Kita hidup di dunia di mana naik motor harus pakai helm dan kalau berani-berani motoran tanpa helm, siap-siap aja dicegat, ditilang, diperas, sampai disidang. Atau paling parah, jadi viral di internet, dipaido warganet, atau bisa juga mukamu nongol di acara 86.

Bukan society yang menganjurkan nggak boleh motoran tanpa helm. Tapi aturan dari kepolisian resor kota besar yang membuat kita otomatis akan mengambil helm kalau-kalau akan keluar ke jalan besar. Ini tentu bisa dimaklumi karena benar dan logis adanya.

Motoran tanpa helm berarti bisa menanggung risiko ndas benjut pas tibo, atau penyet kalau-kalau kena kecelakaan parah. Polisi sudah sedemikian mahfum bahwa kepala adalah organ paling penting dalam tubuh. Dan meskipun kamu nggak pakai sempak pas nyetir motor ya nggak masalah, asal pakai helm.

Karena itu, pengalaman kacrut ini jangan dijadikan pegangan hidup atau referensi biar bisa sok-sok-an savage. Kamu yang berniat thug life, sebaiknya coba hal lain saja. Jangan mencoba jadi CJ kayak di GTA San Andreas untuk masalah ini. Sekali lagi ini hanya sekadar pengalaman yang kebetulan aku alami, jadi jangan ditiru.

Aku juga nggak kepengen sok-sokan dalam hal ini. Aku bukan anak nakal, bukan anak mbetik nggak punya otak yang punya kenekatan seribu persen di jalanan. Perkara naik motor dari Surabaya ke perbatasan Malang tanpa helm ini juga bukan masalah berani atau tidak, tapi idiot atau tidak. Dan aku mengakui kalau aku agak idiot.

Cerita ini nyata, benar-benar terjadi, tanpa ada kebohongan apapun. Hanya saja beberapa nama dan lokasi sengaja disamarkan—biar nggak diparani Pak Pol. Cerita ini aku kirimkan ke Tim Riset DNK sebagai bahan penelitian.

Beberapa waktu lalu, teman sekampungku yang bernama Memen (sebut saja begitu), datang ke Surabaya karena suatu itikad bisnis agak kotor dengan kawan lamanya yang menjabat sebagai calon DPO. Si Memen lantas menghubungiku usai transaksi. Mengajak ngopi sekaligus berpikiran positif tentang hidup.

Aku tak keberatan, tapi saat itu aku mau pulang kampung. Rumahku di perbatasan Malang (aku tak akan menyebutnya di sini demi privasi), sementara rumah Memen juga tak jauh dari tempatku. Aku bilang ke Memen kalau akan pulang kampung. Memen pun menawariku nebeng, “Bareng aku ae!”

Aku, karena kebetulan sedang nggak ada motor sekaligus helmnya, bilang dengan baik-baik, “Aku nggak ada motor, nggak ada helm juga, aku akan naik bus aja,” jawabku. Tapi Memen seolah ngotot. Dia menjemputku di kosan, mengajak ngopi, lalu memaksaku pulang bersamanya.

“Ayo sama aku ae jancok payah!” ujarnya.

“Aku nggak bawa helm, Men!” jawabku.

“Gocik! Nggak usah! Trabas ae!” ujarnya ngegas.

“Bahaya goblok! Onok polisi!” jawabku ikut ngegas. “Mending kon anter aku ke perempatan depan ae, aku naik ojol ke Bungurasih,” jawabku.

Memen ngotot, aku ngotot. Akhirnya perdebatan ini melunak saat secangkir kopi datang. Kami lalu mengobrol selama dua jam, dengan Memen yang seperti lost control saat ketawa, lalu tibalah saat Memen mengajak pulang.

“Bareng aku ae!” ujarnya lagi.

“Yo, tapi nang perempatan ngarep ae,” jawabku.

Memen mengangguk.

Tapi setelah itu, Si Memen iki malah tancap gas sekencang-kencangnya dengan mengendarai matic besarnya (kamu tahu lah mereknya). Saat aku bilang berhenti, Memen pura-pura nggak dengar dan malah menyalip truk, mobil, truk lagi, mobil lagi, sampai tiba di Sepanjang, daerah yang aku nggak tahu itu masih Surabaya atau sudah masuk Sidoarjo atau hanya Surabaya coret. Mboh.

“Men, ada polisi biasanya di sini, Men! Jangan nekat asu jancok!” umpatku.

“Tenang ae, yang penting kita berdoa,” jawabnya.

Aku tak tahu apakah dalam doa yang diajar ustadzah kita sewaktu masih kecil ada doa khusus buat menghindari cegatan atau tilangan. Tapi Memen teguh pendirian. Seolah dia habis memakan jamur tahi kerbau atau gele dengan dosis berlebihan atau pil lele atau terbentur benda keras yang membuat syaraf otaknya mbledos.

Memen terus memacu kuda gemuknya. Sementara aku, dengan rambut pontang-panting terseret angin, seperti orang goblok karena tak memakai helm padahal semua pengendara memakai helm. Memen lanjut memberi sedikit pencerahan. Seperti Plato saja.

“Entar, pasti kau jumpai orang yang juga nggak pakai helm,” ujarnya.

Lalu aku melihat satu-dua orang nggak pakai helm.

“Jancok, iku warga sekitar! Biasane mereka iku dodolan ta opo ngono, wong kene dewe, terus budal nang warunge nggak nggawe helm!”

“Lah iyo, pasti kon nemu ngono iku nang tiap embong. Jadi ojok wedi, ojok parno. Meremo lek kon wedi!”

ASU!

Dan meskipun kamu nggak pakai sempak pas nyetir motor ya nggak masalah, asal pakai helm.

Lalu aku dan Memen sampai di perempatan Mastrip, arah ke Medaeng atau daerah apalah itu yang menuju ke arah Bungur. Truk-truk besar menyalip, Memen nggak mau kalah, dong! Memen langsung tancap gas, kebut nggak ngurus embong! Seolah melupakanku yang bodoh nang mburine.

Cah kontol.

Saat mendekati arah Bungurasih, aku merasa bahwa Memen sedang main prank. Dia sebenarnya akan mengantarku ke terminal. Tapi kok nggak mandeg-mandeg coooookkkkkkkkkkkkk! Akhirnya aku memutuskan akan melompat di pintu masuk Bungur, menghentikan kegilaan Memen. Tapi di belakangku truk gede!

Cok sempak!

Lalu motor besar babi ngepet Memen mulai mendesak, mendekati arah jembatan layang Waru. Jantungku berdegup kencang. Ini area polisi!

“Men nang endi? Serius kon!” umpatku.

“Westalah los ae! Manuto aku!” jawabnya.

“Cok ojok ngawur!” bentakku.

Memen lantas memberi beberapa alasan kenapa dia yakin dan berani membawaku ke arah perbatasan Malang, yang melewati Sidoarjo, tanpa helm. Pertama, polisi tak akan melakukan tilangan atau cegatan di jam-jam macet, jam-jam pulang kerja.

“Lek sampek onok polisi cegatan ta razia, iku nggarai tambah macet!” ujar Memen.

Kedua, kalau ada kemungkinan dicegat, di tengah kemacetan panjang mengular di Buduran, Memen yakin bisa kabur, dengan cara apapun. Termasuk melibas dan menghajar tepian jalan.

“Usahakan tetap berada di lajur kanan, karena polisi biasanya selalu ndekem di kiri,” ujarnya.

Ketiga, rapalkan doa-doa khusus. Hanya Memen yang tahu doa ini. Sebagai santri, dengan bokap yang merupakan tokoh NU, Memen yakin doa nggak akan mengkhianatinya.

“Ucapkan peng telu, allahuma (dan seterusnya), dan pasti nggak bakalan terjadi apa-apa,” ujarnya.

Keempat, hafalkan lokasi-lokasi kritis. Memen bilang kalau yang rawan adalah daerah jalan protokol utama Surabaya, kayak Ahmad Yani dan sebagainya, sampai jalan padat Sidoarjo, mulai Buduran sampai Candi.

“Makanya aku lewat Sepanjang, dan buanter gaspol pas lewat Buduran,” ujar Memen. “Selanjutnya, dari Jenggolo, ke Tanggulangin, sampai Porong, lanjut Pasuruan, pastilah aman!” tambahnya.

Yo wes pokoke gitu aja pengalamanku dengan Memen. Ojok wani-wani nyobak!

Ditulis oleh RB. Nama sengaja disamarkan.