Membahas mantan sama halnya dengan rendaman cucian kotor yang kamu biarkan selama seminggu di kamar mandi. Sudah basi dan bikin muntah saja.

Tapi toh jokes dan bahasan soal mantan belum akan menunjukkan tanda-tanda berhenti. Malah kayaknya bakalan terus relevan. Termasuk salah satu guyonan atau ejekan satir atau ungkapan yang menyebut bahwa mantan adalah sampah.

“Ngapain ngurusin mantan, kan udah jadi sampah!”, “Buang aja, jangan diambil lagi, toh udah jadi sampah!” dst. dst.

Konotasinya kayak mantan itu bukan manusia. Kayak hina sekali. Pantas dibuang, diinjak, diremehkan, dan nggak perlu dipergunakan lagi. Padahal, kita semua adalah mantan, kita semua pernah jadi mantan. Rela nggak sih kalian dianggep sampah.Kita ini manusia lho, makhluk yang konon paling sempurna?

Tapi ya mungkin udah dari sononya sih mantan dianggap sampah. Maka dari itu, kayaknya kamu kudu berusaha agak sedikit lebih keras deh biar mantanmu nggak menganggapmu sampah. Cara berikut ini mungkin bisa kamu ikuti.

Relasi Terbaik Adalah Saat Mantan Bisa Jadi Kayak Sodara

Apa salahnya sih jadi mantan, toh pernah bersama juga, bareng-bareng dalam suka duka. Lantas, pas udah putus kok dianggap mantan? Taek nggak sih?

Nah, gini ini emang ribetnya. Mantan adalah mantan, bukan teman tapi juga bukan pacar. Satu-satunya hal yang paling masuk akal adalah mengubah hubungan permantanan menjadi hubungan persaudaraan.

Bukan kakak-adikan level tempe, lebih dari itu, tapi kakak-adikan dengan level kesadaran tertinggi, bahwa nanti tak bakalan ada yang baper atau cemburu, termasuk saat bersama pacar baru. Level kedewasaan tertinggi dalam dunia permantanan adalah saat mereka sudah bisa jadi saudara—secara alamiah.

Ceileh!

Kalau Mantan Menggapmu Sampah, Bisa Jadi Ada yang Belum Clear dari Hubunganmu

Kalau emang kamu males jadi kakak-adikan karena norak, siap-siaplah dianggap just mantan—alias  sampah. Tapi kalau harga dirimu sebagai manusia terusik dan nggak mau dianggap sampah, refleksikan kembali hubunganmu.

Logikanya, kamu nggak akan tega dianggap sampah kalau saat pacaran kamu baik, putusmu baik-baik, dan sesudah putus pun tetap melakukan hal baik. Sesimpel ini aja lho!

Bersihkan Diri, Daur Ulang Diri, Recycle Diri

Kalau kamu jelas-jelas dianggap sebagai sampah—nggak bakalan bisa diambil lagi karena busuk banget—kamu kayaknya perlu introspeksi. Terimalah kalau kamu memang sampah bagi mantanmu.

Tapi kamu tak boleh menerima kesampahan ini. Bersihkan  hati, daur ulang sikapmu, kalau perlu recycle saja dirimu. Perbaikan jelas bisa menyelamatkanmu dari status sampah yang nggak guna—dan seringnya dihindari pula!

Perlakukan Mantanmu Bukan Sebagai Sampah Juga

Kadangkala kita dianggap borok oleh orang lain karena kita menganggapnya borok juga. Sama halnya kayak mantan. Kalau kamu menganggap mantanmu sampah, jangan harap doi memandangmu lebih dari sekadar tai.

Mulailah berlaku baik. Sejahat-jahatnya mantan, doi tetep manusia. Maafkan, lepaskan. Semua manusia pasti punya salah, dan semua manusia yang salah tak berhak dianggap sampah. Taik kalau kamu koar-koar soal kemanusiaan tapi tetap menganggap mantan sebagai sampah. Kamu tahu kok itu salah.

Lebih Baik Dianggap Tak Ada Daripada Dianggap Sampah

Kalau kamu merasa level sampahmu di mata mantan sudah tak terobati, jangan biarkan dia menjadi toxic yang bisa merendahkanmu seenak udel. Dancok. Los ae, ngilango! Pura-pura nggak pernah kenal, blokir, hapus kontaknya!

Dia udah nggak menghargaimu, kok, lantas mau apa. Lebih baik dianggap tak pernah ada daripada dianggap sampah. It’s better been burn than fade away. Lebih baik matek, padam, daripada pudar sedikit demi sedikit.

Sek akeh arek di dunia ini yang bisa menganggapmu sebagai intan permata, dan dia yang menganggapmu sampah, tak lebih hanya sekadar memupuk tanah kebencian dalam hatinya, dan itu jelas tak bisa bikin bahagia.

Wehehe enak to?