Setelah kelewat pulas dalam masa hiatus yang panjang, beberapa pekan silam Hecht kembali menyiarkan kabar bahwa mereka belum sepenuhnya mampus. Lewat sebuah klip video, mereka membocorkan sebuah repertoar anyar berjudul So We Walk Alone at Umeda Sky Building.

Lewat nomor barunya, kuartet post-rock tersebut menyematkan pola-pola visual yang bias lewat metafor perspektif mata kamera yang kabur nan buram.

Lewat konsep visual yang demikian, So We Walk Alone at Umeda Sky Building membangun ruang-ruang imajiner saya —yang tidak memiliki pengalaman empirik dengan Umeda Sky Building, sebuah bangunan tertinggi ke-9 di Jepang— menjadi terbatas dan berjarak.

Namun, lewat sudut pandang mata kamera yang kabur, mereka tengah membangun narasi yang serupa. Tentang memori imajinatif. Tentang perjalanan fiksional di beranda Umeda Sky, tapi terbatas ruang.

Semua footage dalam video klip tersebut direkam hanya lewat sebuah gawai. Selama dua tahun, mereka mengumpulkan fragmen demi fragmen yang kemudian dirangkai dalam video. Mereka juga menyematkan istilah yang lebih sering muncul di buku kimia daripada video klip. 

Hecht tak terjerembab pada kubangan post-rock klise—sok-sok Sigur Ros-esque. Mereka justru menawarkan sound yang kasar.

Seperti kata seorang pemikir Prancis, Jean Baudrillad, yang mencetuskan pernyataan, “Semua yang nyata kini menjadi simulasi. Begitu pula sebaliknya.”

Sejalan dengan itu, Hecht juga menikmati simulasi dari Umeda Sky yang seolah-olah nyata. Kemudian, simulasi tersebut diterjemahkan lewat sajian visual dan musik yang dirangkum di nomor teranyar mereka.

Tapi, secara musikalitas, mereka mengalami pendewasaan. Alih-alih terjerembab pada kubangan post-rock klise —sok-sok Sigur Ros-esque— Hecht justru menawarkan sound yang kasar, yang mereka semai lewat metode rekaman live. Napas-napas band post-rock Jepang seperti Toe, Nisennenmondai, serta Hammock kerap hidup pada nomor berdurasi lebih dari 8 menit tersebut.

So We Walk Alone at Umeda Sky Building membayar lunas masa-masa penantian panjang pendengar dan jaminan bahwa debut album Hecht layak ditunggu. Namun, kondisi long distance relationship antarpersonel menjadi penghalang proses kekaryaan mereka.

Akankah mereka menuntaskan debut albumnya tahun ini? Ataukah album mereka akan lahir saat orang-orang keburu lupa seperti band Surabaya lainnya?