Kebiasaan fans Manchester United adalah mengejek fans Liverpool cuma sekumpulan pencinta sejarah. Tidak pernah menjuarai Liga Inggris sejak 1990 membuat fans Liverpool hanya bisa mengulang keunggulan dalam perolehan juara trofi Piala Eropa dibanding United.

Trofi Piala Eropa terakhir diraih pada 2005 atau 13 tahun silam. Trofi teranyar adalah Piala Liga pada 2012. Sisanya nihil.

Sementara itu, fans United bisa membanggakan capaian trofi terbaru mereka. Yakni, Piala UEFA dan Piala Liga 2017. Namun, Setan Merah absen menjuarai liga sejak 2013. Artinya, sudah lima tahun trofi Liga Inggris tak mampir ke lemari di Old Trafford.

Permasalahannya, situasi mulai berbalik saat ini. Sejak Alex Ferguson pensiun, tiga manajer datang dan tak satu pun memuaskan hasrat fans United untuk menambah trofi Liga Inggris ke-21. David Moyes, The Chosen One yang dipilih sendiri oleh Ferguson, gagal dengan tragis. Bahkan ia diusir sebelum musim Liga Inggris 2013-2014 berakhir dan digantikan manajer sementara, Ryan Giggs.

Musim itu, Manchester United terperosok di peringkat tujuh. Terburuk sepanjang Liga Primer Inggris digelar.

Penggantinya, Louis van Gaal, manajer asal Belanda yang sukses di Bayern Munchen, juga dianggap tak cukup pantas menangani United. Datang dengan formasi 3-5-2 membuat fans United merasa ada yang teringkari dalam tradisi formasi 4-4-2 yang dibawa Ferguson.

Fans United lupa, dengan formasi tiga bek, Belanda di bawah kepemimpinan Van Gaal menghancurkan tiki-taka Spanyol 5-1 dalam Piala Dunia 2014.

Van Gaal gagal menerapkan 3-5-2 di United dan malah berkutat dalam pencarian formasi yang tepat: 4-1-3-2, 4-4-2, 4-2-2-2, 4-1-4-1, hingga formasi favoritnya 4-1-3-2. “Sistem ini lebih atraktif dan saya bisa memainkan lebih banyak pemain bertipe menyerang,” katanya.

Problemnya: fans tak sepakat United sudah bermain cukup atraktif. Gaya sepak bola oper sana oper sini membuat fans bosan. Apalagi Van Gaal tak cukup mengesankan. Terlalu kalem jika dibandingkan dengan Ferguson di tepi lapangan.

Pemain mahal yang direkrut Van Gaal seperti Radamel Falcao, Marcus Rojo, Luke Shaw, Ander Herrera, dan Daley Blind tidak banyak membawa dampak. Angel Di Maria yang dibeli dengan banderol 59,7 juta pound dari Real Madrid dan memecahkan rekor di Inggris juga tak bertaji. Nomor punggung 7 yang legendaris terlalu berat untuk disandangnya. 

Van Gaal menangani United dua musim, 2014-2015 dan 2015-2016. Dia berhasil mendaratkan Piala FA, tapi dinilai gagal di kompetisi domestik. Dalam musim pertamanya, Van Gaal hanya memenangkan tiga di antara sepuluh pertandingan awal. Terburuk dalam sejarah United di Liga Primer.

United berada di peringkat keempat dalam klasemen akhir musim 2014-2015. Terpaut 17 angka dengan Chelsea yang berada di puncak. Musim berikutnya, United justru terperosok di peringkat kelima dan terpaut 15 angka dengan sang juara Leicester City.

Van Gaal keluar, Jose Mourinho masuk. Ini manajer yang sukses membawa Chelsea juara Liga Inggris tiga kali dan menghadirkan treble untuk Inter Milan di Liga Italia. Mourinho sukses mempersembahkan Piala Liga dan Piala UEFA pada musim pertamanya bersama United, 2016-2017. Namun terpaku di urutan kelima klasemen.

Musim 2017-2018, United menduduki posisi runner-up di bawah Manchester City.

Musim 2018-2019 adalah musim ketiga Mourinho. Ada fakta yang kemudian dimitoskan: dia hanya bertahan tiga musim bersama klub-klub sebelumnya dan pergi membawa kegagalan.

Hingga pekan ketiga, Man United tak bermain impresif: menang tipis 2-1 atas Leicester City di Old Trafford dan tertolong gol penalti Pogba. Kalah 2-3 di kandang Brighton Hove and Albion. Kemudian dicukur 0-3 oleh Tottenham Hotspur di kandang sendiri.

Setelah pekan ketiga, United berada di peringkat 13 dalam klasemen sementara. Musim sebelumnya, mereka berada di peringkat satu dengan mengemas tiga kemenangan. Kemerosotan luar biasa di bawah rezim Mourinho.

Mendadak Mourinho menjadi baper. Tak ada angin, tak ada hujan, ia menyerang Manajer Liverpool Jurgen Klopp saat jumpa pers setelah kekalahan dari Spurs.

“Dia tak pernah memenangkan sesuatu di level internasional,” kata Mourinho berang karena merasa disandingkan dengan Klopp yang sukses membawa Liverpool menyapu bersih tiga pertandingan awal musim 2018-2019.

Mourinho mendadak menjadi guru sejarah. Dia minta semua orang menghormatinya karena sudah memenangkan delapan gelar liga di Italia, Spanyol, dan Inggris. “Saya satu-satunya manajer di dunia yang menjadi juara di Italia, Spanyol, dan Inggris. Bukan gelar kecil atau negara kecil,” katanya.

Bagai guru sejarah SMA, Mourinho juga mendadak mengutip filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel. “Pernahkah Anda baca buku filsafat atau Anda tak pernah baca Hegel? Sebagai contoh, Hegel berkata kebenaran itu menyeluruh dan selalu dalam keseluruhan Anda menemukan kebenaran,” katanya.

“Anda tahu apa hasilnya? 3-0. Apa maknanya? (Skor) 3-0 bermakna juga tiga gelar Liga Primer dan saya memenanginya seorang diri dibanding 19 manajer Liga Inggris bersama-sama. Tiga untuk saya, dua untuk mereka. Respect. Respect,” ujar Mourinho, kemudian ngeloyor meninggalkan ruang jumpa pers diiringi tawa renyah wartawan.

Dua gelar manajer lain yang dimaksud adalah Pep Guardiola (juara musim 2017-2018) dan Manuel Pellegrini (juara musim 2013-2014).

Mourinho memang layak baper, terutama mengingat karakter fans Man United. Fans Setan Merah memang dikenal sebagai sekumpulan fans penggemar sejarah yang tak sabaran, jauh sebelum gelar itu mereka alihkan ke fans Liverpool.

Saat Alex Ferguson datang mengambil alih kursi manajer pada 1986, satu-satunya kenangan fans United tentang manajer hebat adalah Matt Busby. Bersama Matt Busby, United merebut trofil Piala Champions Eropa 1968 dan menjuarai Liga Inggris pada 1967.

Tiga tahun memimpin United, tak satu pun trofi dipersembahkan Ferguson. Fans United yang tak memahami bahwa sebuah dinasti sepak bola dibangun di atas proses panjang ramai-ramai meminta pelatih asal Glasgow itu pergi.

“Tiga tahun omong kosong dan tetap sampah, selamat tinggal Fergie”. Sebuah spanduk terbentang di Old Trafford.

United beruntung memiliki chairman seperti Martin Edwards yang tak mudah terprovokasi oleh ketidaktahuan fans United soal sepak bola. Dia percaya Ferguson akan berhasil. “Keinginannya menjungkalkan Liverpool dari sarang adalah ambisinya. Dia ingin menjadikan United nomor satu,” kata Edwards dalam buku Red Glory: Manchester United and Me.

Selama 27 tahun di Old Trafford, Ferguson berhasil membawa 13 gelar Liga Inggris dan membuat kombinasi gelar liga United sejak berdiri hingga saat ini mengalahkan Liverpool. Dia pensiun setelah misinya berhasil.

Jika dulu semua manajer United, termasuk Ferguson pada masa awal, dibandingkan dengan Busby, kini semua manajer berada di bawah bayang-bayang Ferguson. Jadi jangan salahkan Mourinho jika mendadak berubah menjadi guru sejarah. Dia beradaptasi dengan fans United yang tenggelam dalam pelajaran sejarah 20 gelar Liga Inggris dan nostalgia bersama Fergie.

Dengan kata lain, Mourinho ingin menjadi guru sejarah yang baik untuk fans United.

Direksi United juga sangat berbaik hati menggelontorkan sejumlah uang untuk merekrut pemain-pemain bintang. Total ada sepuluh pemain yang direkrut sejak 2016: Paul Pogba, Romelu Lukaku, Fred, Nemanja Matic, Henrikh Mkhitaryan, Eric Bailly, Victor Lindelof, Diego Dalot, Lee Grant, dan Alexis Sanchez.

Bersama pemain-pemain baru tersebut, Mourinho tentu harus dihormati sebagai guru sejarah di institusi bernama Manchester United. Dia sudah meminta itu: respect!