FILM Wiro Sableng tayang sudah. Kali ini saya tak ingin membahas soal teknis dan plot. Meski sudah digembar-gemborkan sudah standar 20th Century Fox, tapi saya tak ingin menaruh harapan besar-besar efek CGI-nya nanti seperti The Avengers atau The Lord of the Ring. Termasuk pula plotnya.

Sudah sejak lama saya sudah agak patah arang dengan pembuatan plot film Indonesia. Saya pernah nonton Gending Sriwijaya dan Pendekar Tongkat Emas. Ya memang film Indonesia rata-rata masih dalam taraf seperti itu.

Namun, yang saya bahas adalah karakter-karakter yang muncul. Para pecinta Wiro pasti kaget ketika melihat filmnya. Serangkaian villain yang muncul dalam sejumlah novel tiba-tiba saja ada, dan menjadi anak buah Mahesa Birawa. Sebut saja, Wirapati atau Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga; lalu Bagaspati atau Cambuk Api Angin; salah satu pentolan Partai Lembah Tengkorak Kala Hijau.

Setelah melihat teaser film setelah akhir kredit, saya baru ngeh. Adegan si Muka Bangkai meminta Pangeran Matahari untuk mencari Kitab Wasiat Iblis, membuat saya paham bahwa pembuat film ingin langsung meloncat ke episode Kitab Wasiat Iblis. Ke episode yang memang ceritanya bersambung. 

Para pecinta Wiro pasti tahu bahwa Bastian Tito, sang pengarang, memiliki dua fase penulisan jagoan bersenjatakan kapak maut itu. Ya, kira-kira seperti Marx muda dan Marx tua lah. Weitss…perbandingannya sangar.

Fase Bastian Tito muda itu dia membuat cerita novel Wiro terpisah, dan petualangan Wiro habis dalam satu novel saja. Untuk kemudian di cerita lain menghadapi penjahat yang berbeda.

Sedangkan setelah Kitab Wasiat Iblis, Bastian Tito tampaknya ingin membuat petualangan Wiro lebih panjang. Persis seperti Kho Ping Hoo membuat cerita serial Bu Kek Siansu. Ceritanya panjang, plot dan twist dibuat lebih banyak, dan lebih menjanjikan pengembangan kesaktian Wiro.

Jika pada Bastian Tito muda, Wiro digambarkan selalu menang setelah mentok-mentok mengeluarkan pukulan Sinar Matahari atau mengayunkan Kapak Maut Naga Geni 212. Minim ada pengembangan ilmu.

Pembuat script tampaknya ingin langsung menghadirkan banyak karakter di film pertama. Akibatnya fatal. Nyaris tidak ada pendalaman pada tiap karakter apa pun.

 

 

Namun, setelah Kitab Wasiat Iblis, ada pengembangan karakter dan kesaktian yang banyak. Bahkan, dikisahkan pula Sinto Gendeng mengalami krisis identitas, begitu pula kakek guru Wiro, Kyai Gede Tapa Pamungkas, pun sampai turun gunung. Wiro pun juga mendapat banyak ilmu baru dari pendekar tua macam-macam.

Tapi, poinnya adalah pembuat script tampaknya ingin langsung menghadirkan banyak karakter di film pertama. Menurut saya, akibatnya fatal. Nyaris tidak ada pendalaman pada tiap karakter apa pun.

Wirapati alias Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga dan Iblis Pencabut Sukma, misalnya. Mereka hanya muncul sebagai anak buah Mahesa Birawa, dan mati begitu saja.

Seharusnya bisa meniru film Jepang, Shinobi: Heart Under Blade. Film Jepang buatan 2015 itu menampilkan banyak karakter. Namun, film itu mampu menjaga kedalaman karakternya pada dua tokoh utama, Oboro dan Gennosuke saja.

Para petarung lainnya diberikan pendalaman seperlunya saja, dan itu ditunjukkan dalam adegan pertempurannya. Jadi, meski tokoh yang ditampilkan banyak, karakter film ini mampu menyedot emosi penonton.

Salah satu kekuatan yang membuat novel Wiro Sableng mendapat hati di banyak pembacanya adalah karakter-karakternya. Entah apakah mengadaptasi atau tidak, Bastian Tito ini membuat jagat Wiro seperti yang ada di Batman. Baik karakter protagonis dan antagonisnya mempunyai kegetiran hidup sendiri-sendiri.

Namun, jika jagat Batman terlihat suram dan murung, Wiro ini penuh kegilaan. Karakter-karakter yang ada di Wiro mempunyai katarsis berupa tingkah yang gila, sableng, dan becanda. Tapi, benang merahnya, semua karakter mempunyai pengalaman hidup yang getir.

Dan perbedaan antara protagonis dan antagonis adalah pilihan hidup trauma psikologis. Yang baik menjadi baik, yang jahat menjadi jahat.

Itu pula yang dimaknai dari filosofi 212. Yakni, dunia selalu dilingkupi oleh oposisi biner. Seperti dalam soundtrack Wiro yang lama, ”Angka 212 mempunyai makna di dalam kehidupan/dalam diri manusia terdapat dua unsur ingat duniawi dan tuhan/segala yang ada di dunia ini/terdiri atas dua bagian/yang berlainan namun merupakan pasangan/keduanya tak dapat dipisahkan/.

Hayo, bacanya sambil nyanyi ya pecinta Wiro ini!

Rupanya, pendalaman ini dilupakan oleh pembuat script. Yang hanya memasukkan banyak karakter namun minim pendalaman. Sehingga, greget dari musuh-musuh Wiro pun kurang.

Juga karakter Bidadari Angin Timur yang kurang pas digambarkan. Mendadak saja, dia seperti Ratu Elf Galadriel yang sudah penuh dengan kebijaksanaan. Padahal, dia adalah salah satu karakter yang paling banyak diceritakan, terutama dalam rangkaian cerita pasca terbitnya Kitab Wasiat Iblis.

Tentu saja, kami, para pecinta Wiro, akan kembali menonton sekuelnya. Terutama melihat penampilan sekilas Pangeran Matahari yang cukup menjanjikan. Tapi, ayolah, bikin script yang gak bolong-bolong. Jika diperlukan, carilah para pembaca Wiro garis keras, dan berkonsultasilah.