DNK

Beragam Jenis Manusia Remek Dilihat dari Pola Mbangkong Akhir Pekan

Beragam Jenis Manusia Remek Dilihat dari Pola Mbangkong Akhir Pekan

Senin sampai Jumat adalah tragedi. Sabtu dan Minggu adalah euforia. Setidaknya itu yang seringkali bakalan kamu alami, sebagai apapun di dunia ini.

Kamu yang masih mahasiswa akan menalar bab demi bab atau menggerus skripsi saat weekdays. Atau bagi yang udah gawe, weekdays adalah nine to five dihantui boyok remek, pikir sumpek, dan gulu kenger.

Maka dari itu, weekend selalu jadi waktu terbaik saat weekdays selalu saja nggateli. Saat dunia sudah sebegitu cepatnya, weekend seolah otomatis membuat awakdewe mandeg, jegleg, dan ambekan barang sejenak.

Dan tentu saja, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan memaksimalkan waktu bobok cantik.

Bayangkan, berapa waktu tidurmu yang terbuang hanya gara-gara lembur deadline, revisian nggatel taek asu, kerjaan numpuk, dan kondisi sumpek pol lainnya. Atau kalau kamu bisa bobok, sudahkah kamu nyenyak? Sudahkah bisa lelap tanpa mimpi dan deg-degan takut nggak bisa bangun pas alarm bunyi?

Tentu tiap orang punya tingkat kebutuhan tidur yang berbeda. Penelitian juga menyebut, keseringan balas dendam dengan tidur esktra lama di akhir pekan punya dampak buruk bagi kesehatan. Tapi yaopo maneh, lah wong remek.

Maka, anggap saja pembahasan recehan kali ini adalah tribute khusus untuk orang remek. Bagaimana pola tidur mereka—dan mungkin termasuk kamu—di saat weekend tiba. Masih sama dengan Senin-Jumat kah, atau sudah di luar kendali?

Berikut kami paparkan beberapa di antaranya. Buat nambah wawasan dan memperluas perspektifmu soal khazanah per-ngeboan.

Tim Mbangkong Full Time

Tidur saat Senin-Jumat tak pernah betul-betul memuaskan. Delapan jam sehari sebagai waktu bobok cantik ideal bisa saja dipangkas, jadi lima, empat, tiga, dua, satu, atau bahkan ngerasa bobok begitu bentarnya, tahu-tahu kudu bangun. Ini bisa akibat kerjaan, atau nggak bisa bagi waktu.

Alarm pagi tahu-tahu udah bunyi. Snooze sampai lowbat. Begitu terus sampai kamu berjumpa Sabtu dan Minggu pagi yang selow. Aduh mantap. Matiin alarm. Pasang selimut. Tidurlah seharian. Bobok malam bangun malamnya lagi. Kamu sudah bekerja keras, my friends. Mbangkonglah, hibernasilah.

Mbangkong Part Time

Ini tak seekstrem hibernasi di atas, tapi gelagatnya juga sama saja. Part time sleeper biasanya punya daya tahan tidur mentok nggak sampai setengah hari. Tidur malam, bangun siang jelang sore. Daya tahan mbangkong mereka lumayan expert, tapi belum sampai level legend.

Biasanya pas weekend, mbangkongers expert ini akan bangun tepat di acara One Stop Football-nya Trans 7. Lalu bikin Indomie sambil masih pake boxer, mata kecut, sarapan disambil nonton preview atau gol-gol cantik hasil Super Saturday EPL.

Mangan Turu Ngeseng Repeat

Sebagian besar populasi mungkin lebih doyan menjalani pola hidup weekend seperti ini. Tangi isuk, sarapan pecel iwak endog, liat Doraemon Sinchan bentar, tidur lagi. Agak siangan, ngecek Instagram disambi makan siang, turu maneh.

Kebelet ngeseng, tangi. Lanjut mangan maneh, ngebo maneh—atau golar-goler. Nggak ada kata mandi di kamus para mbangkongers. Apapun intinya hanya tidur, merem, nyetting mimpi, membayangkan kalau hari Senin nggak pernah ada.

Turu Isuk Melek Bengi

Pasukan mbangkongers have-fun yang punya rutinitas sendiri selain bobok. Kita sebut satu-persatu, biasanya di malam jelang weekend mereka akan main PES 2013, ngopi sampai subuh, ngoper sloki, karaoke, jelajah malam, berburu kodok, atau ngapeli si areknya.

Lalu keesokan harinya saat mentari mulai menyala di ufuk, bersemayamlah mereka dalam lindungan selimut menutupi kasur yang lembab, mbangkong melawan matahari, dan baru akan melek waktu adzan maghrib—untuk mulai bersiap pesta sekali lagi, sebelum hari berganti dan pekerjaan menampol pundak lagi.

Wes ta mocone? Istirahato wes, kesehatanmu lho..