Akhirnya saya bebas dari belenggu bernama media sosial! Nafas jauh lebih enteng, seperti ada beban yang telah terangkat dari badan. Pikiran mendadak lebih jernih, tak disumpeki racun yang biasanya ditemukan di media sosial.

Saya pun berteriak sekencang-kencangnya merayakan kebebasan, menjadi manusia seutuhnya lagi. Cuk, akhire isok bebas!

***

Sebagai anak 90an yang separuh hidupnya terbiasa tanpa media sosial, hanya SMS-an untuk saling berhubungan dengan orang lain, saya selalu merindukan masa-masa di mana manusia masih belum kecanduan bermain handphone seperti sekarang.

Dulu, hanya segelintir orang yang punya gawai. Mereka perlu ke wartel untuk menghubungi kolega atau handai taulannya.

Pilihan lain adalah mengunjungi telepon umum yang berbayar dengan uang koin—yang tak bisa lama karena banyak antrian. Tak ada anak-anak terpaku di layar hape untuk memainkan Moba atau streaming YouTube, semuanya asyik maen PS atau permainan tradisional.

Masa-masa menyenangkan yang mungkin tak semua Generasi Z bisa rasakan.

Saya ingat pertama kali membuat Facebook ketika kelas satu SMP. Bukan karena ingin, tapi dorongan teman yang menanyakan, “Facebook-mu opo jenenge, su?!”

“Hah, Facebook? Panganan opo iku?” batin saya. Akhirnya saya mencari tahu dan belajar membuat akun kemudian menambahkan pertemanan ke beberapa akun kawan. Seketika saya terkena shock culture, ada keasyikan sendiri membuat status, membagikan kiriman atau foto, dan mengomentari status orang.

Di sana, fase kealayan abege jaman old mengekspresikan kegalauan pun tumbuh. Mbuh putus dari pacar sampek kasmaran, semuanya disebar. Jancuk, kalau dipikir kembali, betapa memalukan kelakuan saya waktu itu. Namun, dewasa ini teman-teman sudah jarang meramaikan Facebook, apalagi berita hoax kadang nongol di beranda.

Saya pun seketika punya niatan untuk melakukan sebuah therapy healing: sehari tanpa media sosial, baik Facebook, Intagram dan Whatsapp. Namun sialnya, semua informasi dan komunikasi berpindah ke media sosial. Nggak onok sing SMS-an fak! Podo kirim WA, hemat, apalagi kuota murah pol-polan nggak koyok mbiyen. Ditambah ada wifi gratis dari warkop. Top markotop!

Niat mulia itu kian jauh dari kenyataan. Apalagi, risiko dicari temen kuliah sampek diamuk dosen kalau off sedino ae. Durung pesan grup yang bakal menumpuk jika nggak dibuka, menambah rentetan alasan untuk puasa bermedsos harus ditunda dulu.

Baru ketika WhatsApp, Facebook, dan Instagram down servernya seharian, mimpi itu terwujud. Tampaknya Gusti Alloh mengijabah harapan saya. Wkwkwkwkw!

Maka dari itu, tak perlu takut lagi bila ada keperluan dari teman, toh semuanya terkendala. Medsos error nggak bejalan seperti biasanya. Saya jadi fokus ke aktivitas lain yang jauh lebih produktif, seperti membaca buku yang belum tamat atau menulis artikel.

Perasaan insecure yang bakal digoleki mendadak sirna. Hape pun bisa ditaruh sejenak dari kantong. Meski Twitter lolos dari masalah server down, kebetulan saya nggak aktif di sana, apalagi kalau menemukan ada debat kusir, saya mending menyingkir ketimbang ikut berkomentar. Huhuhu..

Memang sih YouTube dan game online masih lancar-lancar ae. Tapi yo bosen kalau sedino bleng mantengin hal itu. Nggak ada interaksi sosial karo manusia, semuanya menatap ke layar kaca. Dunia jadi semakin terasa sunyi tapi ramai dalam notifikasi.

Solusinya ya maen ke rumah kawan yang udah lama nggak ketemu. Bertanya kabar sambil ngomong-ngomong hal santai sembari membahas soal rencana masa depan. Tak ada lagi wajah menunduk, terpaku karo hapene dewe-dewe. Bangkek ngunu iku, lurd!

Dan, di tengah obrolan, teman saya mengambil hape dan menimbulkan tanda tanya besar.

“Loh koen nggak gawe VPN ta bos? Ojok ndesit-ndesit poo, ket mau arek-arek medsosan nggawe iku, cuk!” ungkapnya.

Anjer, kita gagal maning son! Puasa medsos kokcik angele shuuuu!