Sepanjang sejarah dunia perhantuan tanah air, sekolah-sekolah di Indonesia selalu memiliki kisah yang menyeramkan. Dari bangunan bekas rumah sakit, bangunan di atas rawa, hingga bangunan eks era kolonial.

Tidak mengherankan jika sekolah selalu memiliki cerita mengenai sosok penjaga yang tak terlihat. Bangunan SMAN 2 Surabaya misalnya, tak luput dari kisah semacam itu.

Bangunan SMAN 2 sama halnya dengan tiga sekolah menengah atas lainnya. Keempatnya berada di satu gedung yang sama dan dibagi dalam empat sekolah negeri yang berbeda.

Ketika masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang bangunan ini memiliki beberapa tragedi kemanusiaan yang tidak sekalipun terukir dalam buku sejarah sekolah. Dan tragedi tersebut menyisakan bercak misteri yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Dalam beberapa cerita yang sudah terangkum, penampakan hantu dari serdadu Jepang adalah kisah yang paling populer. Kekejaman tentara Nippon masih terekam dengan jelas dalam ingatan kakek dari seorang kawan.

Seiring berjalannya, waktu kisah kekejaman itu menjadi sebuah warisan kisah yang cukup memiliki kengerian tersendiri.

Tubuh tegap serdadu itu tak berkepala

Pernah suatu ketika, seorang siswa hendak mengikuti kegiatan pendakian. Kebetulan saat itu dia peserta yang datang pertama kalinya. Lokasi pertemuan adalah di halaman tengah sekolah.

Siswa ini menyibukkan diri dengan memastikan lagi barang bawaannya. Tak lama kemudian ada satu orang temannya datang.

Mereka berdua saling memeriksa barang bawaan satu sama lain. Aman dan tak ada yang tertinggal. Karena ingin ke toilet keduanya bebarengan menuju kesana.

Dari dalam toilet keduanya mendengar hentakan langkah kaki seperti kegiatan baris berbaris dari halaman tengah. Mereka berdua menerka itu mungkin adalah anak-anak pasukan pengibar bendera yang barusan datang untuk berlatih.

Suara komando aba-aba yang khas dan lantang terdengar sampai ke toilet. Sedikit ada yang aneh dengan latihan hari ini. Derap langkahnya begitu tegas dan kencang, isyarat aba-aba pun samar terdengar bukan bahasa Indonesia.

Karena penasaran, mereka berdua bergegas untuk kembali lagi ke halaman tengah. Senyap. Mereka mendapati hanya ada mereka berdua disana dan tak ada seorang pun sama sekali.

Suara tadi padahal terdengar lantang. Mereka mencari sumber suara tadi hingga lapangan basket yang di depan. Hasilnya sama, nihil.

Mereka berdua terduduk lemas. Pandangan mereka kosong. Apa kau bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada pagi hari sekitar pukul delapan pagi? Mereka berdua tak perlu membayangkan.

Lain halnya dengan cerita yang bersumber dari eks penjaga kebun sekolah di sana. Waktu itu, dia sedang memonitor keadaan sekolah pada suatu malam. Adalah biasa bagi pak penjaga berjalan menyusuri koridor sekolah seorang diri.

Langkahnya diatur agak cepat, sebenarnya menepis datangnya perasaan takut yang begitu manusiawi.

Dalam langkahnya sayup terdengar suara langkah kaki dari balik punggungnya. Srek sreek.. Sedikitpun tak terbesit keinginan untuk menoleh. Karena pak penjaga paham betul, jika satu-satunya manusia yang ada di sekolah itu ketika malam datang hanya dirinya seorang.

Kepalanya menunduk, kedua bola matanya diarahkan pada lantai ubin sepanjang koridor. Kemudian dilihatnya sepasang sepatu hitam di sana. Langkahnya mendadak berhenti oleh sosok yang bisa dia tebak sebelumnya. Sama sekali tak ada keinginan untuk mengamatinya dengan cermat.

Namun, sesuatu yang tanpa disadari membuat kepalanya mendongak ke atas dengan sendirinya. Dia melihat tubuh tegap seorang serdadu tentara berpakaian lengkap. Baju seragamnya hampir dipenuhi bercak darah. Lengan bagian kirinya buntung. Dan dari leher serdadu tersebut darah tak henti mengucur deras. Sesekali muncratan darahnya mengenai wajah pak penjaga.

Satu hal yang juga disadari oleh pak penjaga, tubuh tegap serdadu itu tak berkepala. Konon, sebelum berakhirnya pendudukan tentara Nippon. Salah satu lokasi pembantaian tentara Jepang oleh masyarakat pribumi adalah di tempat ini. Ketika itu namanya masih Markas Batalion Rikugun.

***

Dia biasa dipanggil Henry. Orang-orang hanya tahu sepotong nama itu selain memang begitulah dia menyebut dirinya sendiri. Baginya sekolah ini adalah tempat dimana dia bisa memahami pentingnya persahabatan di masa sekolah. Bertahun silam dia mengenal sahabat-sahabatnya di sini.

Tak pelak jika masa sekolah adalah masa yang paling dinikmati olehnya. Lambat laun mereka semua memiliki kehidupan sendiri selepas masa sekolah. Saling mengejar mimpi dan membuktikan diri sebagai yang terbaik adalah masa-masa yang paling dirindukan olehnya.

Dia selalu meyakini jika semua yang sudah digariskan akan datang pada saatnya. Baik yang cepat maupun yang tepat.

Belakangan ini Henry bertemu kembali dengan para sahabatnya itu. Dia mengatakan jika dia tersenyum geli. Dilihatnya wajah mereka yang sudah mulai keriput akibat digerus oleh waktu itu nampak lucu. Mereka semua menua, katanya.

Henry yang malang, di saat temannya mulai menua dia sudah lebih dulu menjadi arwah yang masih berkutat di jalan raya depan sekolahnya, Jl. Wijaya Kusuma.

Semasa hidup, dia menuturkan ketika itu ia hendak menyeberang ke arah Jl. Pacar. Tiba-tiba dari arah selatan melacu mobil yang cukup kencang. Tubuhnya tertabrak dan terpental sejauh 10 meter. Melayang dan kemudian  menghantam keras di atas aspal.

Akibatnya dia tewas seketika di tempat.

Sebagian tulang kaki dan tangannya patah, sedang kepalanya remuk sebelah. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, bola mata sebelah kirinya tak pernah ditemukan.

Arwah Henry masih sering menempati lapangan basket luar, lokasi favorit katanya. Karena dulu di sana adalah tempat nongkrong bersama para sahabatnya. Hingga sekarang setiap beberapa tahun sekali.

Para sahabatnya itu masih menyempatkan untuk bertabur bunga serta melantunkan doa di lokasi tempat Henry tewas.   

Untuk kisah Henry, terima kasih yang tak terhingga kepada seorang kawan biadab. Panggil saja Buntal (nama sebenarnya) yang masih menjaga anugerah dari-Nya untuk berkomunikasi dengan mereka yang tak terlihat.

Intinya, di setiap tempat manapun di dunia ini. Setidaknya mengertilah bahwa mereka itu ada. Perasaan takut  adalah hal paling manusiawi dan mendasar.

Kejadian yang sudah tertulis ini masih secuil. Faktanya, kejadian lain di setiap bangunan kuno selalu memiliki sensasi kengerian tersendiri.