Surabaya akhirnya mulai memasuki hari-hari berhujan. Yeees, gak gemrobyos maneh!!! Jare kaum-kaum embongan. Sayangnya, hujan yang membasahi Surabaya ini belum merata. Kadang di kulon kidul hujan, eh etan lor kebagian sumuknya tok.

Ibaratnya tuh awan Kumulonimbus (Cb) lagi cek ombak aja, ada nggak neeeh yang kangen ama guaaa?! Kalau banyak ya okeee, gue tinggal dulu biar kangennya nambah. Jual mahal dikitlaaah sama fans.

Cuk, nggak gitu. Ya sabarlah, namanya pancaroba, kan emang belum intens. Kayak gebetanmu itu lho, ngeladenin kamu ya cuma coba-coba. Asyik yo lanjut, gak enak yo ditinggal. Ekekekekek

Sementara itu, akhir tahun juga biasanya jadi bulan-bulan banyak acara. Mulai dari gigs, nikahan, sampai kampanye ala-ala, umum diadakan selama November-Desember. Kadang malah diperpanjang sampai Februari.

Dengan banyaknya agenda hajatan di musim hujan kayak gitu, menurut kalian, siapa yang paling diuntungkan, coba? Katering anti air? Payung tadah curian? Jas metal?

Ngawur kabeh! Sing bener, PAWANG HUJAN!

Lhah yak apa, siapa yang mau acara yang sudah susah-payah disiapkan sejak tiga-enam bulan sebelumnya, ndadak terganggu akibat rintik sendu yang bukan berasal dari kedua mata indahmu?

Kalian nggak tau kan, mumetnya mikiri cari dana dan ratusan kali revisi proposal serta desain selama jadi volunteer berbulan-bulan untuk acara outdoor sehari semalam yang sudahlah terancam nggak dibayar, eh riwayat gak payu pisan gara-gara udan?

Wes, aku tidak maido hujan, karena di Surabaya dengan sumber panas berasal dari kedekatan dengan pusat matahari dan cocote tonggo sing tokan-takon kapan lulus kapan rabi kapan manak, kehadiran hujan tentu bisa jadi penyejuk yang diingin-inginkan.

Akan tetapi, seperti yang kalian semua harus maklumi, hujan di saat yang tidak tepat tentu membawa kenesuan alih-alih rasa syukur. Ya tentu ini tidak berlaku untuk masyarakat +62 seperti Mbak Ika Natassa. Kan beliau senantiasa mensyukuri kehidupannya setiap melintasi “ketidakberuntungan” di tepi jalan.

Untungnya, thanks to leluhur kita yang sakti mantabjiwa, banyak trik untuk mengakali turunnya hujan agar hajatan yang sudah direncanakan tidak berantakan. Bahkan nggak perlu jadi pawang hujan handal pun, ada tips dan trik turun-temurun yang dipercayai bisa digunakan untuk “menego” hujan.

Yang perlu digarisbawahi adalah, ritual ini bukan untuk “menolak” atau “membatalkan” hujan, melainkan “memindahkan” awan hujan ke daerah lain untuk sementara, sampai hajatan selesai. Makanya, biasanya hujan justru turun sangat deras ketika acara rampung.

Kalau di Jepang ada “jimat” bernama teruterubozu yang katanya bisa berfungsi sebagai penangkal hujan dengan cara digantung pada ventilasi bangunan, orang Indonesia juga punya “jimat” sendiri, Rweeek.

Sate Lombok

Praktiknya, cabai alias lombok merah ditancepin di batang lidi. Konon, jumlahnya harus ganjil. Bisa tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Dalam satuan buah rek, guduk kilo. Ndasma a, moso nancepno lombok pitung kilo siji-siji. Legrek, Bos!

Lomboknya ini juga harus yang masih ada tangkainya, karena kalau yang udah gundul tuh enaknya buat disambel, apalagi tambah bawang, tomat, dan terasi. Nyammy!

Lho, salah fokus.

Intinya, “sate lombok” tadi ditancapkan di tanah halaman si empunya hajatan. Filosofinya sih, cabai bersifat panas, sehingga cocok digunakan untuk “mendatangkan panas”.

Tebar Lombok

Lain di Jawa, lain di Riau. Di sana ada ritual yang menggunakan cabai juga, tapi tidak ditusuk seperti sate. Cabai yang digunakan harus berjumlah tujuh, dan setiap cabai dipotong lagi menjadi tujuh bagian. 49 potongan cabai itu kemudian ditebar di atap rumah pemilik hajat, di atap tenda, dan di atap rumah tetangga yang berjarak kira-kira dua rumah.

Bagian tangkainya disimpan dan tidak boleh dibuang sebelum acara selesai. Selain itu, si pawang juga tidak boleh mandi selama acara digelar.

Ritual ini dilakukan sejak H-1 pukul sembilan pagi, karena menggerakkan awan hujan iki yo butuh waktu dan usaha, Rek. Panggahmu njaluk instin-instan ae!

Oh iya, bagaimana kalau tetangga tersebut keberatan dengan Anda menaburkan potongan cabai di atap rumah? Ya biarkan saja, kan Anda sedang punya hajatan, hanya Anda yang penting di dunia ini, yang lain ngontrak. Hahaha

Lempar Kempas

Ini salah satu cara paling terkenal yang banyak diketahui masyarakat Jawa sih. Nggak tau kenapa ya, sempak alias celana dalam itu kok sering jadi bagian dalam berbagai ritual mistis gitu lho. Mulai dari campuran kaldu makanan, pelet, sampai ya ini, menunda hujan.

Dalam ritual pemindahan hujan, sempak yang sudah dipakai (belum dicuci) milik si tuan rumah, dilemparkan ke atap rumah tempat hajatan. Nggak tau juga gimana penjelasan secara logisnya karena ya ini kan klenik gitu lho siapa butuh logika, Ya Tuhan.

Berdoa

Kata pawang hujan pribadi langganan DNK, kalau ingin memindahkan hujan, kita cukup berdoa saja. Nggak ada ritual khusus. Karena sesungguhnya begitu itu musyrik dan alam semesta ini hanyalah milik Allah. Jadi ya berdoa aja, Buooosss!

Sambil berdoa, tetep dong kudu bakar-bakar menyan dan dupa. Soalnya untuk melawan air, kita butuh api. Tapi untuk mencintaimu, harus menjadi aku.

Eh, salah catut kutipan. Maap, maap.

Terus nih, kita juga sebaiknya mengirimkan doa pada Syekh Abdul Qodir Jaelani, sebab beliau dikenal sebagai sosok yang memiliki karomah dekat dengan bangsa lelembut.

Saat berdoa, penting sekali bagi perapal untuk meyakini sepenuhnya bahwa ia adalah manusia yang diberi kelebihan oleh Gusti Allah untuk memimpin alam dunia ini, sebagai khalifah di bumi. Kalau masih ragu, berarti Anda perlu latihan lebih keras lagi. Sering-seringlah memotivasi diri dengan mencamkan tutur penyemangat ala Mario Teguh dan Tung Desem Waringin. Ye dikata mo beli rumah?

Namun, ada juga cara lain yang lebih ampuh yakni jika Anda kebetulan punya rezeki lebih atau rela menguras pengeluaran, sewalah pawang hujan profesional yang terbukti handal sehingga keberhasilan hajatan Anda tidak dipertaruhkan seperti kehidupan Anda yang penuh coba-coba tapi akhirnya gagal juga.