DNK

Balada Perantauan, Kangen Jumatan di Kampung Halaman

Balada Perantauan, Kangen Jumatan di Kampung Halaman

Libur panjang selalu menyenangkan bagi kaum urban. Sesudah sekian lama kelayapan cari ilmu atau rejeki di kota, pulang ke kampung halaman bisa jadi membawamu kembali bernostalgia di tempat di mana awakdewe bermula. Kalau di kota rantau kamu sendirian dan always feel lonely, di kampung halaman kamu akan ditemani keluarga dan warga yang guyub.

Ini sudah jelas memengaruhi kebiasaanmu. Kalau kamu ancen areke tambeng, nggak tau sarapan, jarang adus, lali shalat tawerus, di kampung halaman segalanya bisa berbanding terbalik. Nggak sebebas di kota, di kampung kamu pasti dirasani tonggo, dielengo emak-bapak, jadi ya hidupmu bakalan lebih teratur.

Mangkane talah, seng ngekos, seng ngontrak nang Suroboyo ta Jakarta, sempat-sempatno moleh. Mboh nang Jombang, Kediri, Malang, Pasuruan, Tulungangung, intine yo ben nggak lali nang asale awakdewe, ambek tombo kangen.

Mosok nggak kangen ambek omah?

Nah, bicara kangen, segala hal tentang kampung halaman memang ciamik kalau diingat-ingat. Bicara nostalgia remeh temehnya nanti saja, karena sekarang hari Jumat, lebih baik kita sebagai anak rantau membahas berjuta kerinduan akan Jumatan di kampung halaman.

Tak ada rindu kalau sudah ada pengganti. Tapi karena Jumatan di kampung halaman tak akan pernah tergantikan, maka tak ada satupun di kota rantau yang bisa mengobati kerinduannya. Berikut beberapa hal yang sejatinya membuatmu rindu; hal-hal yang nggak bakal kamu jumpai di kota rantau saat Jumatan.

Budal Bareng Keluarga

Nggak ada lagi yang namanya jek molor pas Jumatan karena pasti, "tong Jumatan tong wes awan! Tangi tangi!" Hadeuh!

Tinggal di tanah rantau kadang membuat awakdewe sak enaknya sendiri, bahkan melupakan kewajiban Jumatan. Nah, kalau ada support system keluarga di kampung, jadi sungkan dong kalau sak enake dewe. Atau kalau nggak sungkan ya males diceramahi.

Akhirnya kamu akan budal Jumatan, bareng-bareng. Dengan bapak, mbah, atau adek. Hal ini nggak akan pernah kita jumpai pas Jumatan di tanah rantau—kecuali lek wes rabi.

Ketemu Konco Lawas

Berada di tanah rantau mungkin membuat kamu jarang bertemu teman masa kecil—yang dulu sempat bersama-sama setiap hari, nyolong pencit, petak umpet, sampai saling dukung dalam kontestasi perebutan kembang desa.

Jumatan di kampung halaman bisa membuat pertemuan itu kembali dengan senatural mungkin. Kamu nggak usah canggung kalau ingin berkunjung atau mengontaknya. Datang saja pas Jumatan, duduk di tempat di mana kamu dan sobatmu biasanya duduk, dan reuni yang hangat dan mententramkan akan terjadi.

Merasakan Kehangatan Masa Kecil

Berada dalam masjid kampung halaman tempat di mana kamu menghabiskan lebih dari separuh hidup di sana sebelum akhirnya merantau nggolek rejeki nang kota akan selalu menyimpan lamunan tentang kerinduan.

Dalam kondisi damai masjid, kamu bisa saja melamunkan hal melankolis, misal bagaimana kisah cinta monyetmu berakhir epik di kota kelahiranmu. Kamu juga bisa tanpa sadar mengingat masa kecilmu; yang diisi wajah-wajah sosok yang tak asing yang bertebaran di dalam masjid.

Mampir di Warung Langganan

Selain membawa momen nostalgic akan masa kecil dan perkawanan, Jumatan juga akan membawa nostalgia akan warung rujak, pecel, atau tahu campur di warung favorit kita—yang selalu kita hampiri untuk makan siang sepulang Jumatan.

Makanan di rantau kebanyakan Indomie dan hal lain yang nggak pernah terlalu membekas. Di kampung halaman, kamu bisa memuaskan memorimu akan rasa, membuatmu kembali berpikir ulang soal mencari rejeki di tanah rantau: nggak mending mbalik nang kene ae ta?

Makan Siang Sambal Bikinan Emak

Selain opsi warungan, kamu juga bisa menikmati makanan authentic bikinan emak yang konon katanya, paling yahud dinikmati sehabis Jumatan. Kalau di rantau, bosok, jangankan makan siang, luwe nemen awan-awan paling mangan pentol.

Tapi mitos yang mengatakan bahwa yang menyebut lek seng lanang Jumatan, seng wedok nggawekno mangan mungkin adalah kenikmatan yang hanya bisa terasa sempurna kalau terjadi di kampung halaman.

Awakdewe iki koyoke kudu pulang kampung rutin ben iso nemu momen syedep ngene iki.