Di Surabaya, mencari tukang pijat dengan harga terjangkau tapi kualitasnya yahud memang butuh perjuangan khusus. Tukang pijat terkenal dan profesional biasanya harganya mahal ampun-ampunan. Kalau yang alakadar, pijatannya malah bikin boyok tambah remek dan jempol tambah keseleo.

Ini yang membuat saya muales get dengan urusan pijat-memijat. Mentok kalau bener-bener tertimpa hal apes kayak jatuh dari becak atau urat kecetit pas main PS, saya nggak bakalan pijat. Tapi ucapan salah satu rekan saya, membuat saya terbatuk-batuk saking benarnya.

“Motor aja perlu diservis, mosok awak nggak perlu?” ujarnya retoris.

Rekan saya yang sudah om-om ini kerjaannya memang full riwa-riwi, kurang tidur setiap saat—sampai nempel benda apapun saja bisa langsung modyar. Jadi, pijet menurutnya adalah cara menservis diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Sama halnya kayak menservis matic Beat bobrok punyanya.

Doi sih memang sudah punya langganan tukang pijat asal Sidoarjo. Dan konon, ada banyak mitos dari tukang pijat yang menggantungkan balsem dan mengurut sebagai satu-satunya pekerjaan ini.

Tarif tukang pijat ini sih memang seikhlasnya. Tapi biasanya orang-orang selalu memberi lebih dari 50 ribu—harga umum tukang pijat di Surabaya. Bahkan, kadang ada sampai yang ratusan ribu.

“Aku selalu ngasih 150, kalau aku lama banget, bisa sampai 200,” ujarnya. “Langgananku ini memang agak mistis, kalau mijet ada aji-ajian tertentu.”

Saya mendegut ludah. Bukan main medeninya. Tanpa memberitahu saya siapakah identitasnya, rekan saya bilang kalau pemijat satu ini ternyata sudah jadi langganan para pejabat. Pantas saja harganya mahal.

Soal kualitas, pemijat satu ini juga punya tenaga kuda. Gila-gilaan. Sampai Subuh pun dijabani. Sakwarase. Itu mungkin yang bikin dia harus pakai doping aji-ajian.

“Pernah kakiku mbenjol abis jatuh di motor karena ngantuk. Nggak bisa pakai pantofel buat kerja. Eh dipijet dari jam sebelas malem sampek subuh. Istirahat bentar tok mek rokokan Surya siji,” ujar kawan saya ini.

“Terus nggak sakit berarti?”

“Cok, matane. Keringetku sampek sak jagung-jagung. Njerat-njerit aku sak pedote. Tapi isuke sikil kempes, isok nggawe sepatu maneh,” ujarnya. “Awakmu lek mari dipijet wonge, rasane isok koyok bayi maneh!”

Saya tidak tahu apakah ucapan rekan saya ini sebuah hiperbola atau strategi marketing, yang pasti saya jadi tertarik untuk nyari tukang pijat langganan. Paling tidak yang bisa menservis badan saya sebulan sekali. Tentu saya nggak memakai jasa tukang pijat langganan rekan saya ini. Selain takut, tarif yang dipacak juga bikin dompet saya sungkan.

Saya pun lanjut berburu tukang pijet. Lewat Google, dan cara apapun yang memungkinkan.

Susahnya Nyari Tukang Pijat di Surabaya

Perburuan saya tentu dimulai dengan browsing-browsing tipis di Google, sebuah teknologi mutakhir yang selalu saya tuju saat banyak pertanyaan eksistensial mendera. Saya nembak cewek saja pernah pakai puisi nemu dari Google, nyari ATM terdekat tanpa tukang parkir juga di Google. Jadi wajar dong kalau saya nyari tukang pijat juga di sini.

Ndilalah jangkrik tenan, baru kali ini Google mengecewakan saya. Saat saya nyari tukang pijat di Surabaya—tentu saja dengan keyword apa adanya, sesopan mungkin—yang muncul kebanyakan malah penggerebekan tempat pijat esek-esek! Kalau nggak gitu, muncul beberapa rekomendasi tempat pijat yang direviewnya berisi paido. Entah karena mahal, terapis jutek, handuk boloten, dan lain sebagainya.

Payah!

Saya lantas menghubungi rekan saya yang lain. Kali ini seorang supir. Dia ini hobi mengelana dari satu kota ke kota yang lain. Jadi saya yakin dia bakalan bisa memberi tahu saya rekomendasi tukang pijat terbaik di Surabaya yang harganya nggak sampek ratusan.

Rekomendasinya pun awalnya mengarah pada hal-hal nggak nggenah yang jadi langganannya. Tapi setelah saya briefing lagi (“aku mek pengen pijet tok kok mas wkwkwkwk”) dia memberi rekomendasi lain yang setelah saya Google, justru banyak muncul di kanal berita online dengan tajuk “Tempat Pijat Legendaris Digerebek, Jual Esek-esek!”

Bangkai!

Lalu gimana cara pemula, anak rantau, anak kos, bau kencur, orang asing, pelancong, dan lain-lain yang baru banget di Surabaya dan pengen pijat mantap dengan harga yang mantap pula?

Karena sudah lelah, saya pun sambat ke Cak Mad, tukang aduk kopi langganan saya di salah satu warkop legendaris di area Surabaya Barat. Cak Mad, sambil ngemut Surya, langsung menanyai saya dengan tatapan curiga.

“Pijet opo arepan?” tanyanya.

“Pijet temenan, cak. Pegel!” jawab saya agak ketus.

“Oalah, iki lo mburine omah onok!” jawabnya. “Murah, minimal 50 ribu, full service, seluruh tubuh, sak ledehe, sak warase!”

“Seng temen, cak? Ojok ngawur sampean, mburine omahe sampean lak tukang se!”

“Isuk nukang, lek mbengi mijet. Mangkane tenogone pas ngurut roso tukang!”

Tanpa perlu menghabiskan kopi, saya langsung meluncur ke lokasi. Seorang bapak-bapak tua, beruban putih, dengan singlet dan celana 3/4, sedang khusyuk menikmati sebatang kretek di depan rumahnya. Seorang bapak yang sampai saat ini akhirnya jadi langganan tetap saya kalau sedang remek.

“Ngerti aku teko Cak Mad, yo?” ujar Si Bapak Tukang Pijat ini.

“Enggeh, Cak. Kok ngerti?” tanya saya.

“Yoiyo lah wong deke konco plekku!” jawabnya sambil terbahak-bahak, lalu kembali mengurut punggung saya dengan nafas dalam-dalam. Hhhmmpphh. Dan bunyi gemeratak pun membuat saya agak sedikit ngiler di bantalnya.