, labelnya disebut Yokimtjan atau Yokimtjan Record. Namun, pada 1935, Yo mengubah nama labelnya menjadi Populair.

Japi Tambajong menulis, rekaman piringan hitam “Indonesia Raya” dengan vokal pada 1957 diserahkan oleh Yo kepada Djawatan Kebudajaan. Namun, setahun kemudian dinyatakan hilang.

Sedangkan Didi Kwartanada menyebutkan, rekaman versi vokal itu disita salah satu komposer Kusbini dan Maladi. Saat itu, Maladi masih menjadi pimpinan RRI, sebelum menjadi Menteri Penerangan pada 1959. Kusbini berkilah, meminjam rekaman itu demi kepentingan negara, berbekal surat Maladi.

“Kemudian hilang,” kata Didi.

Selain dua label milik peranakan Tionghoa tadi, Yampolsky menyebut label lain yang merekam lagu “Indonesia Raya”, yakni Ultraphon. Menariknya, Ultraphon merupakan label yang berdiri di Berlin, Jerman, pada 1929, dengan dibiayai Belanda.

Ada pula sebuah hal mengejutkan yang ditulis Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik Jilid I. Di dalam buku itu, Japi menyebutkan, ada rekaman instrumental “Indonesia Raya” yang dirilis pada 1927, setahun sebelum Kongres Pemuda II. Dalam Ensiklopedi Musik, Japi menjelaskan, keterangan itu didapatkan dari surat pembaca Kompas pada 1971 yang dikirim dari Hongkong.

Judul yang dicantumkan dilabel juga bukan “Indonesia Raya”, tapi “Indoness, Indoness.”

Sejarah rekaman lagu “Indonesia Raya” memang kontroversial. Sebagian lagi, masih diselimuti misteri. Namun, jangan sampai, artefak berharga instrumen “Indonesia Raya” label Yokimtjan yang sudah diamankan keluarga itu hilang seperti halnya versi vokal. Apalagi dihilangkan demi kepentingan pribadi. Celaka.