Setelah sekian lama digembor-gemborkan dan ditunggu-tunggu, akhirnya film Wiro Sableng rilis sudah 30 Agustus kemarin. Animo masyarakat terhadap film ini pun cukup luar biasa. Saat tiket untuk penayangan premiere dijual pada 20 Agustus, banyak juga bioskop di Surabaya yang sudah kehabisan tiket dan merchandise officialnya.

Pada penayangan perdananya pun tidak sedikit yang hadir menggunakan kaos official Wiro Sableng. Ada juga yang malah sampe bikin semacam kaos komunitas Wiro Sableng juga. Bener-bener luar biasa lah niatnya.

Terus filmnya sendiri gimana?

Seperti dugaan, Angga Dwimas Sasongko sukses menyajikan tontonan yang cantik dan apik sepanjang film. Adegan pembukanya dirancang sedemikian rupa, dengan sangat dramatis dan bisa dibilang Hollywood-style banget.

Riasan yang diberikan pada Ruth Marini untuk menghadirkan Sinto Gendeng pun bisa dibilang memukau. Kalo sampe enggak bagus ya kebacut nemen se, moso dirias sampe hampir 8 jam hasilnya mbelgedhes.

Njaluk dikaploki jenenge tim make-up artistnya kalo sampe mbleset. Dipikir 8 jam itu bentar, bisa buat makan-boker 2 periode itu.

Special effect CGI yang dihadirkan dalam pertarungan pun ntaps jiwa. Sama sekali enggak keliatan murahan seperti film pendek yang dihadirkan salah satu televisi swasta yang suka mendadak muncul naga-nagaan dan elang-elangan.

Bisa dibilang bener-bener menunjukan kualitas artis Indonesia yang jauh diatas rata-rata. Enggak kalah lah ama film-filmnya Marvel Cinematic Universe gitu. Palingan cuma ada 1-2 adegan pertarungan saja yang sedikit nganu kualitas CGI-nya.

Sayangnya, special effect untuk hal-hal yang tidak terkait dengan pertarungan kualitasnya tidak seapik itu. Jadi ya berasa agak njomplang. Udah bahagia ngeliat efek berantem yang waow, lah kok pas bercanda di atas pohon kualitasnya malah cuma beberapa tingkat lebih apik dari ikan terbangnya salah satu televisi swasta. Sedih akutu ngeliatnya.

Pemilihan kostum juga digarap dengan baik. Sebut saja kostum yang dikenakan Marsha Timothy yang berperan sebagai Bidadari Angin Timur. Kostumnya sukses bisa bikin Marsha makin keliatan uayu, tapi juga tetep ngasi kesan kereng pas pegang pedang.

Kalo udah gitu sih enggak cuma Wiro aja yang bisa kesirep, laki-laki normal yang sik seneng ndelok wedok ayu ya minim ndrenges lah nek diketipi mbak’e.

Properti dalam film pun tidak mengecewakan sedikit pun. Selain kerajaan yang pasti tampak wah, penyajian pasar rakyat bisa dibilang sangat memuaskan. Yang cukup kocak dan brilian dari adegan di pasar rakyat sih pas rakyat lari tunggang langgang. Kok ya kepikir buat naruh orang lari sambil nggendong wedhus?

Dari segi naskah film, ada banyak referensi lokal yang diselipkan. Sebut saja penyebutan nama Syahrini, atau penyebutan salah satu kebiasaan Ahok dan Jokowi selama menjabat dalam pemerintahan.

Seakan tidak mau menghilangkan warna 90an, diselipkan pula joke lawas ala Warkop DKI. Enggak cuma itu aja sih. Ken-ken, pemeran Wiro Sableng pada seri sinetronnya di era 90an dulu juga hadir sebagai cameo.

Namun sayangnya, tidak sedikit juga penonton yang kecewa dengan film Wiro Sableng ini. Mereka rata-rata adalah orang-orang yang memang mengikuti cerita Wiro Sableng sedari dulu. Kekecewaan mereka tentunya dari segi jalan cerita film ini yang.. nguawur!

Lengkapnya, sila disimak pada tautan berikut.